Showing posts with label Pojok Aqidah. Show all posts
Showing posts with label Pojok Aqidah. Show all posts

Friday, March 16, 2018

Mukjizat Isro’ Mi’roj

Hasil gambar untuk isro dan mi'roj nabiIsro’ adalah perjalanan Nabi SAW dari Masjid Charom di Makkah ke Masjidil Aqsho di Al-Quds. Mi’roj adalah kenaikan RosuuluLLooh SAW menembus lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluq, malaikat, manusia, dan jin. Semua itu ditetentangmpuh dalam semalam.

Jumhur kaum muslimin sepakat bahwa perjalanan ini dilakukan RosuuluLLooh SAW dengan jasad dan ruh. Karena itu, ini merupakan salah satu mukjizatnya yang mengagungkan yang dikaruniakan ALLooh kepadanya.

Kisah perjalanan ini disebutkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim secara lengkap di dalam Shohihnya. Disebutkan bahwa dalam perjalanan ini, RosuuluLLooh SAW menunggang buroq yakni satu jenis binatang yang lebih besar dari keledai dan lebih kecil sedikit dari unta. Binatang ini berjalan dengan langkah sejauh mata memandang. Disebutkan pula bahwa Nabi SAW memasuki Masjidil Aqsho lalu sholat dua roka’at di dalamnya. Malaikat Jibril AS kemudian datang kepadanya seraya membawa segelas khomr dan segelas susu. Nabi SAW lalu memilih susu. Setelah itu, malaikat Jibril berkata: “Engkau telah memilih fitrah.” Dalam perjalanan ini, RosuuluLLooh SAW naik ke langit pertama, kedua, ketiga dan seterusnya sampai ke Sidrotul Muntaha. Di sinilah kemudian ALLooh mewahyukan kepadanya apa yang telah diwahyukan, di antaranya kewajiban sholat lima pulu kali sehari semalam.

Keesokan harinya, RosuuluLLooh SAW menyampaikan apa yang disaksikannya kepada penduduk Makkah. Akan tetapi, oleh kaum musyrik, berita ini didustakan dan ditertawakan. Sebagian mereka menantang RosuuluLLooh untuk menggambarkan Baitul Maqdis jika benar ia telah pergi dan melakukan sholat di dalamnya. Padahal ketika menziarohinya, tidak pernah terlintas dalam pikiran RosuuluLLooh SAW untuk menghafal bentuknya dan menghitung tiang-tiangnya. ALLooh kemudian memperlihatkan bentuk dan gambar Baitul Maqdis di hadapan RosuuluLLooh SAW sehingga dengan mudah beliau menjelaskannya secara rinci sebagaimana yang mereka minta.

Imam Bukhori dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa RosuuluLLooh SAW bersabda: “Ketika kaum Quroisy mendustakan aku, aku berdiri di Hijr Ismail, lalu ALLooh memperlihatkan Baitul Maqdis kepadaku. Kemudian aku kabarkan kepada mereka tentang tiang-tiangnya dari apa yang aku lihat.”

Berita ini oleh sebagian kaum musyrikin disampaikan kepada Sayyidina Abu Bakar dengan harapan dia akan menolaknya. Ternyata Sayyidina Abu Bakar menjawab, “Jika memang benar Muchammad yang mengatakannya, dia telah berkata benar dan sungguh aku akan membenarkannya lebih dari itu.”
Pada pagi hari dari malam Isro’ itu, malaikat Jibril AS datang kepada RosuuluLLooh SAW mengajarkan cara sholat dan menjelaskan waktu-waktunya. Sebelum disyariatkannya sholat lima waktu, RosuuluLLooh SAW melakukan sholat dua roka’at di pagi hari dan dua roka‘at di pagi hari dan dua roka’at di sore hari sebagaimana dilakukan oleh Nabi Ibrohim AS.

 BEBERAPA IBROH

Pertama, kedudukan mukjizat Isro’ dan Mi’roj di antara peristiwa-peristiwa yang telah di alami RosuuluLLooh SAW pada waktu itu. RosuuluLLooh SAW telah merasakan berbagai penyiksaan dan gangguan yang dilancarkan kaum Quroisy kepadanya. Di antara penderitaan terakhir (sampai terjadinya Isro’ dan Mi’roj) ialah apa yang dialami ketika hijrah ke Thoif. Perasaan tidak berdaya sebagai manusia dan betapa perlunya pembelaan terungkapkan seluruhnya dalam doa Nabi SAW yang diucapkan setelah tiba di kebun kedua anak Robi’ah. Dalam munajatnya ini pula terungkap makna pengaduan kepada ALLooh dan keinginannya untuk mendapatkan penjagaan dan pertolongan-NYA. Beliau bahkan khawatir jangan-jangan apa yang dialaminya ini karena murka ALLooh kepadanya. Karena itu, di antara untaian doanya terucap kalimat, “Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tidak aku hiraukan.”

Kemudian setelah itu, datanglah “undangan” Isro’ dan Mi’roj sebagai penghormatan dari ALLooh dan penyegaran semangat dan ketabahannya. Di samping sebagai bukti bahwa apa yang baru dialaminya dalam perjalanan hijrah ke Thoif bukan karena ALLooh murka atau melepaskannya, melainkan hanya merupakan sunnatuLLooh yang harus berlaku pada para kekasih-NYA. Sunnah dakwah islamiyah pada setiap masa dan waktu.

Kedua, makna yang terkandung dalam perjalanan Isro’ ke Baitul Maqdis. Berlangsungnya perjalanan Isro’ ke Baitul Maqdis dan Mi’roj ke langit tujuh dalam rentang waktu yang hampir bersamaan, menunjukkan betapa tinggi dan mulia kedudukan Baitul Maqdis di sisi ALLooh. Hal ini juga merupakan bukti nyata akan adanya hubungan yang sangat erat antara ajaran Nabi Isa AS dan ajaran Nabi Muchammad SAW, ikatan agama yang satu yang diturunkan ALLooh kepada para Nabi AS.

Peristiwa ini juga memberikan isyarat bahwa kaum Muslimin di setiap tempat dan waktu harus menjaga dan melindungi rumah suci (Baitul Maqdis) ini keserakahan musuh-musuh Islam. Seolah-olah hikmah ilahiyah ini mengingatkan kaum Muslimin zaman sekarang agar tidak takut dan menyerah menghadapi kaum Yahudi yang tengah menodai dan merampas rumah suci ini, untuk membebaskannya dari tangan-tangan najis dan mengembalikannya kepada pemiliknya, kaum Muslimin.
Siapa tahu? Barangkali peristiwa Isro’ yang agung inilah yang menggerakkan Sholachuddin Al-Ayyubi untuk menggerakkan kekuatannya melawan serbuan-serbuan Salibis dan mengusirnya dari rumah suci ini!

Ketiga, pilihan Nabi SAW terhadap minuman susu, ketika malaikat Jibril menawarkan dua jenis minuman, susu dan khomr, merupakan isyarat secara simbolik bahwa Islam adalah agama fitrah yakni agama yang aqiidah dan seluruh hukumnya sesuai dengan tuntutan fitrah manusia. Di dalam Islam tidak ada sesuatu pun yang bertentangan dengan tabiat manusia. Seandainya fitrah berbentuk jasad, niscaya Islam akan menjadi bajunya yang pas.

Faktor inilah yang menjadi rahasia mengapa Islam begitu cepat tersebar dan diterima manusia. Hal ini karena betapapun tingginya budaya dan peradaban manusia dan betapapun manusia telah mereguk kebahagiaan material, ia akan tetap cenderung ingin melepaskan segala bentuk beban dan ikatan-ikatan yang jauh dari tabiatnya Islam adalah satu-satunya sistem yang dapat memenuhi semua tuntutan fitrah manusia.

Keempat, jumhur ulama, baik salaf maupun kholaf, telah sepakat bahwa Isro’ dan Mi’roj dilakukan dengan jasad dan ruh Nabi SAW. Imam Nawawi berkata di dalam Syarhu Muslim, “Pendapat yang benar menurut kebanyakan kaum Muslimin, ulama salaf, semua fuqoha, ahli hadits, dan ahli ilmu tauhid adalah bahwa Nabi SAW di-isro’kan dengan jasad dan ruhnya. Semua nash menunjukkan hal ini dan tidak boleh ditakwilkan dari dzhohirnya kecuali dengan dalil.
Imam Ibnu Hajar di dalam Syarahnya terhadap Imam Bukhooriy, berkata: “Sesungguhnya, Isro’ dan Mi’roj terjadi pada suatu malam, dalam keadaan sadar, dengan jasad dan ruhnya. Pendapat inilah yang diikuti oleh jumhur ulama, ahli hadits, ahli fiqih, dan ahli ilmu kalam. Semua arti dzhohir dari hadit-hadits shohih menunjukkan pengertian tersebut tidak boleh dipalingkan dari pengertian lain karena tidak ada sesuatu yang mengusik akal untuk menakwilkannya.”

Di antara dalil yang secara tegas menunjukkan bahwa Isro’ dan Mi’roj ini dilakukan dengan jasad dan ruh ialah sikap kaum Quroisy yang menentang keras kebenaran peristiwa ini. Bila peristiwa ini hanya melalui mimpi kemudian RosuuluLLooh SAW mengatakannya demikian kepada mereka, niscaya tidak akan mengundang keheranan dan pengingkaran sedemikian rupa. Hal ini karena penglihatan dalam mimpi itu tidak ada batasnya. Bahkan mimpi seperti itu, pada waktu itu, bisa saja dialami oleh orang muslim dan kafir. Bila peristiwa ini hanya dilakukan dengan ruh, niscaya mereka tidak akan bertanya tentang gambaran Baitul Maqdis untuk memastikan dan menentangnya.


 Mengenai bagaimana mukjizat ini berlangsung dan bagaimana akal dapat menggambarkannya maka sesungguhnya mukjizat ini tidak jauh berbeda dari mukjizat alam semesta dan kehidupan ini! WALLOOHU A’LAM BISH SHOWAAB

Thursday, March 15, 2018

Menyambut Isro’ Mi’roj

Saudara-saudara seiman...
Kita semua mengetahui bahwa bulan Rojab adalah bulan yang mulia, karena pada bulan inilah RosuuluLLooh SAW diisro’ mi’rojkan. Isro’ artinya diberangkatkannya RosuuluLLooh SAW pada malam hari oleh ALLooh SWT dari Masjidil Charom di Makkah sampai di Masjidil Aqsho di Palestina.

Hasil gambar untuk al isra ayat 1
ALLooh SW berfirman dalam QS. Al Isro’ ayat 1: “Maha Suci ALLooh, yang telah memperjalankan hamba-NYA pada suatu malam dari Masjidil Charom ke Masjidil Aqsho yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya DIA adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Selanjutnya yang dimaksud dengan Mi’roj adalah berangkatnya RosuuluLLooh SAW dari Masjidl Aqsho naik ke langit yang ketujuh hingga ke Sidrotul Muntaha, dan akhirnya ke Mustawa. Diriwayatkan oleh Az Zuhri dan Urwah bahwa pada pagi hari setelah RosuuluLLooh SAW diisro’ mi’rojkan, ketika peristiwa itu diceritakan kepada kaum kafir Quroisy, mereka kebanyakan tidak mau mempercayainya, bahkan mereka membuat fitnah yang keras. Maka mereka pergi kepada Sayyidina Abu Bakar untuk memberitahukan kisah ini (apa yang telah dialami Nabi Muchammad SAW).
Kata mereka: “Wahai Abu Bakar, teman Anda Muchammad telah menjadi gila, ia mengaku-ngaku telah pergi ke Baitul Muqoddas kemudian naik ke langit sampai ke Sidrotul Muntaha dan kembali lagi sebelum waktu pagi, apakah anda mempercayainya?”
Sayyidina Abu Bakar menjawab : “Kalau memang Muchammad berkata seperti itu, maka aku mempercayainya”.
“Engkau percaya dengannya?” tanya  mereka.
Sayyidina Abu Bakar dengan tegas menjawab: “Ya, aku percaya, bahkan lebih dari itu pun, jika dia yang mengatakan aku tetap percaya, dan itu pasti benar.”

 Pembaca yang setia..............
Dari peristiwa inilah kemudian Sayyidina Abu Bakar memperoleh gelar “Ash Shiddiq”. Dari kisah di atas, maka kita dapa memahami betapa berat kenabian yang diemban oleh beliau SAW. Ditengah-tengah beliau menghadapi orang yang ingkar kepada kebenarannya, beliau masih harus memikirkan pengikutnya yang masih tipis keimanannya sehingga tidak mau percaya akan ada kejadian Isro’ Mi’roj, bahkan banyak di antara mereka yang murtad meninggalkan agama Islam dan kembali kepada agama nenek moyang mereka, yaitu menyembah berhala.

Dari sisi yang lain, kita memperoleh pelajaran, bahwa untuk memperjuangkan agama diperlukan pribadi yang mantap, tahan banting, dan pukulan, tegar, sabar, dan tidak kenal menyerah. Dalam hal ini ALLooh SWT menguji para pengikutbeliau SAW, apakah mereka bertambah iman ataukah malah sebaliknya mereka menjadi murtad dan kembali kepada ajaran nenek moyang mereka?
Jadi ibarat emas, maka sudah kelihatan mana yang sebenarnya emas asli dan mana pula yang bukan emas yang asli, mana pengikut nabi yang setia dan mana pula pengikut beliau yang khianat.

Saudara seimanku yang diRochmati ALLooh....
Dari keterangan di atas, maka dapat kita jadikan sebagai bahan perayaan untuk diri kita sendiri, sudah pantaskah kita mengaku sebagai orang Islam yang teguh, padahal kita belum pernah dihadapi oleh sahabat Nabi. Sudah cukupkah kita menjadi muslim yang lemah imannya, atau kita berusaha untuk memantapkan iman kita? Maka jawabannya berada dalam hati kita masing-masing.

Orang-orang terdahulu telah diuji oleh ALLooh keimanannya, lalu sekarang sudah siapkah diri kita menerima ujian dan cobaan dari ALLooh? RosuuluLLooh SAW telah mengisyaratkan bahwa pada zaman akhir nanti (zaman now) akan terjadi fitnah yang akan merenggut keimanan kita, oleh karenanya kita harus berhati-hati jangan sampai iman kita copot yang akhirnya akan membuat kita celaka.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits, bahwa RosuuluLLooh SAW bersabda : “Bergegaslah kalian untuk mengerjakan amal sholeh. Sebab akan terjadi berbagai fitnah bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita. Di saat itu orang yang pagi harinya beriman kemudian sore harinya menjadi kafir. Dan pada malam harinya berubah menjadi kafi, ia jual agamanya dengan harta benda dunia.”

Para pembaca yang dimuliakan ALLooh....
Fitnah yang disebutkan dalam hadits tadi, yang diibaratkan dengan gelap gulita, mengisyaratkan bahwa fitnah tersebut bukanlah sekedar fitnah, melainkan serangan yang menyesatkan dan merontokkan daun-daun keimanan bagi orang yang lemah imannya. Malam yang gelap gulita dalam hadits tadi, ibarat orang yang berjalan pada tengah malam tanpa menggunakan alat penerang yang tajam, insyaaaALLooh tidak akan tersesat. Dan alat penerangan itu tidak lain adalah iman yang mantap.

Ciri-ciri khusus akan datangnya fitnah itu ialah bahwa harta benda telah menjadi nyawa manusia, mereka rela memberikan apa saja untuk harta itu, bahkan orang-orang yang lemah imannya akan rela menanggalkan baju keimanannya hanya untuk mendapatkan satu bungkus supermi atau demi seteguk air. Untuk menghadang datangnya fitnah ini agar jangan sampai mempengaruhi keimanan kita, maka RosuuluLLooh SAW memerintahkan kepada kita ummatnya yang taat kepadanya untuk mengerjakan banyak amal sholeh, jangan menunda-nunda kesempatan yang diberikan oleh ALLooh. Jika kita mendapatkan kesempatan untuk beramal sholeh, maka langsung kerjakan, jangan menunda-nunda agar nanti kita tidak menyesal. Malah kita harus mencari-cari kesempatan untuk beramal sholeh.
RosuuluLLooh SAW pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Muslim : “Sesungguhnya di antara yang paling aku khawatirkan atas kalian meninggalkanku nanti adalah terbuka lebarnya kemewahan dunia dan keindahannya.”

Marilah kita mensyukuri setiap nikmat ALLooh SWT, sebab dengan datangnya bulan Rojab ini, kita mengingat kembali betapa RosuuluLLooh SAW diangkat oleh ALLooh kehadirat-NYA untuk menerima perintah sholat lima waktu. Sungguh amat tinggi kedudukan ibadah sholat ini jika dibandingkan dengan ibadah yang lainnya, seperti menjalankan ibadah sholat dengan baik dan khusyu’ sesuai dengan tuntunan yang telah diajarkan oleh RosuuluLLooh SAW.
RosuuluLLooh SAW pernah bersabda : “Sholat (lima waktu) adalah tiang agama, dan barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia telah merobohkan agama.”

Sholat adalah sebuah pendidikan bagi kita ummat Islam, kita harus menjadikan sholat itu bagian dari kehidupan kita. Badan kita bersih dari hadats, pakaian kita bersih dari najis dan kotoran, jika kita bersih dari sifat tercela dan syirik, Yang Maha Besar hanyalah ALLooh saja sedangkan yang lain, termasuk diri kita ini adalah kecil. Sholat juga mendidik kita memantapkan tujuan hidup yang kita ikrarkan dalam doa iftitah yang kita baca dalam setiap sholat kita : “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, bahkan hidup dan matiku hatinya untuk ALLooh Tuhan semesta alam”.

Sholat merupakan ibadah yang utama, sebab dari cara diturunkannya saja sudah berbeda dengan ibadah-ibadah yang lainnya. Ibadah yang lain cukup dengan wahyu, melalui perantara malaikat Jibril AS, sedangkan sholat diperintahkan ALLooh dan disampaikan-NYA secara langsung kepada RosuuluLLooh SAW. Ini semua menunjukkan bahwa perintah sholat itu sangatlah penting sekali. Makanya sholat itu tidak boleh ditinggalkan oleh seseorang yang beragama Islam dalam keadaan apapun sebelum ajal menjemputnya.

Sholat utama dilakukan dengan berdiri, jika tidak sanggup, maka boleh dikerjakan dengan duduk, jika tidak sanggup lagi, maka boleh dikerjakan dengan berbaring, jika berbaring tidak mampu, maka dengan isyarat, dan jika dengan isyaratpun ia tidak sanggup, maka dalam hati, karena ALLooh Maha Mengetahui segala sesuatu. ALLooh SWT berfirman dalam QS At-Taubah ayat 71 : “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sesungguhnya ALLooh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Ayat di atas menyatakan bahwa orang-orang yang beriman itu satu sama lain harus saling membantu, saling menyayangi, saling menasehati untuk mengerjakan yang ma’ruf dan saling mencegah dari mengerjakan yang mungkar, mereka mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, mentaati perintah dan larangan ALLooh dan Rosul-NYA.

Berdasarkan ayat tadi maka kita ketahui bahwa sholat itu merupakan rangkaian daripada iman, maka orang yang beriman itu adalah orang yang mendirikan sholat, dan sebaliknya orang yang tidak istiqomah dalam mengerjakan sholat bukanlah ia disebut orang yang beriman.

Oleh sebab itu jika kita mengaku sebagai orang yang beriman, janganlah kita sampai melalaikan sholat, malah setiap hari hendaknya kita meningkatkan kualitas sholat kita. ALLooh SWT berfirman dalam QS. Al Munafiqun ayat 9 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu, anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat ALLooh. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”

Pembaca yang dimuliakan oleh ALLooh......
Oleh sebab itu ketaatan kepada ALLooh haruslah kita utamakan. Janganlah sampai harta kita atau anak-anak kita sampai menghalangi kita untuk mengingat ALLooh SWT. Jika kita sampai mendahulukan urusan yang lain daripada mengingat ALLooh, maka akan menjadi orang-orang yang merugi.

Jika kita mengaku sebagai orang yang beriman, maka kita haruslah mengutamakan mengingat ALLooh daripada urusan yang lain, karena dengan mengingat ALLooh hati kita menjadi tentram. Kita berdoa kepada ALLooh, agar DIA selalu menetapkan hati kita dalam agama-NYA dan selalu condong ke dalam urusan mengingat-NYA.


Semoga ALLooh SWT menguatkan iman kita, agar kita tidak terperdaya dengan bujukan setan yang menghalangi kita dari mengingat-NYA dan menyesatkan-NYA kita dari jalan-NYA yang pada akhirnya akan menyeret kita ke dalam jurang kehancuran, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Aamiiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.............

Monday, February 19, 2018

Iman Sebagai Landasan Hidup

Hasil gambar untuk Iman Sebagai Landasan HidupPara pembaca yang tercinta, mari kita meningkatkan taqwa kepada ALLooh SWT. Taqwa dalam arti memelihara diri dari segala bentuk kemunafikan dan kemusyrikan dengan menaati segala perintah-NYA dan menjauhi segala larangan-NYA.
Juga taqwa yang dapat melahirkan amal-amal sholeh sebagai pembuktian kebenaran iman, sebab segala tindak tanduk manusia, baik yang jahat maupun yang sholeh, semuanya merupakan pencerminan keimanannya kepada ALLooh SWT.
ALLooh SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 2:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama ALLooh gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNYA, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”.
Dari ayat ini, kita mengetahui bahwa tanda-tanda orang yang beriman itu ialah mereka yang hatinya gemetar jika mendengar nama ALLooh diucapkan. Juga mereka yang bertambah iman tatkala mereka mendengar ayat-ayat ALLooh dikumandangkan.
Gemetar hati mereka tatkala disebut nama ALLooh, ini menandakan bahwa ia hanya takut kepada ALLooh dan tunduk atas ketentuan-ketentuan-NYA. Jika sudah demikian keadaan seorang hamba, maka ia akan melakukan hal-hal yang baik saja, karena dia takut kepada ALLooh, takut kepada siksaan neraka-NYA. Dan ia juga akan melakukan hal-hal yang diridhoi-NYA, yang sering disebut dengan amal sholeh.
ALLooh SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 3:
“orang-orang yang mendirikan sholat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”
Demikianlah perbuatan yang nyata dari orang yang beriman, yaitu menegakkan sholat dan menafkahkan sebagian rezeki. Ia meyakini bahwa segala rezeki yang ia miliki adalah pemberian dari ALLooh.
Sholat adalah ibadah yang pokok dalam agama Islam. Jika seseorang baik amalan sholatnya, maka baik pula seluruh amalannya. Dan jika sebaliknya, ibadah sholatnya jelek, maka ibadah lain pun menjadi jelek pula.
Pembaca yang dirohmati ALLooh…..
Sholat, selain merupakan ibadah pokok, ia juga sebagai penentu tebal tidaknya iman seseorang. Karena di dalam sholat tersimpul ucapan dan gerak sebagai tanda pengabdian, penyerahan diri, serta pengakuan yang tulus dan ikhlas bahwa seluruh amal perbuatan, hidup bahkan matinya seseorang hanyalah untuk ALLooh.
Maka, telah jelaslah bahwa orang yang melaksanakan sholatnya ini dengan ini baik dan benar, maka terpelihara dari kemusyrikan, terjauh dari sifat-sifat tercela, dan terhindar dari sifat-sifat sombong dan angkara murka.
Selanjutnya ia akan menjadi hamba ALLooh yang taat, tawadhu’, rendah diri dan jauh dari sifat-sifat tercela, seperti: dengki, iri hati, sombong, riya’, sum’ah, dan lain sebagainya.
Di samping itu, ia juga akan gemar untuk menolong sesamanya dengan kelebihan harta yang telah ALLooh berikan kepadanya. Dan ia tidak riya’ dan sum’ah ketika memberikan pertolongan kepada orang lain, ia hanya mengharap keridhoan dari ALLooh SWT.
Maka telah nyatalah bahwa iman merupakan landasan hidup yang sempurna. Jika seseorang telah memiliki keimanan yang tinggi kepada ALLooh, maka ia akan giat beribadah dan giat menolong sesamanya.
Wahai saudaraku…………
Kita hendaknya selalu menyadari, bahwa dalam kehidupan ini selalu muncul dan menghadang duri-duri dan rintangan, yang pada akhirnya akan menjerumuskan seseorang yang sudah tidak punya pekerjaan, tidak punya penghasilan yang dapat mencukupi kebutuhan keluarganya, maka tidak menutup kemungkinan orang tersebut akan mengambil jalan pintas, dengan mencuri, merampok, menodong, dan lain sebagainya.
Untuk itu perlu adanya benteng yang kokoh untuk membentengi diri kita dari kesesatan, apa pun keadaannya. Dan benteng yang kokoh dan kuat itu tidak lain adalah iman kepada ALLooh.
Di saat orang jatuh miskin, maka ia tidak akan minta pertolongan kepada dukun. Ia akan meminta pertolongan hanya kepada ALLooh. Karena ia telah percaya kepada ALLooh, bahwa ALLooh-lah yang memberi rizki kepada makhluk-NYA.
ALLooh SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Taghobun ayat 11:
“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin ALLooh. Dan barangsiapa yang beriman kepada ALLooh, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan ALLooh Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Jika kita merenungi ayat di atas dengan penuh kesadaran, maka seseorang yang beriman kepada ALLooh tidak akan tergelincir ke lembah kesesatan jika ia terkena musibah, karena ALLooh SWT memberikan petunjuk kepada hatinya.
Orang yang beriman akan yakin bahwa segala cobaan itu datangnya dari ALLooh untuk menguji keimanannya, apakah ia benar-benar beriman kepada-NYA.
Orang yang beriman akan membentengi dirinya dari musibah itu dengan benteng kesabaran, yaitu sabar dalam arti tahan terhadap penderitaan, tabah, ulet dan tetap berkemauan untuk kerja keras mencapai keinginannya dengan tetap berpegang teguh ajaran agama.
Sikap-sikap semacam inilah yang merupakan ciri orang yang beriman, sebagai bukti bahwa ia hanya percayakan semuanya kepada ALLooh penyerahan diri secara total, apapun yang dikehendaki ALLooh untuknya, ia terima dengan lapang dada.
Pribadi-pribadi yang seperti inilah yang sangat diharapkan dalam mewujudkan sebuah masyarakat yang aman tentram dan damai, masyarakat yang diridhoi ALLooh SWT.
ALLooh SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 156-157:
“orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innaa liLLaahi wa innaa ilaihi rooji’un”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan Rohmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Maka dari itu mari kita selalu memelihara dan terus berupaya untuk meningkatkan iman kepada ALLooh, agar kita menjadi golongan orang-orang yang selamat dunia dan akhirat, dan dalam perjalanan hidup ini kita selalu mendapatkan petunjuk dari ALLooh dalam hati kita.
Marilah kita terapkan prinsip iman ini dalam kehidupan kita sehari-hari dengan meningkatkan kekhusyukan sholat kita, bukan hanya sholat wajib, tetapi juga sholat sunnah kita. Karena sholat itu dapat menghindarkan kita dari perbuatan keji dan munkar.
Jika kita telah melaksanakan sholat dengan baik, namun kita belum terhindar dari perbuatan keji dan munkar, maka berarti kita bukan semakin dekat dengan ALLooh, malah semakin jauh dari-NYA.
RosuuluLLooh SAW bersabda, “Barangsiapa yang sholatnya tidak dapat mencegah dari perbuatan murka dan keji, maka ALLooh tidak akan menambahkan kepada mereka kecuali ia akan semakin jauh dari ALLooh.”
Sungguh sangat besar fungsi dan nilai sholat dalam pribadi-pribadi yang luhur dan terpuji, bahkan sholat itu pun menjadi ukuran ketaatan seorang hamba kepada ALLooh SWT. Dari sini, maka nyatalah orang yang senantiasa menegakkan sholat dengan baik dan benar jiwanya akan tenang, dan ia akan selalu berusaha untuk menjalani kehidupan di dunia ini menurut aturan-aturan dan garis yang telah ditetapkan oleh ALLooh SWT.
Bahkan lebih dari itu, ia juga ringan tangan dalam membantu sesamanya, jiwa dan hartanya tidak digunakan dan dinikmati sendirian.
Orang-orang yang demikian itulah orang-orang yang optimis dalam memandang masa depannya, hati dan jiwanya tidak pernah khawatir dan sedih dalam menghadapi kepahitan dalam perjuangan hidup yang penuh dengan rintangan ini, karena ia telah mempunyai benteng yang kokoh, yaitu kesabaran. Mereka akan mendapatkan balasan atau ganjaran yang besar di sisi ALLooh, sebagaimana firman ALLooh dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 277:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal sholeh, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, mereka mendapot pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.
Jika seluruh kaum muslimin di dunia dapat melaksanakan hal di atas, maka tidak mustahil semua cita-cita ummat Islam akan terwujud, sebab semua perjuangan menuju cita-cita memerlukan sebuah landasan yang baik dan benar, sedangkan landasan yang baik dan benar itu tidak lain hanyalah Iman.
Wahai Saudaraku…………..
Dengan pemahaman inilah dapat kita harapkan tumbuhnya kesadaran untuk senantiasa menaati serta selalu tunduk kepada garis-garis atau aturan yang telah ditetapkan oleh ALLooh kepada kita, sehingga kita tergolong menjadi hamba-hamba-NYA yang mu’min dan muslim yang akan menerima pahala yang agung berupa surga yang kekal hidup di dalamnya.
Wahai Saudaraku………..
Kita harus menyadari pula bahwa iman itu dapat bertambah dan berkurang, semua itu tergantung kemauan kita untuk senantiasa memeliharanya dan meningkatkannya. Oleh sebab itu, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada ALLooh, agar kita menjadi hamba-hambaNYA yang mempunyai derajat tinggi di sisi-NYA.
Untuk meningkatkan iman, hendaklah kita selalu berusaha memperdalam ilmu dengan hadir ke majlis-majlis ilmu, belajar kepada guru yang menuntut kita untuk sampai kepada ALLooh. Dengan pemahaman agama dari guru yang mendalam, maka kita akan mengetahui bahwa melaksanakan agama Islam itu suatu kenikmatan yang luar biasa. Bukan hanya kita rasakan sewaktu kita hidup di dunia saja. Namun juga akan kita rasakan kenikmatannya sewaktu kita menjalani kehidupan yang sebenarnya di akhirat nanti.

WALLOOHU A’LAM BISH SHOWAAB

Friday, January 12, 2018

Virus Valentine's Day (bagian 2)

Menyoroti Valentine’s Day
Setiap Februari menjelang, banyak remaja Indonesia yang notabene mengaku beragama Islam ikut-ikutan sibuk mempersiapkan perayaan Valentine. Walau sudah banyak yang mendengar bahwa Valentine adalah salah satu hari raya ummat Kristiani yang mengandung nilai-nilai akidah Kristen, namun hal ini tidak mereka pedulikan. Bisakah dibenarkan sikap dan pandangan seperti itu?

Tidak boleh ummat Islam merayakannya, menyetujuinya, menampakkan kegembiraan padanya, atau membantu kelancarannya karena hal itu berarti melanggar hukum ALLooh yang merupakan suatu tindak kedzholiman.

Dan bila perayaan tersebut merupakan perayaan orang kafir maka makin parah dosanya sebab hal itu merupakan tasyabbuh (menyerupai) mereka dan termasuk bentuk loyalitas kepada mereka, sedangkan ALLooh dalam Al-Qur’an telah melarang kaum mukminin menyerupai orang-orang kafir dan loyal kepada mereka. Juga, telah shohih bahwa Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut.” [HR. Imam Abu Daawud dan Imam Achmad]

Perayaan Valentine’s Day termasuk hal di atas karena termasuk perayaan penyembah berhala dan ummat Nasrani. Maka tidak boleh ummat Islam yang beriman kepada ALLooh dan hari akhir ikut merayakannya, menyetujuinya, dan mengucapkan selamat untuknya.

Bahkan yang wajib adalah meninggalkannya dan menjauhinya sebagai ketaatan kepada ALLooh dan Rosul-NYA serta menjauhi sebab kemurkaan ALLooh. Sebagaimana pula diharamkan membantu semaraknya acara ini atau perayaan-perayaan haram lainnya baik dengan jual beli, mengirim kartu, mencetak, mensponsori, dan sebagainya karena semua itu termasuk tolong-menolong dalam dosa dan kemaksiatan. ALLooh SWT berfirman:
“…. Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran… [QS. Al-Ma’idah:2]

Ulama menyebutkan beberapa dampak negatif perayaan Valentine’s Day, di antaranya:
Pertama, Valentine’s Day hari raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari’at Islam.
Kedua, merayakan Valentine’s Day dapat menyebabkan cinta yang semu.
Ketiga, menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salafush-sholih.
Dampak buruk lainnya, terhapuslah nilai-nilai Islam serta memperbanyak jumlah mereka dengan mendukung dan mengikuti agama mereka.

Alhasil, hendaklah kaum muslimin sekarang ini mengetahui dan berhati-hati terhadap propaganda yang diserukan oleh orang-orang kafir yang berusaha menjauhkan kaum muslimin dari ajaran Islam dan melegalkan ajarannya yang sesat lagi menyesatkan.

VALENTINE, Hari Cinta?
Dikatakan, Valentine itu hari untuk menyebarkan kasih sayang dan cinta. Benarkah demikian? Salah, bahkan pernyataan itu sungguh memprihatinkan! Bukankah dengan demikian seolah-olah Islam tidak mengenal cinta kasih, padahal dalam Islam ajaran cinta kasih memiliki kedudukan tersendiri dengan skala prioritas sebagaimana tercantum dalam beberapa ayat yang ada di dalam Al-Qur’an.

Kelihaian dan kelicikan musuh Islam untuk menipu ummat Islam patut diacungi jempol. Valentine’s Day yang berbau syirik pun bisa terbungkus dan terpoles rapi dan digandrungi oleh generasi muda Islam yang tidak memiliki kekuatan Ilmu agama.

Kesimpulannya, Valentine’s Day merupakan hari raya orang kafir yang penuh kesyirikan. Tidak boleh ummat Islam ikut-ikutan merayakannya, dan membantu memeriahkannya dengan memperdagangkan alat-alat yang digunakan. Wajib ummat Islam menghindari kemurkaan ALLooh.

Kasih Sayang dalam Islam
Firman ALLooh SWT: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menjadikan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Sesungguhnya orang mulia di antara kamu di sisi ALLooh adalah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya ALLooh Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal.” [QS. Al-Hujurot:13]

Sebenarnya dalam Islam tidak mengenal hari kasih sayang, kasih sayang dalam Islam terhadap sesama tidaklah terbatas dengan waktu dan di manapun berada, baik untuk keluarga, kerabat, dan sahabat yang semuanya masih dalam koridor-koridor agama Islam itu sendiri. Nabi SAW bersabda: “Cintailah manusia seperti kamu mencintai dirimu sendiri.” [HR. Imam Bukhooriy]

Islam sangat melarang keras untuk saling membenci dan bermusuhan, namun sangat menjunjung tinggi akan arti kasih sayang terhadap ummat manusia. RosuuluLLooh SAW bersabda: “Janganlah kamu saling membenci, berdengki-dengkian, saling berpalingan, dan jadilah kamu sebagai hamba-hamba ALLooh yang bersaudara. Juga tidak dibolehkan seorang muslim meninggalkan (tidak bertegur sapa) terhadap saudaranya lewat tiga hari.” [HR. Imam Muslim]

Di sini jelas bahwa kita dianjurkan sekali untuk saling menjaga dan menghargai antar sesama sebagai tanda kasih sayang yang mesti dihormati. Hal ini untuk menghindari berbagai keburukan serta dapat mengenal antar sesama untuk memperkuat dan menjaga tali persaudaraan.

Dalam hadits Nabi SAW: “Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam hal kecintaan, kasih-sayang dan belas kasihan sesama mereka, laksana satu tubuh. Apabila sakit satu anggota dari tubuh tersebut maka akan menjalarlah kesakitan itu pada semua anggota tubuh itu dengan menimbulkan insomnia (tidak bisa tidur) dan demam (panas dingin).” [HR. Imam Muslim]

Bahkan dalam hadits lain disebutkan: “Tidak akan masuk surga kecuali orang yang penyayang”, jadi jelas bahwa yang masuk surga itu hanyalah orang-orang yang mempunyai rasa kasih sayang yang tanpa dibarengi dengan niat jelek.

Dengan datangnya Valentine’s Day dikhawatirkan bagi kaum muda-mudi yang tidak mengerti akan mampu terjerumus dalam hal-hal negatif dengan mentafsirkan kasih sayang di hari yang special ini. Firman ALLooh SWT: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” [QS Al-Isroo’:32]

Oleh karena itu kita meski sadar apa arti yang sesungguhnya sebuah kasih sayang. Dan masih banyak lagi di antara hadits Nabi SAW yang menerangkan tentang kasih sayang yang membawa kebaikan bagi ummat manusia. Dengan demikian marilah kita mencontoh budi pekerti Nabi Muchammad SAW yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits sebagai jalan untuk kebaikan untuk di dunia dan hari kemudian.

Sudah saatnya pemuda Islam sadar dari keterpurukan dan bangkit menyongsong masa depan yang sudah berada di tangan Islam.

WALLOOHU A’LAM BISH SHOWAAB

VIRUS VALENTINE’S DAY (bagian 1)

Gambar terkaitTanggal 14 Februari adalah hari yang sangat istimewa bagi para pendewa Valentine’s Day. Pada hari itu mereka mengungkapkan rasa cinta dan sayang kepada orang-orang yang diinginkan. Ada yang menyatakan perasaannya kepada teman, guru, orang tua, kakak ata adik, dan yang paling banyak adalah yang menyatakan kepada kekasihnya. Pada hari itu pula mereka mengirimkan kartu atau hadiah bertuliskan “Be my Valentine” (Jadilah Valentine-ku) atau sama artinya “Jadilah Kekasihku”.

Di Indonesia, sejak era 1980-an, perayaan Hari Valentine ini makin memprihatinkan. Jika kita masuk toko buku atau semisalnya di bulan Februari, akan tampak rak-rak yang berjajar berisikan beragam kartu ucapan Valentine’s Day. Tak mau kalah, toko-toko souvenir pun mulai menjajakan aneka kado bertema Valentine’s Day. Mall dan supermarket juga menghias seluruh ruangan dengan warna-warna pink dan biru lembut, dengan hiasan-hiasan berbentuk hati dan pita di mana-mana. Hampir semua media cetak dan elektronik pun jadi penggesa program misterius ini.

Dengan berfikir sedikit saja kita dapat mengetahui bahwa perayaan ‘aneh’ ini tidak lepas dari trik bisnis para pengusaha tempat hiburan, pengusaha hotel, perangkai bunga dan lainnya. Akhirnya jadilah perayaan Valentine sebagai perayaan bisnis yang bermuara pada perusakan akidah dan akhlak pemuda Islam (khususnya). Saatnya kita bertanya pada diri kita masing-masing, apa yang sudah kita lakukan dalam penyelamatan generasi kita.

SEKILAS SEJARAH VALENTINE’S DAY
Ribuan literatur yang menyebutkan sejarah Hari Valentine masih berbeda pendapat. Ada banyak versi tentang asal-usul perayaan Valentine ini. Yang paling populer adalah kisah Valentinus (St. Valentine) yang diyakini hidup pada masa Claudius II yang kemudian menemui ajal pada 14 Februari 269 M. Namun kisah ini pun ada beberapa versi lagi.

Yang jelas dan tidak memiliki silang pendapat adalah kalau kita memilik lebih jauh lagi ke dalam tradisi paganisme (dewa-dewi) Romawi Kuno. Pada waktu itu ada sebuah perayaan yang disebut Lupercalia. Di dalamnya terdapat upacara penyucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama dipersembahkan untuk Dewi Cinta, Juno Februata.

Pada hari ini, para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk bersenang-senang dan menjadi objek hiburan.

Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan Dewa Lupercalia terhadap gangguan serigala. Selama upacara ini, kaum muda memecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dipecut karena menganggap pecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I.
Kemudian agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496M Paus Galasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari.

Jati diri St. Valentine sendiri masih diperdebatkan sejarawan. Saat ini, sekurang-kurangnya ada tiga nama Valentine yang meninggal pada 14 Februari. Di antaranya ada kisah yang menceritakan bahwa Kaisar Caludius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat di medan peperangan daripada orang yang menikah.

Kaisar lalu melarang para pemuda menikah. Tindakan kaisar itu mendapatkan tantangan dari St. Valentine yang secara diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga ia pun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269M.
Dapat kita tarik beberapa kesimpulan:
1.       Valentine’s Day berakar dari upacara keagamaan ritual Romawi Kuno untuk menyembah dewa mereka yang dilakukan dengan penuh kesyirikan.
2.       Upacara yang biasa dilaksanakan pada 15 Februari tersebut pada tahun 496 oleh Paus Galasius I diganti menjadi 14 Februari.
3.       Agar dunia menerima, hari itu disamarkan dengan nama “hari kasih sayang” yang kini telah tersebar di berbagai negeri, termasuk negeri-negeri Islam.

JANGAN IKUTI BUDAYA KAFIR
Begitulah, Hari Valentine berasal dari zaman Romawi yang seluruhnya tidak lain adalah bersumber dari paganisme syirik, penyembahan berhala, dan penghormatan kepada pastor. Selain itu, perayaan Valentine Day adalah salah satu makar orang-orang Yahudi yang diselundupkan ke dalam tubuh ummat Islam supaya diikuti. Jadi, perayaan Valentine’s Day adalah salah satu acara yang diadakan orang-orang kafir dan orang-orang yang bergelimang dosa dalam rangka berbuat maksiat, mengumbar syahwat, dan memenuhi hawa nafsu belaka.

Mengapa masih banyak pemuda-pemudi Islam tertipu dan ikut-ikutan membeo budaya orang-orang kafir tersebut? Ingatlah wahai kaum muslimin, musuh-musuh Islam selalu berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan kalian dari ajaran agama kalian! ALLooh SWT berfirman: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk ALLooh itulah petunjuk  (yang benar).” [QS: Al-Baqoroh: 120]

Dari Sayyidina Abu Said Al-Khudri RA dari Nabi SAW: “Sungguh kalian akan mengikuti sunnah perjalanan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga mereka memasuki lubang dhob (hewan sejenis biawak di Arab). Mereka berkata: “Wahai RosuuluLLooh SAW apakah mereka Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?’ [HR. Imam Bukhooriy dan Imam Muslim]


Hadits ini merupakan mukjizat Nabi SAW karena sungguh mayoritas ummatnya ini telah mengikuti perjalanan kaum Yahudi dan Nasrani dalam gaya hidup, berpakaian, syiar-syiar agama, dan adat-istiadat. Dan hadits ini lafadznya berupa kabar yang berarti larangan mengikuti jalan-jalan selain agama Islam.

Thursday, December 21, 2017

Iman Kepada Hari Akhir

materi pendidikan agama islam tentang kiamatKita semua percaya dan yakin kepada ALLooh dan kedatangan hari akhir, yaitu hari dimana bumi menjadi gempa, gunung-gunung bertabrakan, laut tumbuh ke darat, planet-planet keluar dari garis edarnya, manusia-manusia beterbangan bagaikan anai-anai yang dihembus angin. Saat itu berakhirlah kehidupan dunia dan berganti dengan kehidupan akhirat.
                Siapa saja yang beramal sholih akan diselamatkan oleh ALLooh dari kedahsyatan padang mahsyar dan diberikan kepadanya pahala yang besar berupa surga dengan berbagai kenikmatan yang ada di dalamnya.
                Sedangkan orang yang durhaka dan kafir kepada ALLooh, maka ALLooh akan mencampakkannya dan tidak memperdulikan keadaannya karena sewaktu di dunia mereka pun tidak peduli kepada ajaran ALLooh, mereka akan menerima azab yang dahsyat berupa neraka dengan segala macam siksa dan penderitaan yang ada di dalamnya, mereka tinggal untuk selama-lamanya.
                ALLooh SWT berfirman:
“Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan DIA lebih mengetahui tentang apa yang mereka kerjakan. Orang-orang kafir dibawa ke neraka berombongan, sehingga setelah mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan para penjaganya berkata kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kalian rosul-rosul diantara kalian yang membacakan ayat-ayat Tuhan kepada kalian dan memperingatkan kalian akan pertemuan dengan hari ini (hari kiamat yang mereka dustakan sewaktu mereka hidup di dunia)? Mereka menjawab: “Benar (telah datang)”. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan adzab terhadap orang-orang yang kafir.”
                Dikatakan kepada mereka: “Masukilah pintu-pintu neraka itu, kalian kekal di dalamnya.” Maka neraka jahanam itupun seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.
                Dan orang-orang yang bertaqwa kepad Tuhan, dibawa ke surga berombongan pula, sehingga ketika mereka sampai ke surga itu, sedangkan pintu-pintunya telah terbuka dan para penjaganya berkata kepada mereka: “Semoga kesejahteraan selalu terlimpahkan kepada kalian, berbahagialah kalian. Maka masukilah surga ini, kalian kekal di dalamnya (untuk selama-lamanya).”
                Dan mereka mengucap: “Segala puji bagi ALLooh yang telah memenuhi janjinya kepada kami dan telah memberikan kami tempat ini, sedangkan kami diperkenankan menempati tempat dalam surga di manapun kami kehendaki. Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.”
                Wahai Saudaraku….
Iman kepada hari akhir merupakan rukun iman yang kelima. Ini berarti bahwa orang yang percaya kepada ALLooh, para malaikatNYA, kitab-kitabNYA, nabi-nabiNYA, namun ia ingkar terhadap hari akhir, maka berarti ia belum menyempurnakan imannya.
                Iman adalah masalah hati, sehingga keberadaannya tidak dapat diketahui oleh orang lain kecuali ALLooh. Oleh sebab itu banyak orang yang mengaku sebagai orang yang beriman, namun di dalam hatinya masih mengingkarinya.
                ALLooh SWT berfirman:
“Dan diantara manusia ada yang mengatakan: ‘Aku beriman kepada ALLooh dan hari akhir, padahal mereka tidak beriman.’”
                Wahai Saudaraku….
                Mengapa ALLooh membuat kiamat dan apa perlunya?
                Hari kiamat adalah hari berakhirnya kegiatan dunia dan berawalnya kehidupan akhirat yang mana yang patut untuk masuk surga dan yang pantas untuk masuk neraka dengan pengadilan yang seadil-adilnya, karena pada waktu itu mulut manusia yang penuh dusta akan ditutup oleh ALLooh dan tangan-tangan merekalah yang akan menjawab semua pertanyaan dari ALLooh.
                ALLooh SWT berfirman dalam QS. Yasin ayat 65:
“Dan pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”
                Dan firmanNYA yang lain dalam QS. Al-Isroo’ ayat 13:
“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka.”
                Wahai Saudaraku………………..
                Demikianlah kedahsyatan hari kiamat dan begitu juga keadilan ALLooh Yang Maha Adil. Tidak ada sesuatu perbuatan manusia sekecil dzar-rohpun yang lepas dari keadilan ALLooh. Barangsiapa yang berbuat kebaikan akan dibalas ALLooh dengan kebaikan pula, dan sebaliknya barangsiapa yang berbuat kejahatan akan dibalas kejahatan pula.
                Semoga kita dilindungi oleh ALLooh dari kedahsyatan dan ketakutan pada hari kiamat. Aamiiin

WALLOOHU A’LAM BISH SHOWAAB

Sunday, November 26, 2017

TAHUN BARU 1 JANUARI.

Hasil gambar untuk peringatan tahun baru masehiTahukah anda sejarah Tahun Baru 1 Januari?
“Semenjak abad ke 46 SM Raja Romawi Julius Caesar mene-tapkan 1 Januari sebagai HARI PERMULAAN tahun.
Orang Romawi MEMPERSEMBAHKAN hari 1 Januari kepada JANUS, DEWA SEGALA GERBANG PINTU-PINTU DAN PERMULAAN(WAKTU).

Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri,yaitu dewa yang memiliki dua wajah,Satu wajah meng-hadap ke (masa) depan dan satu wajah lagi menghadap ke (masa) lalu”.(THE WORLD BOOK ENCYCLOPEDIA VOL.14 hal.237).

Yang merayakan Malam Tahun Baru dengan cara apa pun, adalah mereka ikuti Kaum Penyembah berhala. (Paganis) yang merayakan HARI JANUS, dengan mengitari api unggun, meniup terompet berpesta dan bernyanyi ber-sama.

Bagi yang tidak ikut ikutan selmatlah anda, karena anda tetap terus berkomitmen dengan Qs.6:161-163 :
“Katakanlah (Muchammad)!
‘Sesungguhnya Robbku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrohim yang lurus. Dia Ibrohim tidak termasuk orang orang musyrik’.
“Katakanlah(Muchammad)!
‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku dan matiku hanya-lah untuk ALLooh, Robb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNYA, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim)”

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi Bagi Umat Islam
Ada sekian banyak pendapat yang berbeda tentang hukum merayakan tahun baru Masehi. Mereka yang mengharamkan perayaan malam tahun baru masehi, berhujjah dengan beberapa argumen.
a. Perayaan Malam Tahun Baru Adalah Ibadah Orang Kafir
Bahwa perayaan malam tahun baru pada hakikatnya adalah ritual peribadatan para pemeluk agama bangsa-bangsa di Eropa, baik yang Nasrani atau pun agama lainnya.
Sejak masuknya ajaran agama Nasrani ke eropa, beragam budaya paganis (keberhalaan) masuk ke dalam ajaran itu. Salah satunya adalah perayaan malam tahun baru. Bahkan menjadi satu kesatuan dengan perayaan Natal yang dipercaya secara salah oleh bangsa Eropa sebagai hari lahir Nabi Isa AS.
Walhasil, perayaan malam tahun baru masehi itu adalah perayaan hari besar agama kafir. Maka hukumnya haram dilakukan oleh umat Islam.

b. Perayaan Malam Tahun Baru Menyerupai Orang Kafir
Meski barangkali ada yang berpendapat bahwa perayaan malam tahun tergantung niatnya, namun paling tidak seorang muslim yang merayakan datangnya malam tahun baru itu sudah menyerupai ibadah orang kafir. Dan sekedar menyerupai itu pun sudah haram hukumnya, sebagaimana sabda RosuuluLLooh SAW: “Siapa yang menyerupai pekerjaan suatu kaum (agama tertentu), maka dia termasuk bagian dari mereka.”

c. Perayaan Malam Tahun Baru Penuh Maksiat
Sulit dipungkiri bahwa kebanyakan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum khomar, berzina, tertawa dan hura-hura. Bahkan bergadang semalam suntuk menghabiskan waktu dengan sia-sia. Padahal ALLooh SWT telah menjadikan malam untuk berisitrahat, bukan untuk melek sepanjang malam, kecuali bila ada anjuran untuk sholat malam.

Maka mengharamkan perayaan malam tahun baru buat umat Islam adalah upaya untuk mencegah dan melindungi umat Islam dari pengaruh buruk yang lazim dikerjakan para ahli maksiat.

Hari Raya Umat Islam Hanya ada Dua
Dalam agama Islam, yang namanya hari raya hanya ada dua saja, yaitu hari ‘Idul Fithr dan ‘Idul Adha. Selebihnya, tidak ada pensyariatannya, sehingga sebagai muslim, tidak ada kepentingan apapun untuk merayakan datangnya tahun baru.

Namun ketika harus menjawab, apakah bila ikut merayakannya akan berdosa, tentu jawabannya akan menjadi beragam. Yang jelas haramnya adalah bila mengikuti perayaan agama tertentu. Hukumnya telah disepakati haram. Artinya, seorang muslim diharamkan mengikuti ritual agama selain Islam, termasuk ikut merayakan hari tersebut.

Maka semua bentuk Natal bersama, atau apapun ritual agama lainnya, haram dilakukan oleh umat Islam. Dan larangannya bersifat mutlak, bukan sekedar mengada-ada.

Namun bagaimana dengan perayaan yang tidak terkait unsur agama, melainkan hanya terkait dengan kebiasaan suatu masyarakat atau suatu bangsa?

Sebagian kalangan masih bersikeras untuk mengaitkan perayaan datangnya tahun baru dengan kegiatan bangsa-bangsa non-muslim. Dan meski tidak langsung terkait dengan masalah ritual agama, tetap dianggap haram. Pasalnya, perbuatan itu merupakan tasyabbuh (menyerupai) orang kafir, meski tidak terkait dengan ritual keagamaan. Mereka mengajukan dalil bahwa RosuuLLooh SAW melarang tasyabbuh bil kuffar.

Dari Sayyiduna AbduLLooh bin Umar RA berkata bahwa RosuuluLLooh SAW bersabda, “Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk di antara mereka. (HR Imam Abu Daawud)

Dari Sayyidina AbduLLooh bin Amr RA berkata bahwa orang yang mendirikan Nairuz dan Mahrajah di atas tanah orang-orang musyrik serta menyerupai mereka hingga wafat, maka di hari kiamat akan dibangkitkan bersama dengan mereka.
Tasyabbuh di sini bersaifat mutlak, baik terkait hal-hal yang bersifat ritual agama ataupun yang tidak terkait.

Peringatan Maulid Nabi Muchammad SAW

Dalam sejarah banyak ditulis tentang hari, bulan dan tahun kelahiran beliau SAW, ulama ahli sejarah pun kadang berbeda pendapat dalam menentukan hal itu, namun yang masyhur menurut jumhur ulama, beliau SAW dilahirkan pada pagi hari, Senin 12 Robii’ul Awwal, tahun gajah. Seperti dikatakan oleh Imam Ibnu Hisyam dalam kitab Sirohnya, menukil dari Ibnu Ishaq.

Dinamakan tahun gajah karena pada tahun tersebut Raja Abrahah yang angkuh dari Yaman datang ke Makkah hendak menghancurkan Ka’bah dan ingin memalingkan kiblat ummat saat itu menuju Yaman. Tapi ternyata ALLOOH memelihara Ka’bah, tidak berkenan dengan perbuatan itu sehingga Abrahah dan tentaranya dibinasakan dengan batu-batu panas yang diambilkan dari neraka, dilemparkan oleh sekelompok burung Ababil.

Kemudian, bermula dari bulan kelahiran Nabi Muchammad SAW inilah saat ini kaum muslimin serentak di berbagai daerah mengadakan peringatan Maulid Nabi Muchammad SAW, apalagi hari ini bertepatan dengan hari kelahiran nabi yang mulia, hampir sebulan penuh mereka mengisi hari-hari tersebut dengan mengumpulkan orang-orang membaca kitab maulid, bersholawat memuji RosuuluLLooh SAW dan mendengarkan ceramah agama kemudian menikmati hidangan seadanya.

Kesemuanya itu tidak lain adalah perwujudan kesenangan hatinya menyambut datangnya bulan yang mulia ini. Yang ujung-ujungnya bahwa semua ini adalah realisasi dari kecintaannya kepada RosuuluLLooh SAW. Semua yang berkaitan dan berhubungan dengan beliau SAW menjadi mulia. Semua yang dinisbatkan kepada beliau menjadi terhormat. Ini semata-mata karena kemuliaan dan kehormatan beliau SAW.

Hari senin menjadi mulia karena pada hari itu dilahirkan Nabi Muchammad SAW, Nabi yang paling mulia, bulan Robii’ul Awwal menjadi bulan yang agung, ditunggu-tunggu kehadirannya oleh kaum muslimin, karena pada bulan Robii’ul Awwal ini dilahirkan Nabi Muchammad SAW yang ditunggu-tunggu seluruh alam persada. Karena beliaulah Nabi pembawa dan penyebar Rochmat untuk sekalian alam.

Peringatan maulid semacam ini sudah dilakukan oleh kaum muslimin sejak zaman dahulu. Para imam, ulama dan masyarakat awam pun ikut memeriahkannya. Namun akhir-akhir ini banyak kita dengar beberapa kelompok yang menyatakan bahwa peringatan Maulid ini adalah bid’ah yang mengarah kepada kesesatan dan akhirnya menuju neraka.

Mereka kemudian memakai dalil yang mereka miliki untuk menguatkan pendapatnya ini. Di antaranya mereka berkata bahwa Peringatan seperti ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muchammad SAW dan para sahabat. Peringatan seperti ini hanya membuang-buang waktu dan harta dan lain sebagainya. Benarkah pernyataan seperti itu?  

Lantas apakah kegiatan yang sudah turun-temurun, generasi demi generasi ini harus dibubarkan dan dinyatakan sebagai kegiatan yang menyalahi agama dan pelakunya akan terseret dalam kesesatan? TENTU TIDAK

Kita pun di sini akan mengemukakan beberapa dalil dan alasan yang menguatkan dibolehkannya melakukan peringatan Maulid Nabi SAW. Sebenarnya sudah banyak ulama menulis dalam karya beliau-beliau kitab khusus yang membahas masalah ini dan semuanya sudah sangat jelas dan akurat bahwa peringatan seperti itu boleh-boleh saja atau bahkan sangat dianjurkan apalagi di zaman seperti ini, zaman dimana-mana fitnah bertebaran, maksiat merajalela.

Perlu diketaahui bahwa perayaan atau peringatan Maulid seperti yang kita lakukan dan kita saksikan, memang tidak diadakan oleh Nabi SAW dan para sahabat, karena kesibukan beliau dalam mengemban dakwah, menyebarkan Risalah, berperang dan kesibukan lainnya.

Akan tetapi bukan berarti bahwa Beliau sama sekali tidak memperingati Maulid (kelahiran) beliau, Beliau SAW melakukannya, hanya saja beliau ungkapkan perasaan gembira tersebut dengan cara berpuasa. Seperti dalam hadits riwayat Imam Muslim, beliau SAW ditanya tentang puasa Senin yang beliau lakukan, beliau menjawab, “Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu aku diturunkan wahyu.”

Hadits di atas menunjukkan bahwa beliau senang dan bersuka cita akan hari kelahirannya walaupun kesenangan beliau ini diwujudkan dengan puasa, sedangkan kita menunjukkan kesenangan tersebut dengan cara mengumpulkan orang-orang untuk membaca Sholawat, Al Qur’an, memuji beliau, berdzikir dan bersedekah. Memang bentuk perayaannya berbeda tapi tujuan sama.

Al Imam As Sayyid Al Muchaddits Muchammad bin Alawy Al Hasani RA, menyebutkan dalil-dalil dibolehkannya melakukan peringatan Maulid Nabi Muchammad SAW, di antaranya sebagai berikut:
1. Kegembiraan dan ungkapan rasa senang terhadap keberadaan RosuuluLLooh SAW dituntut dan diperintahkan oleh Al-Qur’an sendiri, [QS. Yunus:58]
ALLOOH SWT telah memerintahkan kita untuk bergembira dengan adanya Rochmat dari ALLOOH SWT. Lalu adakah Rochmat yang lebih mulia daripada diutusnya RosuuluLLooh kepada ummat ini. Bahkan beliau sendiri merupakan Rochmat yang paling muliaa.

2. Perayaan Maulid Nabi ini akan memberikan semangat kepada orang muslim untuk memperbanyak sholawat kepada beliau ini sangat dianjurkan seperti dalam ayat Al-Qur’an: “Sesungguhnya ALLOOH dan para malaikat bersholawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah kepadanya dan bersalamlah.”
Maka apapun sarana yang mendorong dan memotivasi terjadinya sesuatu yang dianjurkan oleh agama, maka saranaa itupun juga dianjurkan oleh agama.

3. Dalam peringatan Maulid, kita mendengar sejarah kelahiran beliau, tentang kehidupan beliau, mukjizat dan akhlaq perangai beliau serta pengenalan lebih dekat kepada beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenal kekasih kita Nabi Muchammad SAW, bukankah kita diperintah untuk mengikuti dan berusaha meneladani beliau.
Maka adanya peringatan Maulid yang di dalamnya dibacakan kitab-kitab maulid yang berisi sejarah kehidupan RosuuluLLooh SAW, sangat dianjurkan agar kita lebih mengenal pribadi RosuuluLLooh SAW. Siapa tak kenal maka tak sayang.

4. Mengenal dan mengetahui Syamail (akhlaq pribadi), mukjizat dan keutamaan beliau SAW menarik seseorang agar lebih cinta kepada beliau, lebih menguatkan keimanan kepada beliau. Sebab tabiat manusia akan cinta terhadap sesuatu yang indah dan baik. Manusia akan tertarik kepada budi pekerti yang baik, ilmu dan amal yang baik serta keadaan yang baik pada diri seseorang. Lalu adakah seorang manusia yang lebih baik budi pekertinya, lebih baik ilmu dan pengamalannya serta lebih sempurna keadaannya daripada RosuuluLLooh SAW?
Maka dengan adanya peringatan maulid yang di dalamnya dibacakan sejarah kehidupan dan akhlaq beliau, akan menambah keimanan, kecintaan dan kerinduan kepada RosuuluLLooh SAW. Maka sarana yang mengarahkan kepada itu sangat dianjurkan menurut agama.

5. RosuuluLLooh SAW menerangkan tentang keutamaan dan kemuliaan hari Jum’at, di antara kemuliaan itu bahwa Nabi Adam AS dilahirkan (diciptakan) pada hari Jum’at. Sebagaimana riwayat Imam Achmad, Imam Abu Daawud dan Imam Hakim.
Jika hari Jumat menjadi hari yang begitu mulia karena pada hari itu diciptakannya Nabi Adam. Tidakkah lebih pantas jika hari Senin juga menjadi hari yang mulia dan sangat istimewa karena pada hari itu dilahirkan Nabi Muchammad SAW, Sayyidul Anbiya wal Musaalin?
Maka bulan Robii’ul Awwal adalah juga layak untuk kita muliakan dan meriahkan dengan melakukan peringatan maulid karena pada bulan inilah dilahirkan Nabi Muchammad SAW.

6. Peringatan Maulid Nabi Muchammad SAW sudah dianggap baik oleh sebagian besar ulama sejak dahulu kala, sehingga sesuatu yang dianggap baik oleh para ulama maka dianjurkan untuk dilakukan dan tentunya mengandung makna atau pengertian serta faedah yang positif. Dalam hadits yang berhenti pada Sayyidina AbduLLooh bin Mas’ud RA disebutkan:
“Sesuatu yang dipandang baik oleh kaum muslimin (secara umum) maka di sisi ALLOOH hal itu adalah baik dan sesuatu yang dipandang tidak baik oleh kaum muslimin maka di sisi ALLOOH itu adalah tidak baik.”
Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang menguatkan pendapat dibolehkannya melakukan peringatan Maulid Nabi Muchammad SAW. Banyak ulama yang telah berkomentar dan memberikan pendapatnya terhadap masalah ini.

WALLOOHU A’LAM BISH SHOWAAB