Saturday, March 26, 2016

Adab Bergaul

Budayakanlah dalam dirimu sifat selalu menahan diri dan suka memberi maaf atas segala kekhilafan teman-temanmu. Jangan sekali-kali menunjukkan sikap kasar dan kaku, sebab yang demikian itu termasuk sifat-sifat manusia-manusia tiran yang sombong. Jangan pula kamu mengecam kepada seseorang di antara mereka yang melanggar hak pribadimu atau kurang memperhatikannya. Kecuali apabila ia memang seorang yang benar-benar tulus dalam persahabatannya denganmu dan telah teruji kesetiaannya.

Akan tetapi apabila pelanggaran tersebut menyangkut hak ALLOOH SWT atau hak-hak hamba-NYA, maka dalam hal ini jangan begitu saja memaafkan mereka. Hanya saja tetap diperlukan pertimbangan berkaitan dengan keadaan mereka dalam hal kuat lemahnya keyakinan keberagamaan mereka.
Maka hendaknya kamu bersikap lebih lunak terhadap para pemula di antara mereka yang masih lemah agamanya, dibandingkan dengan sikapmu berhadapan dengan mereka yang sudah kuat.

Akan tetapi bagaimanapun juga sikap lemah lembut merupakan hal yang secara mutlak lebih banyak mengandung kebaikan, maka hendaknya kamu selalu lebih mengutamakannya dalam kamu bersikap.

Bergaullah bersama teman-temanmu dengan cara sebaik-baiknya. Lupakan saja kebanyakan di antara kesalahan-kesalahan mereka, khususnya kesalahan tertentu yang tidak akan terlepas darinya kecuali orang-orang khusus di antara hamba-hamba ALLOOH yang sholeh.

Jadikanlah bincang-bincangmu bersama mereka itu selalu tentang hal-hal yang mendatangkan manfaat bagi mereka, yang mampu meluruskan agama mereka dan memenuhi hajat mereka dalam kehidupan dunia dan akhirat mereka. Jangan berbincang dengan mereka dalam hal-hal selain itu, kecuali pada saat-saat tertentu dengan niat hanya sekadar menghibur hati, sepanjang memang diperlukan.

Dan seandainya ada orang yang menyakiti hatimu, dengan ucapan atau perbuatan, memaki-makimu, menyebut tentangmu dengan sesuatu yang buruk di hadapan khalayak, maka janganlah membalasnya dengan perlakuan yang serupa. Hendaknya kamu memaafkannya dan melepaskannya dari dosa kesalahannya itu, tanpa menyisakan sedikitpun rasa dendam atau permusuhan terhadapnya.

 Seperti itulah akhlaq yang layak disandang orang-orang shiddiqqin. Atau jika kamu tidak mampu berbuat demikian, maka serahkan saja urusannya kepada ALLOOH SWT dan cukuplah ALLOOH SWT sebagai pembelamu terhadapnya.


Akhlaq kepada sesama Muslim

                Hendaklah Anda selalu meniatkan yang baik-baik saja bagi seluruh kaum muslimin. Cintailah mereka apa yang Anda cintai untuk Anda sendiri, dalam urusan duniawi maupun ukhrowi, dan tidak menyukai sesuatu yang menimpa mereka sebagaimana Anda tidak menyukai hal itu menimpa Anda sendiri. Berdialoglah dengan mereka dengan ucapan-ucapan yang baik yang tidak mengandung pelanggaran (atas hak mereka).

                Ucapkan salam kepada mereka kapan saja Anda bertemu mereka. Bersikaplah selalu rendah hati, lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap mereka. Tunjukkan rasa hormat dan penghargaan kepada siapa-siapa yang berperilaku baik, dan upayakanlah agar memaafkan siapa-siapa yang berperilaku buruk.

                Berdoalah bagi mereka yang berbuat dosa agar ALLOOH SWT memberikan kemudahan kepada mereka untuk segera bertaubat. Dan berdoalah bagi mereka yang telah berbuat kebaikan agar ALLOOH SWT menganugerahkan sifat istiqomah atau konsisten dalam melakukan kebaikan-kebaikan sampai akhir hayat.

                Peliharalah hatimu masing-masing dari niatan atau bisikan-bisikan hati yang tercela, dan bersihkanlah dari noda-noda akhlaq yang buruk. Berupayalah mencegah keterlibatan setiap anggota tubuhmu dalam kegiatan bermaksiat atau berdosa. Lebih-lebih lagi dalam hal menjaga dan memelihara lidah dari pembicaraan-pembicaraan yang terlarang atau sia-sia, terutama yang bersifat umpatan atau gunjingan terhadap sesama muslim. Begitu besar dosa ghibah (pergunjingan) sehingga dinyatakan bahwa dosanya lebih besar daripada dosa perzinaan.

                Dan jika sampai ke pendengaranmu tentang suatu perbuatan buruk dari seseorang di antara mereka (kaum muslimin), sedangkan kamu mampu untuk menasehatinya, maka lakukanlah. Atau jika tidak, jangan sekali-kali menyebutkan tentang keburukannya itu hadapan orang lain, sehingga dengan demikian kamu telah melakukan dua keburukan sekaligus, yaitu pertama dengan tidak memberikannya nasehat, dan kedua mengucapkan sesuatu yang buruk berkenaan dengan pribadi seorang muslim.


WALLOOHU A’LAM BISH SHOWAAB

0 comments:

Post a Comment