Banyak orang beranggapan bahwa kualitas ibadah hanya ditentukan
oleh syarat, rukun, dan kekhusyukan dalam pelaksanaannya saja. Misalnya, sholat
yang berkualitas adalah yang didahului oleh wudlu’ yang benar, suci pakaian dan
tempatnya, serta khusyu’ dalam melakukan setiap rukunnya. Demikian pula dengan
ibadah-ibadah yang lainnya.
Suatu hari Sayyidina Sa’ad bin Abi
Waqqosh RA bertanya kepada Rosuulullooh SAW tidak mengajari Sa’ad tentang
syarat, rukun, ataupun kekhusyukan, namun Rosuulullooh SAW hanya memberikan
pesan,”Perbaikilah apa yang kamu makan, wahai Sa’ad.” [HR. Imam Thobaroni]
Rosuulullooh
SAW telah mengingatkan kepada kita, dalam sabda beliau,”Demi Dzat yang
menguasai diriku, jika seseorang mengonsumsi harta yang charom, maka tidak akan
diterima amal ibadahnya selama 40 hari.” [HR. Imam Thobaroni]
Dalam
chadits lain yang dinukil Ibnu Rojab Al-Hanbali, Rosuulullooh SAW bersabda,”Barangsiapa
yang di dalam tubuhnya terdapat bagian
yang tumbuh dari harta yang tidak chalal, maka nerakalah tempat yang layak
baginya.”
Dalam
chadits di atas terlihat dengan jelas adanya keterkaitan antara kualitas ibadah
dan sumber penghasilan.
Dari
Sayyidina Abu Huroiroh, Nabi Muchammad SAW bersabda,”Wahai sekalian manusia,
sesungguhnya ALLOOH itu thoyyib (baik). ALLOOH tidak akan menerima sesuatu
melainkan dari yang thoyyib (baik) pula. Dan sesungguhnya ALLOOH SWT telah
memerintahkan kepada orang-orang mu’min seperti yang diperintahkan-NYA kepada
Rosuulullooh SAW.
Firman-NYA:
“Wahai Rosuulullooh! Makanlah makanan yang baik-baik (thoyyib) dan kerjakanlah
amalan yang sholich. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’
Dan ALLOOH juga berfirman; “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah rizqi yang
baik-baik yang telah kami rizqikan kepadamu.”
Gemar
melakukan ketaatan secara umum, sebenarnya adalah jalan mudah terkabulnya do’a.
Sehingga tidak terbatas pada mengkonsumsi makanan yang chalal, namun segala
ketaatan akan memudahkan terkabulnya do’a. Sebaliknya kemaksiatan menjadi sebab
penghalang terkabulnya do’a.
Rizqi
dan makanan yang chalal adalah bekal dan sekaligus pengobar semangat untuk
beramal sholich. Buktinya adalah firman ALLOOH SWT,” Wahai Rosulullooh,
makanlah dari makanan yang thoyyib (baik), dari kerjakanlah amal yang sholich.
Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al Mu’minun:51]
Bila
selama ini kita merasa malas dan berat untuk beramal, alangkah baiknya kita
mengoreksi kembali makanan dan minuman yang masuk ke perut kita. Jangan-jangan
ada yang perlu ditinjau ulang. Nabi Muchammad SAW bersabda,”Sesungguhnya yang
baik tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan. Namun benarkah harta benda itu
kebaikan yang sejati?”
Dari
Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA berkata: “Barangsiapa yang dagingnya tumbuh
dari pekerjaan yang tidak chalal, maka neraka pantas untuknya.”
Lihatlah
begitu bahayanya mengkonsumsi makanan charom dan dampak dari pekerjaan yang
tidak chalal sehingga mempengaruhi do’a, kesehatan, amalan kebaikan, dan
terakhir mendapatkan siksaan di akhirot dari daging yang berasal dari yang
charom.
Ada
sindiran yang hendak disampaikan oleh Rosuulullooh SAW lewat chadits di atas. Yaitu,
bahwa kebanyakan manusia cenderung memperhatikan ‘kulit luar’, tapi lupa akan
memperhatikan hal-hal yang lebih urgen dan fundamental.
Setiap
muslim pasti mengetahui bahwa sholat atau chaji mesti dilakukan dengan pakaian
yang suci. Pakaian yang kotor akan menyebabkan ibadah tersebut tidak sah alias
ditolak. Namun, betapa banyak di antara kaum Muslim yang lupa dan lalai bahwa
makanan yang diperoleh dari cara-cara yang kotor juga akan berujung pada
ditolaknya ibadah dan munajah kita. Lebih dari itu, ketika seseorang
bergelimang harta charom, dan ia menafkahi keluarganya dengan harta tersebut,
sebenarnya ia tidak hanya menodai ibadahnya sendiri. Tapi juga menodai ibadah
dan masa depan anak-anaknya.
WALLOOHU A’LAM BISH SHOWAAB

0 comments:
Post a Comment