Thursday, March 7, 2019

Rojab Bulan yang Mulia


AlchamduliLLaah, segala puji hanya milik ALLooh SWT. Saat kita telah memasuki awal bulan Rojab 1440. Rojab adalah salah satu bulan istimewa dalam kalender islami. Kata Rojab berasal dari kata at-tarjib, yang berarti “penghormatan” (at-ta’dzhim). Barangkali rahasia penamaan ini karena orang-orang Arab mengkhususkannya dengan berbagai penghormatan.

Beribadah di bulan Rojab memberikan pahala yang sangat besar, terutama dengan berpuasa serta beristighfar dan bertaubat dari dosa-dosa. Dan malam pertsama bulan Rojab merupakan malam yang istimewa, sebab doa sangat besar kemungkinan diterimanya di malam ini. RosuuluLLooh SAW bersabda:
“Ada lima malam ketika doa di malam-malam itu tidak ditolak: malam pertama bulan Rojab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam ‘Idul  Fithri, dan malam nahar (‘Idul Adcha).”

Bulan Rojab merupakan awal rangkaian tiga bulan yang istimewa dan mulia, yaitu Rojab, Sya’ban dan Romadhon. Hadits mengenai keutamaan ketiga bulan ini pun cukup banyak. Di antaranya RosuuluLLooh SAW bersabda:
“Sesungguhnya Rojab adalah bulan ALLooh. Adapun Sya’ban itu adalah bulanku, sedang Romadhon adalah bulan ummatku.”

Dengan memasui bulan Rojab, berarti saat-saat kedatangan bulan Romadhon semakin dekat. Agar nantinya kita dapat memanfaatkan bulan suci itu dengan sebaik-baiknya dengan memperbanyak ibadah, persiapannya mesti dilakukan sejak jauh-jauh hari sebelumnya, khususnya ketika memasuki bulan Rojab. Salah satu caranya adalah dengan menyucikan diri dengan banyak beristighfar, memohon ampun kepada ALLooh. Dan bulan Rojab memang salah satu saat yang terbaik untuk banyak beristighfar.

Bertaubat dan memohon ampun memiliki berbagai manfaat dan keutamaan. Salah satunya adalah memudahkan rizqi, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, “Banyak memohon ampun dapat menarik (mendatangkan) rizqi.”
ALLooh SWT berfirman:
“Mohonlah ampunan kepada ALLooh. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan kepadamu hujan, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” [QS. Nuh: 10-12]

RosuuluLLooh SAW juga bersabda:
“Perbanyaklah istighfar oleh kalian, karena barangsiapa membanyakkannya, ALLooh akan memberinya kelapangan dari setiap kedukaan dan kesedihan serta menganugerahinya rizqi yang tak disangka-sangka.”

Di antara doa yang sangat baik untuk kita amalkan sepanjang bulan Rojab adalah doa singkat berikut:
“ALLoohumma baarik lanaa fii Rojaba wa Sya’ban wa ballighnaa Romadhon.”
“Yaa ALLooh, berilah keberkahan kepada kami di bulan Rojab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Romadhon.”

Rojab Bulan yang Mengandung Peristiwa Besar
Secara etimologis, Rojab mengandung makna “kebesaran” atau “kemuliaan”. Bulan Rojab berarti bulan yang mengandung peristiwa besar, dan sangat dimuliakan. Tak hanya masyarakat Arab pasca-Islam yang menamai bulan ini Rojab. Zaman sebelum Islam diturunkan, masyarakat jahiliyah telah menamai bulan ini dengan nama itu. Mereka memuliakan bulan ini dengan mengharamkan peperangan atau pertumpahan darah. RosuuluLLooh SAW pun kemudian menetapkan kebiasaan tersebut. Beliau mengharamkan pertumpahan darah di Bulan Rojab.

Keutamaan Rojab termasuk dalam keumuman fadhilah bulan-bulan haram (Asyhurul Hurum), sebagaima firman ALLooh SWT, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi ALLooh adalah dua belas bulan, dalam ketetapan  ALLooh di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya ALLooh beserta orang-orang yang bertaqwa”. [QS. At-Taubah: 36]

Perincian empat bulan ini disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhooriy dan Imam Muslim, yakni tiga bulan yang berurutan (Dzulqo’dah, Dzulchijjah dan Mucharrom), dan satu bulan terpisah, yakni Rojab, yang terletak di antara bulan Jumaadil Akhir dan Sya’ban.

Bulan Rojab mengingatkan kita pada peristiwa-peristiwa bersejarah. Di antaranya hijrah pertama dalam sejarah Islam, peristiwa Perang Tabuk, peristiwa Isro’ dan Mi’roj, dan kelahiran ulama besar Al Imam Asy-Syaafi’i.

Amaliyah di Bulan Rojab
Selain sebagai bulan ALLooh, sebagaimana disabdakan RosuuluLLooh, ulama juga menyebut Rojab sebagai bulan taubat atau bulan istighfar. Terutama pada malam pertama bulan Rojab, yang disebut-disebut RosuuluLLooh sebagai malam ketika doa tidak akan tertolak.

Beliau SAW bersabda: “Ada lima malam yang jika digunakan untu berdoa tidak akan tertolak: malam pertama bulan Rojab, malam pertengahan bulan (nishfu) Sya’ban, malam Jum’at, malam Idul Fitri dan malam Idul Adha.” [Imam Suyuthi dalam Al-Jami’ menyebutkan hadits tersebut riwayat Ibnu Asakir dari Umamah RA]

Bacaan terbaik di bulan Rojab adalah Sayyidul Istighfar, penghulu doa permohonan ampunan, atau doa-doa permohonan ampunan, atau doa-doa taubat yang lain yang banyak terdapat dalam Al-Qur’an. Baik juga membaca doa-doa permohonan ampunan yang diajarkan para sahabat Nabi dan ulama salaf yang terdapat dalam kitab-kitab mu’tabar. Biasanya para ulama yang mengajarkan doa-doa taubat juga menerangkan keutamaannya. Syaikh Abdul Hamid Al Qudsi, seorang ulama yang mengajar di Masjidil Haram, misalnya, dalam kitabnya, Kanzun Najah was Surur menjelaskan, bahwa Imam Wahbn bin Munabbih berkata: “Barangsiapa membaca ‘ALLoohummghfir liy warchamniy wa tub’alayya’ (Yaa ALLooh ampunilah hamba, sayangi hamba, dan terimalah taubat hamba) tujuh puluh kali pagi dan sore, tubuhnya tidak akan tersentuh api neraka.”

Amaliyah lain yang dianjurkan di bulan Rojab adalah berpuasa. Paling sedikit satu hari, yakni di hari pertama. Puasa dalam bulan Rojab hukumnya sunnah. RosuuluLLooh SAW bersabda:
“Berpuasalah kalian pada bulan-bulan haram atau tinggalkan (puasa).” [HR. Imam Abu Daawud, Imam Ibnu Maajah dan Imam Achmad]

Sedangkan kita sudah mengetahui bahwa Rojab termasuk bulan-bulan haram (Asyhurul Hurum). Maka hadits tersebut di atas secara umum juga menunjukkan kesunnahan puasa di bulan Rojab.

Diriwayatkan pula dari Sayyidina Abu Qilabah, seorang pembesar Tabi’in, beliau berkata: “Di surge terdapat sebuah istana yang diperuntukkan bagi orang-orang yang puasa di bulan Rojab.”

Maka dari itu tersebutlah beberapa ulama salaf yang melakukan puasa Rojab sebulan penuh seperti Imam AbduLLooh bin Umar, Sayyidina Hasan Al Bashri, Imam Abu Ishaqq As-Sabi’iy dan lainnya.

Lain lagi dengan Imam Achmad bin Hambal dan Imam Yahya bin Sa’id Al Anshori beliau tidak menyukai berpuasa sebulan penuh dalam Rojab karena ada keterangan dari Sahabat AbduLLooh bin Abbas bahwa beliau tidak senang jika Rojab dipakai puasa sebelun penuh. Oleh karenanya untuk menghindari hal tersebut, kata Imam Achmad bin Hambal: “Hendaknya seseorang berpuasa satu atau dua hari di bulan Rojab.”

Hal ini rupanya sejalan dengan pendapat Imam Asy-Syafi’I, beliau berkata: “Aku tidak suka jika seseorang berpuasa sebulan penuh seperti dia berpuasa Romadhon. Alasannya adalah jangan sampai perbuatannya tadi diikuti oleh masyarakat awam (yang jahil) sehingga dikhawatirkan mereka akan menyangka bahwa hal itu hukumnya wajib. Dan akan hilang kemakruhan mengkhususkan Rojab dengan puasa tersebut, jika digabung dengan puasa sunnah lainnya, seperti berpuasa Rojab sebulan penuh dan dilanjutkan dengan puasa Sya’ban. (maka yang demiki tidaklah makruh)”.

Hadits lainnya diriwayatkan Imam Nasaa’I dan Imam Abu Daawud, yang dishohihan oleh Imam Ibnu Huzaimah. Sayyidina Usamah berkata pada Nabi SAW, “Wahai RosuuluLLooh, saya tak melihat Baginda melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang dalam bulan Sya’ban.”
RosuuluLLooh menjawab, “Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rojab dan Romadhon yang dilupakan oleh kebanyakan orang.”

Menurut Imam Asy-Syaukani, dalam kitab Naylul Authar bab Puasa Sunnah, ungkapan Nabi, “Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rojab dan Romadhon yang sering dilupakan kebanyakan orang” itu secara tersirat menunjukkan, pada bulan Rojab juga disunnahkan melakukan puasa.

WALLOOHU A’LAM BISH SHOWAAB




Thursday, February 28, 2019

Khomr dan Judi Haram


Hasil gambar untuk Khamar dan Judi HaramIslam adalah agama yang tidak hanya menuntun kepada kita tentang hubungan antar  hamba dengan Penciptanya saja, tetapi juga menuntun tata cara hubungan antar hamba dengan makhluk yang lain. Tidak hanya memberi tuntunan sampai di sini saja, bahkan memberi tuntunan pula cara menjaga diri dari zat-zat yang masuk ke dalam tubuh, dengan kata lain cara memilih makan dan minuman pun ada tata kramanya dalam Islam.

Makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh mempunyai pengaruh yang besar sekali, baik terhadap pertumbuhan jasmani maupun perkembangan rohani. Makanan dan minuman yang halal jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang diharamkan, ini merupakan kemurahan ALLooh. Dengan adanya tanda-tanda halal dan haram menunjukkan bahwa ALLooh amat saying kepada hambanya, tetapi banyak manusia yang menyangka bahwa Islam merupakan agama yang terlalu membatasi. Kelompok yang berpaham demikian menunjukkan bahwa ia belum banyak mendapat informasi tentang apa sebenarnya Islam itu.

Sehubungan dengan masalah tersebut di atas, maka dalam edisi kali ini kami akan membahas tentang minuman keras dan berjudi. Adapun sebagai dasarnya adalah firman ALLooh SWT dalam surah Al-Maaidah ayat 90-91:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khomr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khomr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingati ALLooh dan sembayang, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).”

Dalam kenyataan di lapangan sering terjadi pada pemain judi dan peminum minuman keras sering bermusuhan dan berkelahi pada akhir pertemuan mereka. Kejadian yang demikian ini ditimbulkan oleh kesadaran mereka yang menurun. Penurunan kesadaran mereka karena serangan alcohol pada sel-sel otak. Sedang pada pemain judi penurunan kesadaran itu karena emosi kawan-kawan lain yang merasa tereksploitir dengan kekalahannya dalam berjudi. Situasi demikian itulah yang sering membawa kepada pertikaian. Oleh karena itu, kedua perbuatan tersebut dapat membawa pula akibat lupa kepada ALLooh dan sholat.

Arti lupa kepada ALLooh mempunyai makna yang luas sekali, yang mestinya dia harus berbuat baik kepada keluarga dan tetangga sebagaimana diperintahkan oleh ALLooh, namun yang terjadi justru sebaliknya, dia bentrok dengan sang istri, anak jadi terlantar pendidikannya, tetangga menjadi terganggu keamanannya dan bahkan membencinya.

Buat kita yang beriman apapun yang terjadi, kalau itu larangan ALLooh tetap harus ditinggalkan, sambil kita tetap yakin bahwa apa yang dilarang oleh ALLooh pasti mengandung kejelekan, dan apa yang diperintahkan oleh ALLooh pasti mengandung kebaikan. Di sinilah hikmah dan nikmatnya beragama Islam.

Larangan meminum minuman keras itu jelas sekali termaktub dalam Al-Qur’an di samping terdapat penjelasan dari Nabi SAW sebagaimana berikut:
“Tiap-tiap yang memabukkan berarti khomr (minuman keras) dan tiap khomr adalah haram.”

Dengan batasan dari Nabi ini mungkin ada yang berpendapat, bahwa apabila cara meminum minuman keras tersebut dapat membatasi diri tidak sampai mabuk, maka tidak haram. Tapi awas, marilah kita perhatikan pula sabda RosuuluLLooh SAW yang lain yang telah diriwayatkan oleh Imam Achmad, Imam Abu Daawud, dan Imam Tirmidziy:
“Minuman apapun yang dalam jumlah banyak memabukkan, maka meskipun sedikit tetap haram.”

Jadi, sangat jelas dengan hadits tersebut, bahwa minuman apapun jika diminum dalam jumlah banyak dapat mengakibatkan mabuk, artinya zat minuman tersebut memang tergolong khomr, maka meminum dalam jumlah sedikit pun (tidak sampai mabuk), tetap juga hukumnya haram.

Selanjutnya bagaimana bila ada pertanyaan: “Jika minuman keras itu dipakai sebagai obat,” dengan tegas pertanyaan ini dapat dijawab dengan hadits RosuuluLLooh SAW:
“Khomr itu bukan obat, akan tetapi penyakit.” [HR. Imam Muslim, Imam Achmad, Imam Abu Daawud dan Imam Tirmidziy]

Jadi jelaslah, yang namanya minuman keras tidak dapat dipakai sebagai jamu atau obat, karena memang mengandung zat perusak tubuh.

Atas kemurahan dan kebijaksanaan ALLooh, bahwa setiap ALLooh menurunkan penyakit, pasti ALLooh menurunkan penawar atas obatnya. Sebagaimana disabdakan oleh RosuuluLLooh SAW:
“Sesungguhnya ALLooh telah menurunkan penyakit dan obat, dan menjadikan untuk kamu bahwa setiap penyakit ada obatnya. Oleh karena itu, berobatlah, tetapi jangan berobat dengan yang haram.” [HR. Imam Abu Daawud]

Larangan berobat dengan sesuatu yang haram tetap ditegaskan lagi oleh RosuuluLLooh, akan tetapi jalan keluar telah diberikan oleh ALLooh, dengan menurunkan obat. Tinggal manusia itu sendiri yang harus berusaha menemukan obat yang sudah disediakan oleh ALLooh di alam ini.

Agama Islam tidak hanya melarang meminumnya saja, tetapi mencegah sampai pada sumbernya, artinya para pengusaha, pengecer dan siapapun yang ikut berperan serta pada minuman tersebut tetap dilaknat ALLooh. Sebab semuanya merupakan mata rantai. Seseorang yang ikut berperan dalam lingkungan tersebut meskipun tidak ikut meminum, akan tetap kena laknat. Hal ini sesuai dengan yang disebutkan dalam sebuah hadits Nabi SAW:
“RosuuluLLooh SAW melaknat tentang khomr terhadap sepuluh golongan: 1. Yang memeras (pembuat), 2. Yang minta diperaskan (pengusaha), 3. Yang meminumnya (pelaku), 4. Yang membawanya (biro jasa), 5. Yang minta di antaranya (pelaku, agen, penjual), 6. Yang menuangkannya (yang melayani), 7. Yang menjual (took), 8. Yang makan harganya (pedagang), 9. Yang membelinya (pelaku atau pentraktir), 10. Yang minta dibelikan (pelaku).” [HR. Imam Tirmidziy dan Imam Ibnu Maajah]

Dengan perincian tersebut jelaslah bahwa untuk memberantas peminum, yang paling ideal adalah semua aktivis pada perincian tersebut harus dilarang total. Tanpa bertindak secara menyeluruh hasilnya akan tumpang tindih, di satu pihak melarang pelaku, di lain pihak di took-toko, agen-agen, dan pabrik terus tersedia dan berproduksi, amat ironi selaku. Padahal sudah jelas bahwa minuman keras amat berbahaya sekali bagi manusia, lebih-lebih pada generasi penerus bangsa.

Perlu diketahui bahwa ganja, morphine, cocain, dan sebangsanya dalam Islam tergolong khomr, karena punya akibat memabukkan, yang berarti haram pula hukumnya.

Pada saat ini, minuman-minuman seperti itu dan perjudian sudah begitu merajalela. Kalau kita tidak waspada dan hati-hati, niscaya bisa terjerumus. Sebab, tidak menutup kemungkinan bahwa sesuatu yang kita anggap baik ternyata justru membawa kepada kesesatan. Mungkin ada racun yang bermerk madu. Untuk itu, marilah di samping kita berusaha bagaimana agar terhindar dari apa yang dilarang oleh ALLooh itu, juga berdoa semoga ALLooh selalu memberikan hidayah-Nya kepada kita agar selalu terjaga dari segala sesuatu yang dilarang-Nya, seperti khomr dan judi.

Thursday, February 21, 2019

Keutamaan Akhlak


Sejalan dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, diperlukanlah pengembangan pendidikan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman, dengan mempertimbangkan aspek-aspek pengaruh positif dan negatif. Hal ini karena pendidikan sebagai bagian dari peradaban manusia, mau tidak mau pasti akan mengalami perubahan dan perkembangan. Akan tetapi realita pendidikan akhir-akhir ini menunjukkan perubahan dan pemandangan yang kontras, di mana guru hanya sebagai “pentransfer ilmu” layaknya robot, dan siswa sebagai “penerima” layaknya robot pula. Dan akhirnya menjadi suatu tatanan “mekanis” bagai mesin. Terlebih dari itu, masalah akhlak juga kurang diperhatikan, baik akhlak terhadap guru maupun akhlak terhadap sesame murid. Imam Az-Zarnuji mengatakan bahwa banyak dari pelajar yang sebenarnya mereka sudah bersungguh-sungguh menuntut ilmu, namun mereka tidak merasakan nikmatnya ilmu, hal ini disebabkan mereka meninggalkan atau kurang memperhatikan etika (akhlak) dalam menuntut ilmu.

Oleh sebab itu, kondisi pendidikan yang demikian mendorong kita untuk membangun cara pandang baru dalam pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada ilmu pengetahuan (knowledge oriented) dan keterampilan (skill oriented), namun juga berorientasi pada nilai (values oriented). Karena proses pembelajaran yang menekankan pada nilai-nilai akhlak (kejujuran, keharmonisan, dan saling menghargai) adalah hal yang tidak bisa dikesampingkan, bahkan dielakkan.

Proses pendidikan yang mengedepankan akhla atau nilai-nilai etika sebagaimana di atas rupanya mendapat perhatian serius oleh tokoh pendidikan abad ke-12 M, yaitu Imam Az-Zarnuji. Beliau telah menyusun kitab Ta’limul Muta’aliim yang mana di dalamnya sarat dengan akhlak atau nilai-nilai etika dan estetika dalam proses pembelajaran. Kitab ini telah dijadikan referensi bagi santri di sebagian besar pondok pesantren di nusantara. Adapun nilai akhlak tersebut tampak pada pemikiran Imam Az-Zarnuji tentang relasi dan interaksi guru dengan murid, murid dengan murid, bahkan murid dengan lingkungan sekitar.

Kitab Ta’limul Muta’allim merupakan panduan pembelajaran (belajar mengajar) terutama bagi murid. Tertulis dalam muqoddimah kitab tersebut dikatakan bahwa pada zamannya, banyak sekali para penuntut ilmu (murid) yang tekun belajar namun tidak bisa mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut (mengamalkan serta menyebarkannya). Hal ini terjadi karena peserta didik meninggalkan persyaratan yang harus dipenuhi, sehingga mereka tidak berhasil. Imam Az-Zarnuji dalam muqoddimah kitab Ta’lim Muta’allim mengatakan bahwa kitab ini disusun untuk meluruskan tata cara dalam menuntut ilmu. Adapun dari fasal 1 sampai 13, Imam Az-Zarnuji memberikan solusi tentang cara-cara menuntut ilmu.

Apabila kita lihat kembali bagaimana cara sahabat dan tabi’ tabi’in dalam menuntut ilmu, maka kita akan mendapatkan panutan dalam menuntut ilmu sekaligus percontohan tentang keutamaan akhlak. Abdur Rochmaan bin Qosim, seorang pelayan Imam Malik bin Anas, menuturkan kesaksiannya selama menjadi pelayan beliau. Kata Abdur Rochmaan, “Tidak kurang dua puluh tahun aku menjadi pelayan Imam Malik. Selama 20 tahun tersebut, aku perhatikan beliau menghabiskan 2 tahun untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari akhlak.”

Imam Malik dan para ulama yang baik lainnya, selalu menjaga kualitas akhlaknya. Akhlak kepada ALLooh, Rosul dan sesamanya. Ketinggian derajat, pencapaian ilmu yang mendalam, dan kebesaran wibawa, tidak membuat mereka merasa lebih mulia dan lebih baik dari orang lain.

Tujuan utama RosuuluLLooh diturunkan di dunia ini salah satunya adalah memperbaiki akhlak manusia. Sebagaimana sabdanya: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Dalam surat Al-Qolam, ALLooh SWT berfirman: “Sesungguhnya engkau (wahai Muchammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”

Meletakkan akhlak menjadi sangat penting di saat terjadi degradasi moral. Pergaulan bebas tanpa batas, tawuran massal antar pelajar, sikap anarkis sebagian pelajar saat melakukan unjuk rasa, dan banyak fenomena lainnya yang ‘memaksa’ kita untuk jauh lebih lama dalam mempelajari akhlak.

Jika akhlak seseorang itu sedikit, maka masih jauh lebih baik dari ilmuwan namun menyimpan banyak pelanggaran. Berapa banyak orang-orang yang berilmu luas, bertitel akademik, namun ternyata terjerembab dalam kasus korupsi. Berapa banyak para cerdik pandai, kaum intelektual, namun semakin jauh dari kebenaran (ALLooh).

Dari Sayyidinaa Jabir: RosuuluLLooh SAW bersabda:  “Orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku kedudukannya di surga adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang yang paling aku benci adalah orang-orang yang pongah dan sombong.”

Setidaknya ada dua keutamaan bagi orang yang berakhlak. Pertama, akhlak yang baik akan meningkatkan derajat. Dari Sayyidinaa Anas, Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba mencapai derajat yang tinggi di hari akhirat dan kedudukan yang mulia karena akhlaknya baik walaupun ia lemah dalam ibadah.” [HR. Imam Thobarooniy]

Kedua, akhlak yang baik adalah ukuran keimanan. RosuuluLLooh SAW bersabda: “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, yang lemah lembut tidak pernah menyakiti orang. Seorang manusia tidak akan mencapai hakikat iman sebelum dia mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri dan sebelum tetangganya aman dari gangguannya.”

Di sisi lain akhlak yang buruk dapat melenyapkan amal. Banyak hadits yang menerangkan terhapusnya amal karena akhlak yang buruk. Pertama, “Kedengkian memakan kebaikan sama seperti api melalap kayu bakar.”

Kedua, dari Sayyidinaa Ubaid, dia berkata: ada dua orang wanita berpuasa, dan mereka sangat menderita karena lapar dan dahaga pada sore harinya. Kemudian kedua wanita itu mengutus seseorang menghadap RosuuluLLooh SAW, untuk memintakan izin bagi keduanya agar diperbolehkan menghentikan puasa mereka.

Sesampainya utusan tersebut kepada RosuuluLLooh SAW, beliau memberikan sebuah mangkuk kepadanya untuk diberikan kepada kedua wan
ita tadi, seraya memerintahkan agar keduanya memuntahkan isi perutnya ke dalam mangkuk itu. Ternyata kedua wanita tersebut memuntahkan darah dan daging segar, sepenuh mangkuk tersebut, sehingga membuat orang-orang yang menyaksikannya terheran-heran.

RosuuluLLooh SAW bersabda: “Kedua wanita ini berpuasa terhadap makanan yang dihalalkan ALLooh tapi membatalkan puasanya itu dengan perbuatan yang diharamkan oleh-Nya. Mereka duduk bersantai sambil menggunjingkan orang-orang lain. Maka itulah ‘daging-daging’ mereka yang dipergunjingkan.” [HR. Imam Achmad]

Thursday, February 14, 2019

Larangan Pergaulan Bebas


Hasil gambar untuk Larangan Pergaulan BebasKetahuilah bahwa agama kita, Islam, melarang bersepi-sepian dan pergaulan bebas antara lawan jenis yang bukan mahramnya. Bersepi-sepian (khalwat) dan pergaulan bebas (ikhtilath) antara wanita dan laki-laki dapat membangkitkan, menguasai, mendorong, merangsang dan seterusnya terhadap naluri seks laki-laki. Laki-laki tidak dapat menahan bujuk rayu itu,lantas berhasrat untuk melampiaskan dorongan nafsunya. Pada saat itu, terjadilah suatu pertempuran sengit antara moral dan perilaku kebinatangannya. Dalam berkecamuknya perang yang berkepanjangan, bagi orang yang lemah imannya, maka nafsu sekslah yang bakal menang dan matilah moral akhlaqnya yang mulia. Sebagai akibat dari semua itu adalah kehancuran dan kerusakan.

Kami ketengahkan masalah kholwat dan ikhtilah dalam edisi kali ini, karena pada kenyataan sekarang ini, masalah hubungan pri dan wanita dalam pergaulan sehari-hari sudah banyak menyimpang dari ajaran agama Islam. Anak-anak kita kebanyakan sudah terbiasa bergaul bebas dengan lawan jenisnya, mereka seakan-akan sudah tidak merasa malu lagi berkencan dan berpacaran di muka umum. Seolah-olah apa yang mereka lakukan adalah hal yang wajar dan bukan larangan agama. Yang lebih tragis adalah orang-orang tua yang sudah berkeluarga dan mempunyai pasangan yang sah masih juga mencari yang lain yang tidak sah baginya. Sungguh kenyataan ini sangat memprihatinkan sekali kalau terus berlanjut tanpa ada perhatian serius dari kita sendiri.

Marilah kita sadari hal ini sebagai kemaksiatan dan kemungkaran yang harus diatasi. Sebab utama munculnya masalah tersebut adalah tidak mengertinya seseorang akan prinsip-prinsip agama mengenai hal-hal yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan salah. Hal ini juga pertanda bahwa pendidikan agamanya kurang meresap. Agama tidak menjadi bagian dari kepribadiannya. Karena timbulnya ketakutan pada dosa itu hanya dirasakan oleh orang yang kuat imannya, yang mengerti ajaran agama. Maka dalam masyarakat yang kurang memperhatikan atau acuh tak acuh terhadap agama, perilaku seks, kumpul kebo dan lain-lain yang tidak baik itu akan dilakukan sepanjang merasa aman, karena tidak pernah terbayang betapa besarnya dosa yang dilakukan dan murka Tuhan kepada mereka.

Memang sudah menjadi sunnatuLLooh, bahwa manusia menurut fitrahnya mempunyai dorongan biologis, seperti terdapat pada semua makhluk bernyawa. Seperti hewan, guna meneruskan keturunannya. Karena itu, semua manusia bisa terdorong secara biologis untuk melakukan perbuatan serong atau zina dan pengantarnya yang salah itu. Akan tetapi jika dalam diri mansuia ada agama, ada control atau ada dinding pembatas yang tidak boleh dilanggar, maka perbuatan itu tidak akan pernah dia lakukan. Karena sadar, jika melakukan perbuatan yang salah itu, ALLooh akan marah, akan mengutuknya dan menghukumnya. Kalau tidak di dunia ini, di akhirat akan menyiksanya dengan berat.

Sehubungan dengan gejala yang muncul dan berkembang di lingkungan kita akhir-akhir ini, maka di dalam kehidupan sehari-hari perlu kita tumbuhkan rasa keagamaan pada anak-anak dan remaja kita. Sejak mereka masih kecil orang tua harus melatihnya agar pergaulan mereka ada batasnya. Untuk menumbuhkan dan menanamkan rasa keagamaan ini bukan berarti hanya diajarkan jangan begini dan jangan begitu pada anak kita. Akan tetapi hendaknya diciptakan suatu kondisi agar pergaulan mereka ada batasnya. Dia tahu malu, tahu auratnya, mana yang boleh terbuka dan tidak, tahu sopan hingga di usia remaja mereka tidak akan mempermudah diri.

Al-Qur’an telah menegaskan bahwa perbuatan zina adalah perbuatan yang keji dan cara yang buruk yang tidak boleh dilakukan, termasuk juga pengantarnya tidak boleh dilakukan.

Tersebut dalam surah Al-Isroo ayat 32:
Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.”

 Dalam sebuah hadits RosuuluLLooh SAW mengingatkan agar tidak mendekati suatu larangan dengan sabdanya yang berbunyi:
“Barangsiapa yang mendekati sekitar daerah larangan, maka sangat mungkin sekali ia akan jatuh ke dalamnya.”

Jadi, jelaslah bagi kita penjelasan ayat dan hadits di atas, bahwa zina itu nyata-nyata dilarang, termasuk juga daerah sekitar zina, yaitu pengantarnya, baik berpacaran, kencan, bersepi-sepian dan semacamnya termasuk larangan agama. Di antara jalan keluar yang digariskan agama ialah apabila seseorang telah sampai batas umumnya dan sudah mampu mencari penghidupan, maka ia dapat melangsungkan pernikahan dan berkeluarga. Apabila belum mampu, maka dia dianjurkan agar berpuasa yang dapat mengurangi dorongan biologis, sambil berusaha hingga mampu. Dan agama melarang berbuat zina, karena jika terjadi kehamilan dan melahirkan anak akan banyak menimbulkan masalah. Dapat kita lihat akibat dari kehamilan di luar nikah dari perbuatan zina atau serong, di antaranya adalah wanita-wanita hamil yang ditinggal pacarnya. Si laki-laki melepaskan tanggung jawabnya. Lalu karena wanita itu ketakutan kalau melahirkan anaknya dan menanggung malu dari masyarakat, maka sering kita dengar ada bayi yang dibuang oleh ibunya. Atau ditinggal di rumah sakit dan ditinggal kabur ibunya.

Tanpa perkawinan yang sah, memang tak ada tanggung jawab. Dan perbuatan menelantarkan bayi dari hubungan serong atau zina tersebut jelas merupakan perbuatan dosa yang berlipat ganda. Ada juga yang menggugurkan bayinya sebelum lahir, ini pun juga dosa, termasuk orang yang terlibat dalam penggugurannya jika dia mengetahui.

Patut kita renungkan hadits Nabi SAW di bawah ini:
“Barangsiapa melakukan perbuatan zina, maka akan dizina sekalipun berada di dalam tembok rumahnya.”

Artinya, barangsiapa melakukan perbuatan zina terhadap orang lain, maka dirinya atau anak cucunya nanti akan dizina oleh orang lain, sekalipun telah dijaga ketat atau dipingit dalam tembok rumahnya. Alias barangsiapa yang menanam maka akan menuai, atau hukum karma akan berlaku baginya. Karena itu, kita harus berhati-hati dalam menjaga diri dan anak cucu kita jangan sampai terjebak dalam perbuatan yang keji ini. Dalam hadits lain beliau SAW bersabda:
“Wahai sekalian orang-orang Islam, jagalah olehmu perbuatan zina. Karena dalam perbuatan itu terdapat enam perkara. Tiga perkara (menimpa) di dunia, sedangan tiga yang lain (akan menimpa) di akhirat. Adapun tiga perkara yang menimpa di dunia adalah; hilangnya keceriaan wajah, pendek usia, dan selalu dililit kefakiran. Sedangkan tiga perkara yang menimpa di akhirat adalah; mendapat murka ALLooh, jeleknya perhitungan amal, dan siksa di neraka.”

Sekali lagi, marilah kita kembali kepada ajaran Islam tentang hubungan pria dan wanita yang bukan mahramnya. Kita jaga diri kita, anak-anak dan orang-orang yang ada dalam wewenang kita, jangan sampai terus larut dalam pergaulan bebas, melepaskan norma-norma agama dan menggantinya dengan tatanan menurut selera hawa nafsu.

Thursday, February 7, 2019

Menuju Akhlaqul Karimah


Gambar terkaitPada edisi kali ini kami ingin mengajak pembaca setia mengingat dan merenungi sejarah ummat-ummat terdahulu, bilamana kita memperhatikan dengan seksama perjalanan sejarah bangsa, Negara atau kaum terdahulu. Kejayaan dan keberuntungan mereka erat hubungannya dengan moral atau budi pekerti yang mereka miliki. Mereka jaya bilamana moralitas dan akhlaqul karimah masih akrab dalam kehidupannya. Sebaliknya, mereka hancur bilamana kebobrokan moral dan akhlaq yang tercela telah melanda kehidupannya. Sebagaimana yang diceritakan oleh Al-Qur’an tentang kaum ‘Aad, Tsamud, Madyan, dan lainnya. Kehancuran dan kebinasaan yang menimpa mereka adalah akibat dari perbuatan mereka sendiri yang amoral. Mereka mendustakan rosulnya yang sebenarnya diutus oleh ALLooh SWT untuk mengangkat derajat dan martabat mereka sendiri. Selain itu, sejarah juga telah membuktikan, betapa jaya dan agungnya kerajaan Romawi ketika itu, yang telah memiliki kemajuan teknologi dan peradaban yang tinggi di belahan bumi Barat, dengan mudah digulingkan oleh kaum Indo Jerman yang masih di bawah standart kemajuan. Ada lagi, Daulah Abasyiah di belahan bumi Timur yang sudah memiliki peradaban yang tinggi dan kekayaan yang melimpah, namun dengan gampang pula diporak-porandakan oleh bangsa Mongol yang belum mengenal tamaddun dan peradaban. Benar juga apa yang disyairkan oleh penyair kondang dari Mesir bernama Syauqi Bik:
“Suatu ummat akan jaya dan abadi bila akhlaq dan budi luhur masih ada padanya. Sebaliknya, ummat itu akan hancur dan binasa bila akhlaq dan budi luhur telah lenyap dari mereka.”

Ternyata kemajuan teknologi, kekayaan yang melimpah serta peradaban tidak mampu mempertahankan kejayaan dan keagungan suatu bangsa atau ummat. Mereka mudah hancur binasa kapan akhlaq dan budi luhur mereka telah hancur dan kebobrokan moral telah melanda kehidupan mereka.

Untuk itu, kita bangsa Indonesia yang merdeka dan telah makmur ini apakah akan mengalami nasib yang sama sebagaimana bangsa dan ummat terdahulu yang mengalami kehancuran dan porak-poranda? Kami kira, nasib kita tak jauh berbeda dengan mereka bilamana kita tidak peduli dengan akhlaq dan budi luhur bangsa ini.

Kita sebagai kaum muslimin dan juga sebagai mayoritas bangsa Indonesia tentunya harus peduli dan menjadi pelopor dalam menjunjung tinggi akhlaq dan moral bangsa. Sebab RosuuluLLooh SAW Nabi terakhir yang diutus oleh ALLooh SWT, salah satu misi terpentingnya adalah menyempurnakan keluhuran budi pekerti. Dan hal ini telah diteladankan kepada kita oleh beliau. Bahkan beliau pernah menyatakan bahwa bobot timbangan yang paling berat adalah akhlaq dan budi pekerti luhur. Sabda beliau:
“Tidak ada yang lebih berat bobot timbangannya (dalam hal pahala) dibanding dengan budi pekerti yang mulia.”

Jadi jelaslah, bahwa akhlaqul karimah harus kita bangun dan wujudkan di tengah-tengah kehidupan kita, baik kepada ALLooh, Tuhan kita maupun kepada sesama manusia. Dalam hubungan kita kepada ALLooh saat beribadah, dengan segala aspeknya, kita terapkan konsep Al-Ihsan. Yaitu kita beribadah kepada ALLooh seolah-olah kita melihat-Nya dan bila belum bisa, kita merasa bahwa ALLooh selalu melihat kita.

Adapun dalam hubungan kita kepada sesama manusia, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat bahkan dalam bernegara telah banyak diterangkan dalam Al-Qur’an dan diteladankan oleh RosuuluLLooh SAW hingga Al-Qur’an pernah menyatakan dalam surah Al-Qolam ayat 4:
“Dan sesungguhnya kamu (Muchammad) berbudi pekerti yang agung.”

Secara garis besar dan jelas RosuuluLLooh pernah bersabda dalam kaitannya dengan akhlaq ini:
“Seorang mukmin yang paling utama Islamnya adalah orang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya. Dan orang mukmin yang paling utama imannya adalah seorang yang bagus budi pekertinya. Dan orang yang hijrah yang paling utama adalah yang meninggalkan apa saja  yang dilarang oleh ALLooh. Sedang jihad yang paling utama adalah memerangi hawa nafsu karena mencari ridho ALLooh Azza  Wajalla.” [HR. Imam Ath-Thobarooniy dari Sayyidina AbduLLooh bin Umar RA]

Dalam hadits lain beliau bersabda:
“Bikinlah manusia suka dengan barang yang kamu sukai untuk dirimu sendiri, niscaya kamu menjadi muslim sejati.”


Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang menerangkan tentang akhlaq ini. Juga ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi tuntunan kita dan merupakan gudang dan sumber akhlaqul karimah.

Betapa pentingnya akhlaqul karimah, sehingga termasuk tujuan terpenting risalah Islamiyah di bumi ini, yaitu menanamkan akhlaq dan budi pekerti luhur kepada manusia serta memanggil mereka kepada kemuliaan diri. Agar setiap diri mampu dan mau beramal saleh menyuruh kepada perbuatan yang baik dan mencegah perbuatan yang mungkar. Sehingga setiap segi kehidupan ini dapat berjalan dengan tertib mengikuti pengarahan akhlaqul karimah. Sesuai dengan akhlaq RosuuluLLooh yaitu akhlaq Al-Qur’an.
WALLOOHU A’LAM BISH SHOWAAB

Thursday, January 31, 2019

Membaca Al-Qur’an Ibadah Yang Paling Utama


Hasil gambar untuk Membaca Al-QurĂ¢€™an Ibadah Yang Paling UtamaKetahuilah, bahwa membaca Al-Qur’an adalah termasuk ibadah yang paling utama bagi ummat Islam di antara ibadah-ibadah yang lain. Dan besok di hari kiamat Al-Qur’an akan datang menolong as-habnya, yaitu termasuk orang-orang yang membacanya. Untuk itu, marilah kita biasakan membaca AL-Qur’an setiap hari, baik siang, malam atau pagi hari. Dan di mana saja kita berada, baik di rumah, di musholla, surau-surau atau di masjid. Juga dalam kesempatan apapun, baik ketika sendirian, dalam perkumpulan, dalam suatu acara atau ketika kita punya hajat yang baik. Al-Qur’an sangat baik dibaca di sana.

Mengenai keutamaan membaca Al-Qur’an dapat kita lihat dari beberapa hadits RosuuluLLooh SAW. Di antaranya adalah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berbunyi:
Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Qur’an itu nanti di hari kiamat akan datang memberi pertolongan kepada orang-orang yang membacanya.” [HR. Imam Bukhooriy dan Imam Muslim]
Termasuk as-hab Al-Qur’an adalah orang-orang yang membacanya. Dia besok di hari kiamat Al-Qur’an yang di abaca itu akan datang memberi pertolongan kepadanya. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidziy dari Sayyidina AbduLLooh Ibnu Mas’ud, RosuuluLLooh SAW bersabda:
“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab ALLooh, maka baginya satu kebajikan. Dan satu kebajikan itu digandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan bahwa alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif itu satu huruf, lam itu satu huruf dan mim satu huruf.” [HR. Imam Tirmidziy]

Dari hadits ini dijelaskan, betapa banyak dan besarnya kebajikan yang diberikan dari membaca Al-Qur’an. Tiap satu huruf diberi satu kebajikan dan satu kebajikan itu masih dilipatkan gandakan menjadi sepuluh kebajikan. Kalau kita baca satu ayat saja, sudah berapa huruf yang kit abaca, misalnya saja kita membaca:
BismiLLaahir Rochmaanir Rochiimi”
Sudah 21 huruf yang kit abaca, yang masing-masing huruf akan diberikan satu kebajikan, dan tiap satu kebajikan. Berarti dari bacaan basmalah yang kit abaca akan diberikan 210 kebajikan, itu baru basmalah belum jia sampai beberapa ayat, atau surah atau bahkan sampai khatam Al-Qur’an, berapa kebajikan yang akan diberikan kepada kita.

Begitulah rangsangan yang disampaikan oleh beliau agar ummatnya tergugah mau membaca Al-Qur’an, sekalipun belum tahu artinya. Sebab memang membaca Al-Qur’an itu sendiri termasuk ibadah dan bahkan termasuk ibadah yang paling utama bagi ummatnya.

Imam Ad-Darimi pernah meriwayatkan hadits dengan isnadnya dari Sayyidina Humaid Al-A’roj RA, RosuuluLLooh SAW bersabda yang isinya: “Barangsiapa membaca Al-Qur’an sampai khatam lantas berdoa, maka doanya itu diamini oleh 4000 malaikat.”. Sedang malaikat sendiri adalah termasuk hamba ALLooh yang tidak pernah maksiat atau durhaka, mereka selalu melaksanakan apa saja yang diperintahkan oleh ALLooh. Berarti doa yang dibaca oleh seorang yang membaca Al-Qur’an sampai khatam itu harapan besar diterima oleh ALLooh, mengingat 4000 malaikat yang tak pernah maksiat ikut mengamini dosanya.

Oleh sebab itu, kalau kita punya hajat agar hajat itu diperkenankan oleh ALLooh sebaliknya kita wasilah atau tabarruk dengan khataman Al-Qur’an. Seandainya kita belum mampu membacanya sendiri, dapatlah kita minta tolong pada orang lain yang mampu, kita tabarruk dapat diminta dalam doa khatamannya. insyaaALLooh hajat itu dikabulkan.

Mengingat begitu besar dan banyaknya keutamaan membaca Al-Qur’an, maka sangat rugi sekali jika kita ummat Islam masih ada yang belum dapat membacanya. Bagi kita yang sudah mampu membacanya, marilah Al-Qur’an itu kit abaca setiap hari dan sebanyak-banyaknya, serta kita usahakan dapat kontinu istiqomah, sekalipun hanya beberapa halaman atau ayat. Akan kita rasakan nanti manfaatnya bila kita mau membacanya terus-menerus. Adapun di antara kita yang masih belum mampu membacanya, marilah kita belajar dengan baik pada seorang yang ahli dalam bidang ini. Belajar Al-Qur’an adalah perbuatan yang amat baik. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhooriy dari Sayyidina Utsman bin Affan RA:
“Sebaik-baik kalian ialah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Belajar Al-Qur’an bagi ummat Islam adalah wajib hukumnya. Untuk itu, jangan sampai di antara ummat Islam yang tidak mempelajarinya, hingga menjadi but abaca Al-Qur’an. Pada akhir-akhir ini sudah ditemukan metode praktis belajar baca Al-Qur’an. Hanya dalam tempo yang relative singkat seorang yang berminat mempelajarinya dengan metode tersebut telah mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. Sebagaimana metode yang digunakan oleh Taman Pendidikan Al-Qur’an yang kini telah banyak didirikan di tanah air kita, di berbagai daerah, baik di kota maupun di desa. Juga Al-Qur’an dapat dipelajari di perumahan, surau-surau, masjid-masjid dan pesantren-pesantren yang mengajarkannya.

Bila telah ada niat baik dalam benak, maka teguhkan niat itu dengan janji dalam hati bahwa saya akan melaksanakannya, dan kita laksanakan dengan perasaan suka serta ketulusan hati. Kemauan baca Al-Qur’an atau mempelajarinya yang telah ada di dalam batin kita, mari kita realisasikan dengan rasa suka dan penuh ketulusan hati karena ALLooh. Semata-mata mengikuti perintah-Nya dalam rangka meningkatkan iman dan taqwa kita kepada ALLooh. Dan kepada anak-anak kita, putra-putri serta cucu-cucu yang sudah sepantasnya pandai membaca Al-Qur’an tapi mereka belum mampu membacanya, kita tekankan kepada mereka agar mempelajarinya sampai dapat membacanya dengan baik. Kita arahkan mereka agar mau berguru dan mengajinya. Alangkah senang dan gembiranya sebagai orang tua yang putra-putrinya dan anak cucunya dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan fasih. Sebab dia akan mendapat bagian pahala dari keberhasilan anak cucunya.

Setelah kita mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan fasih akan lebih baik lagi kita mau mendalaminya, yaitu memahami dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an yang kit abaca. Sehingga tindakan kita sehari-hari sesuai dengan apa yang disyariatkan oleh ALLooh. Kehidupan kita adalah kehidupan yang Qurani, suatu kehidupan yang diridhoi oleh ALLooh SWT. Firman ALLooh SWT dalam surah Al-Isroo ayat 9:
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk pada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang  mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka pahala yang besar.”

Thursday, January 24, 2019

Berlomba-lomba dalam Hal Kebaikan

Hasil gambar untuk Berlomba-lomba dalam Hal KebaikanKehidupan di dunia fana ini memberikan kita berbagai pilihan. Maka sudah menjadi suatu kepastian bagi seorang manusia untuk memilih salah satu dari pilihan tersebut, karena tidak akan mungkin sesuatu yang wujud akan menyandang 2 perkara yang bertolak belakang sekaligus.

Kita harus memilih, menjadi hitam atau putih, memilih senang atau sedih, berbudi baik atau menjadi seorang yang buruk, itu semua beberapa pilihan yang disodorkan oleh Sang Kholiq untuk para hambanya di panggung dunia ini termasuk juga memilih menjadi seorang pemenang atau malah menjadi seorang pemenang atau malah menjadi seorang yang bertekuk lutut berlabel pecundang. Berbagai macam pilihan tersebut seolah-olah juga mengisyaratkan tentang berlangsungnya sebuah kompetisi yang terjadi apabila pilihan kita jatuh pada hal-hal positif, karena sudah menjadi ketentuan, bahwa sesuatu yang positif tersebut tidak akan kita dapatkan tanpa adanya perjuangan, dan juga berlaku sebaliknya, apabila hanya berdiam saja tanpa melakukan apa-apa maka harus terpaksa akan dilabeli sebagai seorang pecundang.

Sebagai ummat Islam tentu tidak asing bagi kita istilah Fastabiqul Khoirot (berlomba-lomba pada hal kebaikan) kompetisi dalam memperebutkan sebuah kebaikan merupakan sebuah perintah dari ALLooh SWT. Yang terdapat jelas pada sebuah firman-Nya dalam Al-Qur’an Al-Karim. Perintah berlomba kepada kebaikan mengandung ajakan agar seseorang berusaha dan bersemangat menjadi orang pertama yang berbuat kebaikan. Barangsiapa yang ketika di dunia bersegera kepada kebaikan berarti ia adalah orang yang terdepan di akhirat menuju surga-surga ALLooh. Dengan demikian, orang-orang yang berlomba atau terdepan dalam kebaikan adalah hamba-hamba yang tinggi derajatnya.

Tidak seperti kompetisi lainnya yang menggunakan kekuatan fisik sebagai tolak ukur pemenangnya, bukan pula seperti olimpiade sains yang menuntut para pesertanya mempunyai kelebihan kejeniusan otaknya, juga bukan pula seperti judi yang mengandalkan keberuntungan serta kelicikan pemainnya, menjadi juara dalam perlombaan amal sholeh hanya mengandalkan keikhlasan tinggi dalam menjalaninya serta kemauan besar untuk memperoleh Ridho ALLooh dan juga kemurnian cinta pada-Nya, merupakan modal utama dalam kompetisi kebaikan ini. Bumi yang menjadi tempat tinggal manusiapun seolah menjadi sebuah stadion yang sangat besar yang disiapkan oleh ALLooh SWT. Demi menghelat kompetisi dahsyat ini.

RosuuluLLooh SAW yang mulia pun telah menganjurkan kita agar bersegera dalam beramal. Anjuran ini didapatkan pada sabda beliau yang tersampaikan lewat sahabat yang mulia, Sayyidina Abu Huroiroh RA:
“Bersegeralah kalian beramal saleh sebelum kedatangan fitnah (ujian) yang seperti potongan malam. Seseorang di pagi hari dalam keadaan beriman (mukmin) namun di sore harinya menjadi kafir, da nada orang yang di sore hari dalam keadaan beriman namun di pagi hari menjadi kafir. Dia menjadi agamanya dengan perhiasan dunia.” [HR. Imam Muslim]

Ujian syubhat dan syahwat akan datang seperti malam yang gelap gulita. Tidak ada cahaya sama sekali. Karena fitnah yang terjadi, dalam hari yang sama seperti seseorang yang keluar dari Islam, pagi hari ia masih beriman namun sore hari telah kafir atau sebaliknya. Mengapa demikian? Ia menjual agamanya dengan dunia, baik berupa harta, kedudukan, jabatan, wanita, maupun selainnya. Hadits di atas berisi anjuran untuk bersegera mengerjakan amal saleh sebelum datang waktu yang menyebabkan seseorang tidak bisa mengerjakannya. Waktu yang seseorang tidak bisa mengerjakannya karena fitnah yang besar dan bertumpuk-tumpuk, seperti tumpukan gelapnya malam yang gulita tanpa cahaya sedikitpun.

Pada zaman Nabi, ada seorang sahabat yang dapat kita ambil keteladannya dalam semangat bersegera kepada kebaikan, bersegera kepada surga ALLooh yang amat luas. Ketika terjadi perang Uhud, seorang sahabat tersebut bertanya kepada RosuuluLLooh SAW::
“Apa pendapat Anda jika aku terbunuh, di manakah tempatku?” “Di surga,” jawab RosuuluLLooh. Orang itu pun membuang beberapa butir kurma yang ada di tangannya. Ia kemudian maju berperang hingga terbunuh.” [HR. Imam Bukhooriy dan Imam Muslim]

Sudah menjadi tuntutan bagi kita semua untuk segera melaksanakan sebuah kebaikan tanpa menundanya, karena banyak sekali batu penghadang yang dapat mencegahnya, seperti halnya datangnya kematian secara tiba-tiba. Apalagi perbuatan menunda-nunda (mengatakan nanti… nanti) adalah tidak terpuji. Tanamkan di hati kita bahwa kesempatan tidak datang dua kali pada orang yang menyia-nyiakannya, tetapi akan datang berulang kali pada orang mengambil kesempatan tersebut meskipun akhirnya mendapatkan kegagalan, dan akan menghilang ketika orang tersebut telah mencapai keberhasilan.

Dalam kompetisi kebaikan tidaklah mengenal kata malu ataupun merasa lebih rendah, siapa yang lebih cepat maka dialah yang akan menjadi juaranya. Maha bijaksana ALLooh yang menciptakan baik dan buruk. Semoga ALLooh SWT berkenan memberikan kita umur panjang supaya dapat menjadi seorang pemenang dalam segala hal kebaikan.