Friday, January 29, 2016

Pengaruh Makanan Charom dan Chalal

Banyak orang beranggapan bahwa kualitas ibadah hanya ditentukan oleh syarat, rukun, dan kekhusyukan dalam pelaksanaannya saja. Misalnya, sholat yang berkualitas adalah yang didahului oleh wudlu’ yang benar, suci pakaian dan tempatnya, serta khusyu’ dalam melakukan setiap rukunnya. Demikian pula dengan ibadah-ibadah yang lainnya.
            Suatu hari Sayyidina Sa’ad bin Abi Waqqosh RA bertanya kepada Rosuulullooh SAW tidak mengajari Sa’ad tentang syarat, rukun, ataupun kekhusyukan, namun Rosuulullooh SAW hanya memberikan pesan,”Perbaikilah apa yang kamu makan, wahai Sa’ad.” [HR. Imam Thobaroni]
            Rosuulullooh SAW telah mengingatkan kepada kita, dalam sabda beliau,”Demi Dzat yang menguasai diriku, jika seseorang mengonsumsi harta yang charom, maka tidak akan diterima amal ibadahnya selama 40 hari.” [HR. Imam Thobaroni]
            Dalam chadits lain yang dinukil Ibnu Rojab Al-Hanbali, Rosuulullooh SAW bersabda,”Barangsiapa yang di dalam tubuhnya terdapat  bagian yang tumbuh dari harta yang tidak chalal, maka nerakalah tempat yang layak baginya.”
            Dalam chadits di atas terlihat dengan jelas adanya keterkaitan antara kualitas ibadah dan sumber penghasilan.
            Dari Sayyidina Abu Huroiroh, Nabi Muchammad SAW bersabda,”Wahai sekalian manusia, sesungguhnya ALLOOH itu thoyyib (baik). ALLOOH tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik) pula. Dan sesungguhnya ALLOOH SWT telah memerintahkan kepada orang-orang mu’min seperti yang diperintahkan-NYA kepada Rosuulullooh SAW.
            Firman-NYA: “Wahai Rosuulullooh! Makanlah makanan yang baik-baik (thoyyib) dan kerjakanlah amalan yang sholich. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan ALLOOH juga berfirman; “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah rizqi yang baik-baik yang telah kami rizqikan kepadamu.”
            Gemar melakukan ketaatan secara umum, sebenarnya adalah jalan mudah terkabulnya do’a. Sehingga tidak terbatas pada mengkonsumsi makanan yang chalal, namun segala ketaatan akan memudahkan terkabulnya do’a. Sebaliknya kemaksiatan menjadi sebab penghalang terkabulnya do’a.
            Rizqi dan makanan yang chalal adalah bekal dan sekaligus pengobar semangat untuk beramal sholich. Buktinya adalah firman ALLOOH SWT,” Wahai Rosulullooh, makanlah dari makanan yang thoyyib (baik), dari kerjakanlah amal yang sholich. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al Mu’minun:51]
            Bila selama ini kita merasa malas dan berat untuk beramal, alangkah baiknya kita mengoreksi kembali makanan dan minuman yang masuk ke perut kita. Jangan-jangan ada yang perlu ditinjau ulang. Nabi Muchammad SAW bersabda,”Sesungguhnya yang baik tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan. Namun benarkah harta benda itu kebaikan yang sejati?”
            Dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA berkata: “Barangsiapa yang dagingnya tumbuh dari pekerjaan yang tidak chalal, maka neraka pantas untuknya.”
            Lihatlah begitu bahayanya mengkonsumsi makanan charom dan dampak dari pekerjaan yang tidak chalal sehingga mempengaruhi do’a, kesehatan, amalan kebaikan, dan terakhir mendapatkan siksaan di akhirot dari daging yang berasal dari yang charom.
            Ada sindiran yang hendak disampaikan oleh Rosuulullooh SAW lewat chadits di atas. Yaitu, bahwa kebanyakan manusia cenderung memperhatikan ‘kulit luar’, tapi lupa akan memperhatikan hal-hal yang lebih urgen dan fundamental.
            Setiap muslim pasti mengetahui bahwa sholat atau chaji mesti dilakukan dengan pakaian yang suci. Pakaian yang kotor akan menyebabkan ibadah tersebut tidak sah alias ditolak. Namun, betapa banyak di antara kaum Muslim yang lupa dan lalai bahwa makanan yang diperoleh dari cara-cara yang kotor juga akan berujung pada ditolaknya ibadah dan munajah kita. Lebih dari itu, ketika seseorang bergelimang harta charom, dan ia menafkahi keluarganya dengan harta tersebut, sebenarnya ia tidak hanya menodai ibadahnya sendiri. Tapi juga menodai ibadah dan masa depan anak-anaknya.

WALLOOHU A’LAM BISH SHOWAAB


0 comments:

Post a Comment