Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Monday, February 19, 2018

Berita Bohong (Haditsul Ifki)

Dalam edisi ini, kami akan menyajikan sebuah riwayat yang merupakan sebagai salah satu hadits terpanjang yang mana terjadi saat dalam perjalanan pulang kaum Muslimin dari Perang Bani Mustholiq inilah tersiar berita bohong yang bertujuan merusak keluarga Nabi Muchammad SAW. Berikut ini kami kemukakan ringkasan dari riwayat yang tertera di dalam Ash-Shohichain.
Siti Aisyah Ranha meriwayatkan bahwa dalam peperangan ini, ia ikut keluar bersama RosuuluLLooh SAW. Siti Aisyah Ranha berkata,” Setelah selesai dari peperangannya ini, RosuuluLLooh SAW bergegas di malam hari. Di saat semua orang sedang berkemas-kemas hendak berangkat, aku keluar untuk membuang hajat, lalu aku terus kembali hendak bergabung dengan rombongan. Pada saat itu, kuraba-raba kalung di leherku, ternyata sudah tidak ada lagi. Aku lalu kembali lagi ke tempat aku membuang hajat tadi untuk mencari-cari kalung hingga dapat kutemukan kembali.
Di saat aku sedang mencari-cari kalung, datanglah orang-orang yang bertugas melayani unta tungganganku. Mereka sudah siap segala-galanya. Mereka menduga aku berada di dalam haudaj (rumah kecil yang terpasang di atas punggung unta) sebagaimana dalam perjalanan. Karena itu, mereka lalu mengangkat haudaj kemudian mengikatkannya pada punggung unta. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa aku tidak berada di dalam haudaj. Karena itu, mereka segera memegang tali kekang unta lalu mulai berangkat….!
Ketika aku kembali ke tempat perkemahan, tidak kujumpai seorang pun yang masih tinggal. Semuanya telah berangkat. Dengan berselimutkan jilbab, aku berbaring di tempat itu. Aku berpikir, pada saat mereka mencari-cari aku, tentu mereka akan kembali ke tempatku. Demi ALLooh, di saat aku sedang berbaring, tiba-tiba Shofwan bin Mu’aththol lewat. Agaknya, ia bertugas di belakang pasukan. Dari kejauhan, ia melihat bayang-bayangku. Ia mendekat lalu berdiri di depanku – ia sudah melihat dan mengenalku sebelum kaum wanita dikenakan wajib berjilbab. Ketika melihatku, ia berucap,’Inna liLLaahi wa inna ilaihi rooji’un! Istri RosuuluLLooh? Aku pun terbangun karena ucapannya itu. Aku tetap menutup diriku dengan jilbabku. Demi ALLooh, kami tidak mengucapkan satu kalimat pun dan aku tidak mendengar ucapan darinya kecuali ucapan Inna liLLaahi wa inna ilaihi rooji’un itu. Dia kemudian merendahkan untanya lalu aku menaikinya. Ia berangkat menuntun unta kendaraan yang aku naiki sampai kami datang di Nahri Adh-Dhohiroh tempat pasukan turun istirahat. Di sinilah mulai tersiar fitnah tentang diriku. Fitnah ini bersumber dari mulut AbduLLooh bin Ubay bin Salul.”
Siti Aisyah Ranha melanjutkan, “Setibanya di Madinah kesehatanku terganggu selama sebulan. Saat itu, rupanya orang-orang sudah banyak mendesas-desuskan berita bohong itu, sedangkan aku belum mendengar sesuatu mengenainya. Hanya saja aku tidak melihat kelembutan dari RosuuluLLooh SAW yang biasa kurasakan ketika aku sakit. Beliau hanya masuk lalu mengucapkan salam dan bertanya, ‘Bagaimana keadaanmu?’ Setelah agak sehat, aku keluar pada suatu malam bersama Ummu Masthoh untuk membuang hajat – waktu itu kami belum membuat kakus. Di saat kami pulang tiba-tiba kaki Ummu Masthoh terantuk hingga kesakitan dan terlontar ucapan dari mulutnya, ‘Celaka Si Masthoh!’ Ia kutegur. ‘Alangkah buruknya ucapanmu itu mengenai seorang dari kaum Muhajirin yang turut serta dalam Perang Badar! Ummu Masthoh bertanya, ‘Apakah Anda tidak mendengar apa yang dikatakannya?” Siti Aisyah Ranha melanjutkan, “Ia kemudian menceritakan kepadaku tentang berita bohong yang tersiar sehingga sakitku bertambah parah. Malam itu, aku menangis hingga pagi. Air mataku terus menetes dan aku tidak dapat tidur.”
RosuuluLLooh SAW kemudian mulai meminta pandangan para sahabatnya mengenai hal ini. Di antara mereka ada yang berkata: “Wahai RosuuluLLooh, mereka (para istri Nabi) adalah keluargamu. Kami tidak mengetahui kecuali kebaikan.” Ada pula yang mengatakan, “Engkau tak perlu bersedih. Masih banyak wanita (lainnya). Tanyakan hal itu kepada pelayan perempuan (maksudnya Bariroh). Ia pasti akan memberikan keterangan yang benar kepada Anda.”
RosuuluLLooh SAW lalu memanggil pelayan perempuan bernama Bariroh dan bertanya, “Apakah kamu melihat sesuatu yang mencurigakan dari Aisyah?” Ia lalu mengabarkan kepada Nabi SAW bahwa ia tidak mengetahui Siti Aisyah kecuali sebagai orang yang baik-baik. Nabi SAW kemudian berdiri di atas mimbar dan bersabda, “Wahai kaum muslimin! Siapa yang akan membelaku dari seseorang lelaki yang telah menyakiti keluargaku? Demi ALLooh aku tidak mengetahui dari keluargaku kecuali yang baik. Sesungguhnya, mereka telah menyebutkan seorang lelaki yang aku tidak mengenal lelaki itu kecuali sebagai orang yang baik.”
Sahabat Sa’ad bin Mu’adz lalu berdiri seraya berkata,”Aku yang akan membelamu dari orang itu, wahai RosuuluLLooh! Jika dia dari Suku Aus kami siap memenggal lehernya. Jika dia dari saudara kami suku Khozroj, perintahkanlah kami, kami pasti akan melakukannya.” Kemudian timbullah keributan di masjid sampai RosuuluLLooh SAW meredakan mereka.
Siti Aisyah RAnha melanjutkan, “RosuuluLLooh SAW kemudian dating ke rumahku. Saat itu, ayah ibuku berada di rumah. Ayah ibuku menyangka bahwa tangisku telah menghancurluluhkan hatiku. Sejak tersiar berita bohong itu, Nabi SAW tidak pernah duduk di sisiku. Selama sebulan, beliau tidak mendapatkan wahyu tentang diriku.”  Siti Aisyah Ranha berkata,”Ketika duduk, Nabi SAW membaca puji syukur ke hadirat ALLooh lalu bersabda, ‘Hai Aisyah, aku telah mendengar mengenai apa yang dibicarakan orang tentang dirimu. Jika engkau tidak bersalah, pasti ALLooh akan membebaskan dirimu. Jika engkau telah melakukan dosa, mintalah ampunan kepada ALLooh dan bertobatlah kepada-NYA.’ Seusai RosuuluLLooh SAW mengucapkan ucapannya itu, tanpa kurasakan air mataku tambah bercucuran. Kemudian aku katakan kepada ayahku, ‘Berilah jawaban kepada RosuuluLLooh mengenai diriku.’ Ayahku menjawab, ‘Demi ALLooh, aku tidak tahu bagaimana harus menjawab.’ Aku katakan pula kepada ibuku, ‘Berilah jawaban mengenai diriku.” Dia pun menjawab, ‘Demi ALLooh, aku tidak tahu bagaimana harus menjawab.’ Aku lalu berkata, ‘Demi ALLooh, sesungguhnya kalian telah mendengar hal itu sehingga kalian telah membenarkannya. Jika aku katakan kepada kalian bahwa aku tidak bersalah ---- ALLooh Maha Mengetahui bahwa aku tidak bersalah --- kalian pasti tidak akan membenarkannya. Jika aku mengakuinya --- ALLooh Maha Mengetahui bahwa aku tidak bersalah --- pasti kalian akan membenarkan aku. Demi ALLooh, aku tidak menemukan perumpamaan untuk diriku dan kalian kecuali sebagaimana yang dikatakan oleh bapak Nabi Yusuf AS, ‘Sebaiknya aku bersabar. Kepada ALLooh sajalah aku mohon pertolongan atas apa yang kalian lukiskan.’ [QS. Yusuf: 18]
Siti Aisyah Ranha berkata: “Aku kemudian pindah dan berbaring di atas tempat tidurku.”
Selanjutnya, Siti Aisyah Ranha berkata, “Demi ALLooh, RosuuluLLooh SAW belum bergerak dari tempat duduknya, juga belum ada seorang pun dari penghuni rumah yang keluar sehingga ALLooh menurunkan wahyu kepada Nabi-NYA. Beliau tampak lemah lunglai seperti biasanya tip hendak menerima wahyu Ilahi. Keringatnya bercucuran karena beratnya wahyu yang diturunkan kepadanya.” Siti Aisyah berkata, “Kemudian keringat mulai berkurang dari badan RosuuluLLooh SAW lalu beliau tampak tersenyum. Ucapan yang pertama terdengar ialah, ‘Bergembiralah wahai Aisyah, sesungguhnya ALLooh telah membebaskan kamu.’ Ibuku pun kemudian berkata, ‘Berdirilah (berterima kasihlah) kepadanya.’ Aku jawab,
‘Tidak! Demi ALLooh, aku tidak akan berdiri (berterima kasih) kepadanya (Nabi SAW) dan aku tidak akan memuji kecuali ALLooh. Karena Dialah yang telah menurunkan pembebasanku.’”
Siti Aisyah Ranha berkata,”ALLooh kemudian menurunkan firman-NYA,
‘Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya adzab yang besar…… (sampai dengan ayat 21))’ [QS. An-Nur: 11-21]
Siti Aisyah melanjutkan,”Sebelum peristiwa ini, ayahku membiayai Masthoh karena keberabatan dan kemiskinannya. Akan tetapi, setelah peristiwa ini, ayahku berkata,’Demi ALLooh, saya tidak akan membiayainya lagi karena ucapan yang diucapkannya kepada Aisyah.” ALLooh kemudian menurunkan firman-NYA,
‘Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang misikin dan orang-orang yang berhijrah di jalan ALLooh, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa ALLooh mengampuni?? Dan ALLooh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ [QS. An-Nur:22]
Sayyidina Abu Bakar lalu berkata,’Demi ALLooh, sungguh aku ingin mendapatkan ampunan ALLooh.’ Ia kemudian kembali membiayai Masthoh.”

Nabi SAW kemudian keluar menyampaikan khotbah kepada orang-orang dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah diturunkan mengenai masalah ini. Selanjutnya, Nabi SAW memerintahkan supaya dilakukan hukum hadd (dera) kepada Masthoh bin Utsatsah, Hasan bin Tsabit dan Hamnah binti Jahsy karena mereka termasuk orang-orang yang ikut menyebar luaskan desas-desus berita fitnah tersebut.” [HR. Imam Abu Daawud, Imam Ibnu Majah, Imam Ibnu Ishaq dan lainnya]

Sunday, July 16, 2017

Mencintai orang-orang sholeh merupakan tanda keberuntungan

Hasil gambar untuk beruntung bersama orang sholehApabila para pecinta dunia yaitu orang-orang lalai dan yang mencampur adukkan antara yang halal dan haram, mencintai para ulama ‘amilin dan para auliya’. Dan juga mereka menghormati serta merasa iri terhadap keadaan mereka yang selalu taat beribadah kepada ALLOOH SWT.

Maka hal ini akan menjadi kebaikan dan tanda kebahagiaan bagi mereka. Bahkan perasaan ini dapat memotivasi mereka untuk meniru orang-orang yang baik, mengikuti jejak mereka. Serta melakukan seperti perbuatan mereka yang sholeh dan meniru sifat mereka yang terpuji, hal semacam ini sering terjadi.

Hal yang serupa pernah terjadi. Pada suatu ketika, para kelompok pelaku kemaksiatan berkumpul di suatu tempat, mereka mengirim seseorang dengan bekal 20 dirham untuk membeli buah-buahan dan makanan lezat untuk menghangatkan suasana mereka. Ketika orang ini pergi ke pasar untuk membeli keperluan itu, lalu ia mendapati orang-orang mengerumuni sebuah semangka.

Masing-masing orang ingin membelinya Karena buah semangka ini telah disentuh tangan Imam Bisyr bin Al-Harits RA. Melihat hal itu ia kemudian membeli buah semangka itu dengan seluruh uang yang ia bawa lalu membawanya kembali kepada teman-temannya yang telah lama menunggunya, setelah ia dating tanpa membawa apapun kecuali buah semangka tadi, mereka bertanya: “Mengapa engkau lama sekali, padahal engkau kembali kepada kami tanpa membawa apapun, kecuali buah semangka ini?”
Lalu ia pun menjawab: “Buah semangka ini sungguh ajaib.” Mereka bertanya: “Kenapa demikian?” Ia menjawab: “Buah ini telah disentuh oleh Bisyr bin Al-Harits hingga aku memperebutkannya dengan seluruh uang itu.” Mereka keheranan dan bertanya: “Siapa gerangan Bisyr ini?” Ia menjawab: “Ia seorang hamba yang taat kepada ALLOOH hingga ALLOOH memuliakannya.”

Mereka satu sama lain merenung dan berkata: “Andaikan orang yang taat saja mendapat kemuliaan di sisi ALLOOH semasa di dunia sampai sedemikian rupa, lalu bagaimana kelak di akhiratnya.” Semenjak itu mereka semuanya bertaubat dan meninggalkan kebiasaan buruk .

Kejadian Bersama orang-orang yang bertaqwa semacam ini telah banyak dialami oleh orang-orang yang lalai dan berpaling selama mereka menghormati dan mencintai orang-orang yang bertaqwa.

Adapun orang-orang yang selalu mengingat akhirat dan rajin beribadah kepada ALLOOH SWT, namun apabila mereka mencintai para pecinta duniawi yang lalai, hati mereka condong kepada mereka, memandang baik pola kehidupan mereka, bahkan mereka iri terhadap keadaan orang-orang yang penuh dengan materi duniawi.

Maka hal ini menunjukkan kelemahan nurani mereka dan runtuhnya semangat serta kesungguhan mereka. Bahkkan sebagai bukti tidak adanya  kesungguhan dalam mengharap karunia ALLOOH SWT dan akhirat. Hal ini dikarenakan dunia ini hina dan seluruh isinya pun juga hina. Begitu pula, akan menjadi hina orang yang mengejarnya. Yang hatinya terikat oleh kemewahannya, yang mempunyai keinginannya besar untuk mengumpulkan dan memperbanyaknya.

Apabila ahli akhirat telah mengagungkan dan cemburu terhadap golongan yang sifatnya demikian, maka bisa jadi kedudukan mereka lebih rendah. Kebaikan mereka lebih sedikit dan keinginan mereka lebih hina dari golongan itu.

Justru sepatutnya bagi yang taat beragama, mengangkat semangat mereka dan membersihkan diri mereka dari kecondongan kepada pecinta dunia dan seharusnya mereka memandang buruk segala macam bentuk kesenangan duniawi. Karena sesungguhnya kesenangan duniawi adalah kotoran dan najis.

Dalam sabda RosuuluLLooh SAW dan ungkapan para salafunashshoolichiin, dunia diibaratkan bangkai berbau busuk dan sampah yang kotor. Sebagaimana sabda Baginda Nabi Muchammad SAW:
“Dunia adalah bangkai yang menjijikkan.”

Al Imam Fudhail bin Iyadh berkata: “Andaikan dikatakan paduk, ambillah dunia ini halal tanpa hisaB (diperhitungkan) niscaya aku merasa jijik terhadpnya. Seperti seorang dari kalian merasa jijik terhadap bangkai saat melewatinya, ia takut terkena bajunya.”

Al Imam Al Yafi’I RochimahuLLooh menceritakan dalam kitabnya: “Ada seorang Menteri yang keluar Bersama rombongan pasukan yang besar hingga orang-orang asing bertanya: “Siapakah mereka ini?” Mereka mengagungkannya. Lalu ada seorang wanita di pinggir jalan bertanya: “Sampai kapan kalian bertanya siapa ini? Dia seorang hamba yang telah gugur di mata ALLOOH sehingga ALLOOH mengujinya seperti yang kalian lihat saat ini.”

Ucapan ini didengar oleh si Menteri lalu ia kembali menghadap kepada raja dan mengundurkan dirinya dari kementerian. Lalu ia keluar dari kota itu dan menyatakan bertaubat. Kemudian ia hijrah menuju kot Makkah dan menetap di sana sampai meninggal dunia.


Tidak sepantasnya bagi ahli akhirat tatkala mereka melihat para pecinta dunia yang sedang asyik mengumpulkan dunianya dan sibuk dalam kesenangannya, kecuali mereka merasa kasihan terhadap orang-orang itu. Dan mendoakan mereka agar mereka diselamatkan dari keadaan mereka yang berpaling dari ALLOOH SWT dan dari akhirat yang merupakan tempat kembali.

Adapun ahli akhirat yang ingin bisa seperti mereka bahkan cemburu terhadap keadaan mereka. Naudzu biLLaah hal ini muncul tak lain dari orang yang tidak memiliki nurani serta tidak memiliki kesungguhan terhadap ALLOOH SWT. Mereka tidak memiliki sifat zuhud yang benar dan tidak menginginkan akhirat yang merupakan tempat yang lebih baik dan lebih kekal.

Barangsiapa yang telah melakukan hal ini, berarti ia telah mengganti barang murah dengan barang yang lebih mahal dan lebih kekal. Ia tidak mengerti keagungan nikmat ALLOOH SWT padanya yang mana ia telah dipilih untuk lebih giat beribadah kepadaNYA dan lebih senang kepada akhirat yang kekal. Dan ia telah dijauhkan dari bencana berpaling dan lalai dariNYA serta juga dari mengejar materi duniawi yang fana dan tidak berharga ini.
RosuuluLLooh SAW bersabda:
“Andaikan dunia bernilai di sisi ALLOOH meski seberat sayap seekor lalat, pasti ALLOOH tidak akan memberi seteguk air kepada seorang kafir.”
Riwayat mengenai hal ini banyak sekali, sedangkan Taufiq dan Hidayah hanyalah di tangan ALLOOH SWT. Semua urusan hanya milik ALLOOH SWT dan tiada daya maupun kekuatan kecuali milik ALLOOH SWT jualah. WaLLoohu a’lam.

Wednesday, July 12, 2017

KISAH NYATA...

Hasil gambar untuk bakti kepada ibuSalah seorang dokter bercerita tentang kisah sangat menyentuh yang pernah dialaminya.
Dokter itu memulai ceritanya dengan mengatakan : 

“Suatu hari, masuklah seorang wanita lanjut usia ke ruang praktek saya di sebuah Rumah Sakit. Wanita itu ditemani seorang pemuda yang usianya sekitar 30 tahun. Saya perhatikan pemuda itu memberikan perhatian yang lebih kepada wanita tersebut dengan memegang tangannya, memperbaiki pakaiannya, dan memberikan makanan serta minuman padanya…

Setelah saya menanyainya seputar masalah kesehatan dan memintanya untuk diperiksa, saya bertanya pada pemuda itu tentang kondisi akalnya, karena saya dapati bahwa perilaku dan jawaban wanita tersebut tidak sesuai dengan pertanyaan yang ku ajukan.

Pemuda itu menjawab :
“Dia ibuku, dan memiliki keterbelakangan mental sejak aku lahir”
Keingintahuanku mendorongku untuk bertanya lagi : “Siapa yang merawatnya?”
Ia menjawab : “Aku”
Aku bertanya lagi : “Lalu siapa yang memandikan dan mencuci pakaiannya?”
Ia menjawab : “Aku suruh beliau masuk ke kamar mandi dan aku membawakan baju untuknya serta menantinya hingga ia selesai. Aku yang melipat dan menyusun bajunya di lemari. Aku masukkan pakaiannya yang kotor ke dalam mesin cuci dan membelikannya pakaian yang dibutuhkannya”

Aku bertanya : “Mengapa engkau tidak mencarikan untuknya pembantu?”
Ia menjawab : “Karena ibuku tidak bisa melakukan apa-apa dan seperti anak kecil, aku khawatir pembantu tidak memperhatikannya dengan baik dan tidak dapat memahaminya, sementara aku sangat paham dengan ibuku”
Aku terperangah dengan jawabannya dan baktinya yang begitu besar..

Aku pun bertanya : “Apakah engkau sudah beristri?”
Ia menjawab : “Alhamdulillah, aku sudah beristri dan punya beberapa anak”
Aku berkomentar : “Kalau begitu berarti istrimu juga ikut merawat ibumu?”

Ia menjawab : “Istriku membantu semampunya, dia yang memasak dan menyuguhkannya kepada ibuku. Aku telah mendatangkan pembantu untuk istriku agar dapat membantu pekerjaannya. Akan tetapi aku berusaha selalu untuk makan bersama ibuku supaya dapat mengontrol kadar gula darahnya”.
Aku Tanya : “Memangnya ibumu juga terkena penyakit Gula?”
Ia menjawab : “Ya...Dan aku selalu mengontrolnya agar stabil..

Aku semakin takjub dengan pemuda ini dan aku berusaha menahan air mataku…
Aku mencuri pandang pada kuku tangan wanita itu, dan aku dapati kukunya pendek dan bersih.
Aku bertanya lagi : “Siapa yang memotong kuku-kukunya?”

Ia menjawab : “Aku Dokter...Ibuku tidak dapat melakukan apa-apa”

Tiba-tiba sang ibu memandang putranya dan bertanya seperti anak kecil : “Kapan engkau akan membelikan untukku kentang?”

Ia menjawab : “Tenanglah ibu, sekarang kita akan pergi ke kedai”
Ibunya meloncat-loncat karena kegirangan dan berkata : “Sekarang…Sekarang!”
Pemuda itu menoleh kepadaku dan berkata : “Demi Allah, kebahagiaanku melihat ibuku gembira lebih besar dari kebahagiaanku melihat anak-anakku gembira…”

Aku sangat tersentuh dengan kata-katanya…dan aku pun pura-pura melihat ke lembaran data ibunya.
Lalu aku bertanya lagi : “Apakah anda punya saudara?”

Ia menjawab : “Aku putranya semata wayang, karena ayahku menceraikannya sebulan setelah pernikahan mereka”
Aku bertanya : “Jadi anda dirawat ayah?”

Ia menjawab : “Tidak, tapi nenek yang merawatku dan ibuku. Nenek telah meninggal – semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmatinya – saat aku berusia 10 tahun”

Aku bertanya : “Apakah ibumu merawatmu saat anda sakit, atau ingatkah anda bahwa ibu pernah memperhatikan anda? Atau dia ikut bahagia atas kebahagiaan anda, atau sedih karena kesedihan anda?”

Ia menjawab : “Dokter…sejak aku lahir ibu tidak mengerti apa-apa…kasihan dia…dan aku sudah merawatnya sejak usiaku 10 tahun”

Aku pun menuliskan resep serta menjelaskannya…
Ia memegang tangan ibunya dan berkata : “Mari kita ke kedai..”
Ibunya menjawab : “Tidak, aku sekarang mau ke Mekah saja!”
Aku heran mendengar ucapan ibu tersebut…

Maka aku bertanya padanya : “Mengapa ibu ingin pergi ke Mekah?”
Ibu itu menjawab dengan girang : “Agar aku bisa naik pesawat!”
Aku pun bertanya pada putranya : “Apakah anda akan benar-benar membawanya ke Makkah?”
Ia menjawab : “Tentu…aku akan mengusahakan berangkat kesana akhir pekan ini”

Aku katakan pada pemuda itu : “Tidak ada kewajiban Umrah bagi ibu anda…lalu mengapa anda mau membawanya ke Mekah?”

Ia menjawab : “Mungkin saja kebahagiaan yang ia rasakan saat aku membawanya ke Mekah akan membuat pahalaku lebih besar daripada aku pergi Umrah tanpa membawa ibuku”.

Lalu pemuda dan ibunya itu meninggalkan tempat praktekku.

Aku pun segera meminta pada perawat agar keluar dari ruanganku dengan alasan aku ingin istirahat…
Padahal sebenarnya aku tidak tahan lagi menahan tangis haru…

Aku pun menangis sejadi-jadinya menumpahkan seluruh yang ada dalam hatiku…
Aku berkata dalam diriku : “Begitu berbaktinya pemuda itu, padahal ibunya tidak pernah menjadi ibu sepenuhnya…
Ia hanya mengandung dan melahirkan pemuda itu…

Ibunya tidak pernah merawatnya…
Tidak pernah mendekap dan membelainya penuh kasih sayang…
Tidak pernah menyuapinya ketika masih kecil…
Tidak pernah begadang malam…
Tidak pernah mengajarinya…
Tidak pernah sedih karenanya…
Tidak pernah menangis untuknya…
Tidak pernah tertawa melihat kelucuannya…
Tidak pernah terganggu tidurnya disebabkan khawatir pada putranya…
Tidak pernah….dan tidak pernah…!

Walaupun demikian…Pemuda itu berbakti sepenuhnya pada sang ibu. Apakah kita akan berbakti pada ibu-ibu kita yang kondisinya sehat, seperti bakti pemuda itu pada ibunya?

Subhanallah...😭

Allahuma Shali ‘Alaa Sayyidina Muhammad Wa ‘Alaa Aali Sayyidina Muhammad.

Thursday, June 1, 2017

MENEMANI MAYAT SELAMA 40 HARI

Hasil gambar untuk MENEMANI MAYAT SELAMA 40 HARIAlkisah seorang Konglomerat yang sangat kaya raya menulis surat wasiat: "Barang siapa yang mau menemaniku selama 40 hari di dalam kubur setelah aku mati nanti, akan aku beri warisan separuh dari harta peninggalanku."
Lalu ditanyakanlah hal itu kepada anak-anaknya apakah mereka sanggup menjaganya di dalam kubur nanti.
Tapi anak-anaknya menjawab, "Mana mungkin kami sanggup menjaga ayah, karena pada saat itu ayah sudah menjadi mayat."

Keesokan harinya, dipanggillah semua adik-adiknya. Dan beliau kembali bertanya, “Adik-adikku, sanggupkah diantara kalian menemaniku di dalam kubur selama 40 hari setelah aku
mati nanti? Aku akan memberi setengah dari hartaku!"

Adik-adiknya pun menjawab, “Apakah engkau sudah gila? Mana mungkin ada orang yang sanggup bersama mayat selama itu di dalam tanah.”

Lalu dengan sedih Konglomerat tadi memanggil ajudannya, untuk mengumumkan penawaran istimewanya itu ke se antero negeri

Akhirnya, sampai jugalah pada hari di mana Konglomerat tersebut kembali ke Rahmatullah. Kuburnya dihias megah laksana sebuah peristirahatan termewah dengan semua perlengkapannya.

Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang Tukang Kayu yang sangat miskin mendengar pengumuman wasiat tersebut. Lalu Tukang Kayu tersebut dengan tergesa-gesa segera datang ke rumah Konglomerat tersebut untuk memberitahukan kepada ahli waris akan kesanggupannya.

Keesokan harinya dikebumikanlah jenazah Sang Konglomerat. Si Tukang Kayu pun ikut turun ke dalam liang lahat sambil membawa Kapaknya. Yang paling berharga dimiliki si Tukang Kayu hanya Kapak, untuk bekerja mencari nafkah.

Setelah tujuh langkah para pengantar jenazah meninggalkan area pemakaman, datanglah Malaikat Mungkar dan Nakir ke dalam kubur tersebut.

Si Tukang kayu menyadari siapa yang datang, ia segera agak menjauh dari mayat Konglomerat. Di benaknya, sudah tiba saatnya lah si Konglomerat akan diinterogasi oleh Malaikat Mungkar dan Nakir.

Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Malaikat Mungkar-Nakir malah menuju ke arahnya dan bertanya, "Apa yang kau lakukan di sini?"

Aku menemani mayat ini selama 40 hari untuk mendapatkan setengah dari harta warisannya", jawab si Tukang kayu.

Apa saja harta yang kau miliki?", tanya Mungkar-Nakir.
"Hartaku cuma Kapak ini saja, untuk mencari rezeki", jawab si Tukang Kayu.

Kemudian Mungkar-Nakir bertanya lagi, "Dari mana kau dapatkan Kapakmu ini?"
"Aku membelinya", balas si Tukang Kayu.
Lalu pergilah Mungkar dan Nakir dari dalam kubur tersebut.

Besok di hari kedua, mereka datang lagi dan bertanya, "Apa saja yang kau lakukan dengan Kapakmu?"
"Aku menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar, lalu aku jual ke pasar", jawab tukang kayu.

Di hari ketiga ditanya lagi, "Pohon siapa yang kau tebang dengan Kapakmu ini?"
"Pohon itu tumbuh di hutan belantara, jadi ngak ada yang punya", jawab si Tukang Kayu.
"Apa kau yakin?", lanjut Malaikat.
Kemudian mereka menghilang.

Datang lagi di hari ke empat, bertanya lagi "Adakah kau potong pohon-pohon tersebut dengan Kapak ini sesuai ukurannya dan beratnya yang sama untuk dijual?"
"Aku potong dikira-kira saja, mana mungkin ukurannya bisa sama rata", tegas tukang kayu.

Begitu terus yang dilakukan Malaikat Mungkar Nakir, datang dan pergi sampai tak terasa sekarang 39 hari sudah. Dan yang ditanyakan masih berkisar dengan Kapak tersebut.

Di hari terakhir yang ke 40, datanglah Mungkar dan Nakir sekali lagi bertemu dengan Tukang kayu tersebut. Berkata Mungkar dan Nakir, "Hari ini kami akan kembali bertanya soal Kapakmu ini".

Belum sempat Mungkar-Nakir melanjutkan pertanyaannya, si Tukang kayu tersebut segera melarikan diri ke atas dan membuka pintu kubur tersebut. Ternyata di luar sudah banyak orang yang menantikan kehadirannya untuk keluar dari kubur tersebut.

Si Tukang Kayu dengan tergesa-gesa keluar dan lari meninggalkan mereka sambil berteriak, "Kalian ambil saja semua bagian harta warisan ini, karena aku sudah tidak menginginkannya lagi."

Sesampai di rumah, si Tukang Kayu berkata kepada istrinya, "Aku sudah tidak menginginkan separuh harta warisan dari mayat itu. Di dunia ini harta yang kumiliki padahal cuma satu Kapak ini, tapi Malaikat Mungkar-Nakir selama 40 hari yang mereka tanyakan dan persoalkan masih saja di seputar Kapak ini. Bagaimana jadinya kalau hartaku begitu banyak? Entah berapa lama dan bagaimana aku menjawabnya."

Dari Ibnu Mas’ud RA dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, "Tidak akan bergerak tapak kaki anak Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara, yaitu umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan kemana dibelanjakannya, ilmunya sejauh mana diamalkan?" (HR. Turmudzi)

BAGIKAN.. wajib bagi muslim

Thursday, May 25, 2017

Sang Qodhi dan Si Pencuri Kafan

Hasil gambar untuk si pencuri kain kafan
Diceritakan oleh sebagian ulama' salaf: Bahwasanya di suatu negeri ada seorang yang gemar mencuri kain kafan di wilayah yang terdapat seorang hakim yang shoolich. Tatkala mendekati kematian sang qodhi, ia memanggil si pencuri kafan itu, lalu berkata: "Sungguh telah sampai kepadaku kabar, bahwa engkau adalah seorang pencuri kain kafan dan sungguh telah diungkapkan akan kematianku. Aku telah menghitung harga kafanku, maka ambillah ini dan jangan kau koyak-koyak kafanku kelak di dalam kubur."
Si pencuri kafan itu mengijabahi permintaan itu.

Tatkala datang waktu kematian sang Qodhi, dan kabar itu sampai kepada si pencuri kafan dari istrinya. Sang istri berpesan, "berhati-hatilah, jika engkau hendak mencuri kain kafannya. Lebih baik jangan kau lakukan hal itu." Si pencuri itu tidak menggubris ucapan istrinya. Dia pun langsung pergi ke kuburan Sang Qodhi.

Manakala ia sampai di kuburan Sang Qodhi dan telah masuk ke dalamnya, ia melihat mayit itu duduk. Di sana ada dua malaikat yang satu di antaranya berkata kepada yang lain. Malaikat I," Ciumlah kedua kakinya!" Lalu diciumilah kaki sang Qodhi dan berkata malaikat itu: "Tidak ada sedikitpun bau maksiat dari kedua kakinya".

Malaikat I "Ciumlah kedua tangannya!" Lalu diciumilah kedua tangan sang Qodhi dan berkatalah malaikat itu, "Kedua tangannya tidak digunakan untuk bermaksiat".

Malaikat I," Ciumlah kedua matanya!" Lalu diciumilah kedua mata sang Qodhi dan berkata malaikat itu," Sesungguhnya kedua matanya tidak pernah melihat hal yang charom sekalipun."

Malaikat I, " Ciumlah kedua telinganya!" Lalu diciumilah salah satu dari telinganya namun tidak ditemukan sesuatu. Lalu diciumilah pada sisi telinga yang lain dan dia berhenti menemukan sesuatu lalu berkatalah malaikat yang lain: "Apakah telah mendapatkannya? Malaikat lain menjawab: "Sebagian berbau."

Malaikat I: "Aku ingin mencium bau itu."
Sesungguhnya bau itu disebabkan karena dia berat sebelah tatkala mendengar perkara dari dua orang yang tengah berselisih. Tatkala ditiup telinga itu, keluarlah api darinya yang langsung memenuhi kuburannya. Sang pencuri kafan pun tersambar karena tak dapat mengelak, dan dia pun menjadi buta.


Kisah ini dijelaskan dalam kitab "Qom'un Nufuus"
Dan diceritakan kembali oleh Guru kami Al Ustadz Isa Laa Tansaa ST., pada rutinan ta'lim Senein malam Selasa 10 April 2017/ 13 Rojab 1438 H dengan Kajian Kitab Nashooichul 'Ibad.

Wednesday, May 10, 2017

DETIK-DETIK WAFATNYA UMMUL MUKMININ SITI KHODIJJAH R.ANHA

Hasil gambar untuk wafatnya siti khadijahDalam kitab Al Busyro, yang ditulis Sayyid Muchammad bin Alawiy Al Maliky al Hasani disebutkan, istri RosuuluLLooh SAW, Siti Khodijah wafat pada hari ke-11 bulan Romadhon tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum RosuuluLLooh SAW hijrah ke Madinah. Siti Khodijah wafat dalam usia 65 tahun, saat usia RosuuluLLooh SAW sekitar 50 tahun.

Diriwayatkan, ketika Siti Khodijah sakit menjelang ajal, Siti Khodijah berkata kepada RosuuluLLooh SAW, “Aku memohon maaf kepadamu, Ya RosuuluLLooh SAW, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu.”

RosuuluLLooh SAW menjawab, “Jauh dari itu ya Khodijah. Engkau telah mendukung da’wah Islam sepenuhnya”.

Kemudian Siti Khodijah memanggil Sayyidah Faathimah Azzahro dan berbisik, “Faathimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku”

Mendengar itu RosuuluLLooh SAW berkata, “Wahai Khodijah, ALLOOH menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga.”

Saat itu Malaikat Jibril turun dari langit membawa lima kain kafan. RosuuluLLooh SAW bertanya, “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?”
“Kafan ini untuk Khodijah, engkau ya RosuuluLLooh SAW, Fatimah, Ali dan Hasan.”, jawab Jibril.
Malaikat Jibril berhenti dan menangis. RosuuluLLooh SAW bertanya, “Kenapa, ya Jibril?”
“Cucumu yang satu, Husain tidak memiliki kafan, dia akan dibantai dan tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan.”

RosuuluLLooh SAW berkata di dekat jasad Siti Khodijah, “Khodijah istriku sayang, demi ALLOOH, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. ALLOOH Maha Mengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kamu hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini darimu. Permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban?”

“Ya ALLOOH, ya Ilahi Robbiy, limpahkanlah rahmat-MU kepada Khodijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menentramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah. Oh Khodijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?”

Tiba-tiba Sayyidina Ali berkata, “Aku, Ya RosuuluLLooh SAW!”
Peristiwa wafatnya Siti Khodijah itu sangat menusuk jiwa RosuuluLLooh SAW. Alangkah sedih dan pedih perasaan RosuuluLLooh SAW ditinggal dua orang sangat dicintai dan mendukung perjuangannya menegakkan Islam.
Ilaa hadhrotin Nabiyyil musthofa, wa ilaa Khodijatal Kubro, al faatichah …..

Dalam kisah lain diceritakan:
Seluruh kekayaan Siti Khodijah diserahkan kepada suaminya, kepada Nabi SAW untuk perjuangan agama ini. Dua per tiga kekayaan Kota Mekkah milik Siti Khodijah. Tetapi ketika Siti Khodijah hendak menjelang wafat tidak ada kafan yang digunakan untuk menutupi jasad Siti Khodijah bahkan pakaian yang digunakan Siti Khodijah ketika itu adalah pakaian yang sudah sangat kumuh dengan 83 tambalan diantaranya dengan kulit kayu.

Dikisahkan, suatu hari Nabi SAW pulang dari pada dakwah islam, ketika pulang masuk ke dalam rumah, biasa Siti Khodijah menyambut, berdiri di depan pintu, ketika Siti Khodijah hendak berdiri menyambut Nabi SAW berkata, “wahai Khodijah tetaplah kamu ditempatmu”. Ketika itu Siti Khodijah sedang menyusukan Siti Faathimah yang ketika itu masih bayi.

Sahabat yang dimuliakan ALLOOH Ta’ala, karena begitu besar pengorbanan Nabi dan Siti Khodijah untuk agama ini, untuk bagaimana hari ini kita mengenal ALLOOH Ta’ala, untuk bagaimana hari ini kita mengenal Sholat.

Sahabat yang di muliakan ALLOOH Ta’ala, seluruh kekayaan mereka telah habis sehingga ketika Siti Faathimah menyusu bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang keluar yang masuk dalam mulut Siti Faathimah RAnha. Maka Nabi SAW telah mengambil ini Siti Faathimah dan diletakkan di tempat tidur. Gantilah Nabi SAW berbaring di pangkuan Siti Khodijah yang lelah seusai berjumpa dengan manusia dalam berdakwah dengan menghadapi caci maki , fitnah manusia ketika itu. Nabi tertidur, ketika itulah Siti Khodijah dengan belaian kasih sayang membelai kepala Nabi SAW.. Tak terasa air mata Siti Khodijah menetes di pipi Nabi SAW. Nabi pun terjaga.. 

“wahai Khodijah. Kenapa engkau menangis?”. “adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muchammad?”. “Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan..”. “..tetapi hari ini engkau telah dihina orang, semua orang telah menjauhi dirimu”. “seluruh kekayaanmu habis”. “Adakah engkau menyesal wahai Siti Khodijah bersuamikan aku, Muchammad..?”.

Siti Khodijahpun berkata “Wahai suamiku. Wahai Nabi ALLOOH”. “Bukan itu yang kutangiskan”. “Dahulu aku memiliki kemuliaan..”. “.. kemuliaan itu aku serahkan untuk ALLOOH dan RosulNYA”. “Dahulu aku memiliki kebangsawanan..”. “.. kebangsawanan itu aku serahkan untuk ALLOOH dan RasulNYA”. “Dahulu aku memiliki harta kekayaan..”. “..seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk ALLOOH dan RosuulNYA”. “wahai RosuuluLLooh”. “sekarang aku tak punya apa-apa lagi”. “Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini”. “wahai RosuuluLLooh.. sekiranya aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai”. “sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah lautan”. “engkau hendak menyebarangi sungai dan engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan”. “.. maka engkau galilah lubang-lubang kuburku, kau galilah kuburku, engkau ambilah tulang belulangku”. “kau jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu untuk jumpa dengan manusia”. “Ingatkan mereka tentang kebesaran ALLOOH”. “Ingatkan mereka kepada yang hak”. “ajak mereka kepada Islam, wahai Rosululloh”.

Sahabat yang dimuliakan ALLOOH Ta’ala. Seorang Nabi yang agung, seorang istri yang agung , suami istri berpelukan sambil menangis memikirkan agama ini.

ALLOOHuakbar..

Karena itu, peristiwa wafatnya Siti Siti Khodijah sangat menusuk jiwa RosuuluLLooh SAW. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan RosuuluLLooh SAW ketika itu. Karena dua orang yang dicintainya (Siti Khodijah dan Abu Thalib) telah wafat, maka tahun itu disebut sebagai Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan RosuuluLLooh SAW.Al Faatichah untuk Sayyidatina Siti Khodijah ...... Semoga kita semua ada di hati beliau dicintai beliau sehingga RosuuluLLooh SAW pun mencintai kita aamiin Ya Robb...

Saturday, March 25, 2017

Penyucian Hati

Pada bulan Rojab, setahun sebelum hijrah, saat beliau berusia 52 tahun, ALLOOH memperjalankan beliau SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga kemudian ke Sidratul Muntaha dan bertemu dengan ALLOOH dalam sebagian kecil dari waktu malam.

Hasil gambar untuk rasul dibelah dadanyaSebelum di Isro' dan Mi'roj-kan, sekali lagi RosuuluLLooh SAW menjalani proses pembedahan dada. Selama hidupnya beliau SAW mengalami empat kali pembedahan dada. Di dalam sebuah hadits, RosuuluLLooh SAW bersabda:
"Ketika aku berada di al-Bait (yaitu BaituLLooh atau Ka'bah) antara tidur dan jaga", kemudian beliau menyebutkan tentang seorang lelaki di antara dua orang lelaki. "Lalu didatangkan kepadaku bejana dari emas yang dipenuhi dengan kebijaksanaan dan keimanan. Kemudian aku dibedah dari tenggorokan hingga perut bagian bawah. Lalu perutku dibasuh dengan air Zam-zam, kemudian diisi dengan kebijaksanaan (hikmah) dan keimanan. Dan didatangkan kepadaku binatang putih yang lebih kecil dari kuda dan lebih besar dari baghol (peranakan kuda dan keledai), yaitu Buroq. Lalu aku pergi bersama Jibril hingga kami sampai di langit dunia...." (HR. Imam Bukhori dan Imam Muslim)

Hati RosuuluLLooh SAW tidaklah kotor. Beliau SAW tidak pernah berbuat dosa, tidak memiliki penyakit iri, dengki, sombong, dendam dan berbagai penyakit hati lainnya. Beliau SAW adalah seorang Rosul yang ma'shum (terjaga dari berbuat dosa). Akan tetapi sebelum melakukan perjalanan tersebut, dada beliau SAW dibedah dan ditambah dengan kesucian dari kesucian yang telah ada.

RosuuluLLooh SAW merupakan sosok teladan yang hadir di tengah-tengah ummat sebagai pribadi unggul yang dapat menjadi contoh bagi setiap pengikutnya. Hikmah yang dapat kita petik dari proses pembedahan dada beliau SAW tersebut adalah RosuuluLLooh SAW memberikan contoh kepada kita, bahwa siapapun orang yang ingin berjalan menuju ALLOOH dan sampai kepada-NYA, maka ia harus membersihkan hatinya dari semua kotoran yang ada dan mensucikan hatinya yang sudah bersih dengan kesucian di atas kesucian, sehingga hatinya layak untuk bertemu dengan ALLOOH.

Sungguh, kita semua dalam perjalanan suci yang seharusnya dibangun dalam suasana fitrah, hati yang suci. Berjalan dariNYA dan juga menuju kepadaNYA. Dalam perjalanan ini, diperlukan lentera, cahaya, atau petunjuk agar selamat dalam menempuhnya. Dan hati yang merupakan inti sebagai "nurani", itulah lentera perjalanan hidup.

Cahaya ini berpusat pada hati seseorang yang rupanya juga dilengkapi oleh gesekan-gesekan "karat" kehidupan. Semakin menebal karat, semakin jauh pula dari warna yang sesungguhnya. Oleh karena itu, di setiap saat dan kesempatan diperlukan upaya pembersihan untuk membasuh kotoran-kotoran hati yang melekat. Hanya dengan pembersihan itulah hati akan bersinar tajam menerangi kegelapan hidup. Dan sungguh, hati inilah yang kemudian menjadi "penentu" baik atau tidaknya seorang pemilik hati.

Disebutkan bahwa hati manusia pada awalnya putih bersih. Ia ibarat kertas putih dengan tiada noda sedikitpun. Namun setiap kali manusia melakukan dosa, setiap kali pula terjatuh noda hitam pada hati, yang pada akhirnya menjadikannya hitam pekat. Jika manusia yang hatinya hitam pekat tersebut tidak menyadari bahkan menambah dosa dan noda hitam pada hatinya tersebut, maka akhirnya ALLOOH kemudian akan membalik hati tersebut. Hati yang terbalik inilah yang kemudian hanya bisa disadarkan oleh api neraka.


Maka sungguh, perjalanan ini hanya akan mampu menuju ilahi dengan senantiasa membersihkan jiwa dan hati kita, sebagaimana yang telah dilakukan oleh RosuuluLLooh SAW sebelum melakukan perjalanan sucinya tersebut.