Saudaraku yang dirochmati oleh
ALLOOH SWT, hati adalah penghulu seluruh anggota. Di dalam hati itulah
tersimpan semua asas aqiidah, akhlaq, niat baik dan niat yang tidak baik. Selama
hati itu belum dibersihkan (disucikan) dari sifat-sifat buruk dan tercela,
serta menghiasinya dengan sifat-sifat yang baik dan terpuji, maka kita tidak
akan merasakan kebahagian di dunia maupun di akhirat. ALLOOH SWT berfirman
dalam Surat Asy-Syams ayat 7-10 yang berarti:
“Dan demi jiwa dan yang menjadikannya, lalu ditunjukkan kepadanya
yang salah serta yang baik. Sungguh beruntunglah siapa yang membersihkannya dan
merugilah siapa yang mengotorinya.”
Banyak akhlaq dan sifat-sifat tercela yang seharusnya kita hindarkan
dari hati. Di antara penyakit-penyakit hati yang berbahaya ialah sifat sombong.
Sifat ini adalah sifat yang dimiliki oleh setan yang terkutuk. Sebagaimana firman
ALLOOH SWT dalam Surat Al-Baqoroh ayat 34 yang berarti:
“Ia (iblis) enggan dan menyombongkan diri, dan jadilah ia termasuk
golongan yang tidak beriman (kafir).”
ALLOOH SWT membenci hamba-hambaNYA yang sombong, sebagaimana
firman-NYA dalam surat An-Nahl ayat 23 yang berarti:
“Sesungguhnya Dia (ALLOOH SWT) tidak menyukai orang-orang yang
menyombongkan diri.”
Rosuulullooh SAW bersabda,”Tidak masuk surga orang yang di hatinya
terdapat sebesar atom dari sifat sombong.”
Al Imam Abdullooh bin Alawy Al Haddad mengatakan bahwa sifat sombong
itu senantiasa terpendam di dalam hati, tetapi ia memiliki tanda-tanda yang
dapat dikenali oleh orang, di antara tanda-tandanya yaitu:
1.
Merasa bangga melihat
dirinya maju melebihi dari orang lain;
2. Suka menonjolkan diri kepada orang lain;
3. Bila menghadiri sebuah majlis, dirinya minta dikedepankan;
4. Jika berjalan dia bersikap angkuh;
5. Membantah bila dirinya ditegur orang lain, meskipun dirinya
dalam keadaan bersalah;
6. Tidak mengindahkan nasihat;
7. Suka menindas orang yang miskin dan lemah;
8. Selalu menganggap dirinya benar dan tidak pernah salah; serta
9.
Suka memuji-muji diri
sendiri.
Saudaraku, seandainya kita menjadi orang yang paling bertaqwa kepada
ALLOOH SWT serta memiliki ilmu yang luas dan kita merasa mempunyai amat banyaknya
amal ibadah. Lantas kita menyombongkan hal tersebut kepada orang lain serta
membanggakan diri atas kelebihan-kelebihan yang kita miliki, niscaya ALLOOH SWT
akan menghapus ketaqwaan kita dan membatalkan ibadah yang telah kita lakukan. Apalagi
kalau yang sombong itu orang yang jahil (bodoh). Terlebih lagi orang
menyombongkan diri dengan ketaqwaan dan kesholehan datuk-datuknya, sedangkan ia
sendiri tidak beramal. Maka itu adalah kebodohan yang paling besar.
Saudaraku, seluruh kebaikan berada dalam sifat rendah hati, khusyu’,
dan tunduk kepada ALLOOHSWT. Rosuulullooh SAW bersabda:
“Barangsiapa yang merendahkan diri, niscaya ALLOOH akan mengangkatnya
dan barangsiapa yang menyombongkan diri, niscaya ALLOOH akan merendahkannya.”
Senang berdiam diri dan bersembunyi, serta tidak suka dengan
kemasyhuran dan ketenaran adalah sifat orang-orang mu’min yang shoolich.
Bagaimana kalau kita dulu pernah sombong? ALLOOH SWT telah
memerintahkan hamba-NYA untuk bertaubat dan menunjukkan cara bertaubat yang
benar, sebagaimana diterangkan dalam firman-NYA dalam surat An-Nur ayat 31 yang
berarti:
“Dan bertaubatlah kalian kepada ALLOOH, wahai sekalian orang-orang
mu’min, agar kalian mendapat kemenangan.”
Adapun bagaimana cara bertaubat, maka ALLOOH SWT berfirman dalam surat
At-Tahrim ayat 8 yang berarti:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada ALLOOH
dengan taubat nashuha (taubat yang sungguh-sungguh).”
Al Imamul Haddad menerangkan bahwa para ulama’ telah menentukan
beberapa syarat taubat yang harus dipatuhi, yaitu :
1.
Menyesali dosa-dosa yang
telah dilakukan;
2. Mensucikan diri dari dosa (artinya, percuma bertaubat kalau
masih mengulangi perbuatannya); dan
3.
Ber-‘azam (niat dengan
sungguh-sungguh) tidak akan melakukan dosa lagi selama sisa hidupnya.
Ketiga syarat di atas harus mengiringi taubat dosa seorang hamba
dengan Tuhannya. Lain halnya dengan dosa antara seorang hamba ALLOOH dengan
hamba yang lain. Dalam hal ini ada syarat lain yang mesti dipenuhi, antara lain:
jika kita menganiaya seseorang atau menghinakannya, atau merampas hartanya,
maka hendaknya kita mengembalikan haknya. Jika mengenai jiwa atau diri
hendaknya kita menebusnya dengan menjalani qishosh (hukuman menurut hukum
Islam). Jika menyangkut harta, hendaknya kita kembalikan. Jika menyangkut
kehormatan, hendaknya memohon maaf.
Demikian juga halnya dengan ibadah wajib seperti sholat, puasa, dan
zakat, kalau kita sering meninggalkannya, maka harus meng-qodho’nya. Jika hendak
bertaubat, tidak cukup hanya istighfar saja.
WALLOOHU A’LAM BISH SHOWAAB
0 comments:
Post a Comment