Manusia itu
terbagi menjadi dua : ada manusia yang diberi kenikmatan dan ada pula manusia
yang diberi cobaan dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh ALLOOH SWT. Orang
yang diberi kenikmatan terkadang tidak terbebas dari kemaksiatan dan kotoran
yang terkandung dalam sesuatu yang dianugerahkan kepadanya. Dalam kenikmatan
yang diperolehnya tiba-tiba taqdir mendatanginya dengan membawa berbagai ujian
yang menyusahkannya seperti penyakit dan musibah yang menimpa dirinya, harta,
istri dan anak-anaknya. Lalu ia berubah menjadi orang yang seakan-akan belum
diberi kenikmatan tersebut beserta kelezatannya.
Jika seseorang
mengukur kekayaan dengan berdasarkan harta dan rasa aman dari musuh sehingga
dalam keadaan mendapatkan kenikmatan ia merasa seakan-akan ujian itu tidak ada.
Hal ini
disebabkan oleh ketidaktahuannya tentang ALLOOH SWT dan tentang dunia. Seandainya
ia tahu bahwa Tuhannya “Maha Kuasa” berbuat apa yang dikehendaki-NYA [QS. Al
Buruj 11: 107]. Di mana DIA-lah yang bisa membuat manis atau pahit, membuat
kaya atau miskin, mengangkat derajat atau menurunkannya, memuliakan atau
menghinakan, menghidupkan atau mematikan. Tapi mengapa ia merasa tenang dengan
kenikmatan yang diperolehnya dan tertipu olehnya. Dan mengapa manusia merasa
putus asa dari kelapangan dan saat tertimpa musibah?
Karena ketidaktahuannya
pula tentang dunia, manusia merasa nyaman dengan dunia dan meminta kesucian
yang tidak bisa rusak oleh kekeruhan dengannya. Manusia kadang terlena jika
dunia adalah tempatnya ujian dan gangguan, serta menjadi sumber beban dan
kesulitan. Akar dunia adalah ujian, sedangkan bagian ujungnya adalah
kenikmatan. Dunia itu seperti pohon kesabaran yang buah pertamanya pahit dan
buah terakhirnya terasa manis, di mana seseorang tidak bisa merasakan buah yang
manis sampai ia mengunyah terlebih dahulu buah yang pahit. Ia tidak akan mendapatkan
rasa manis kecuali menahan rasa pahit. Barangsiapa yang dapat bersabar dalam menghadapi
ujian dunia, maka dirinya akan dihiasi kenikmatannya.
Jika seseorang
hamba bersabar dalam menunaikan semua perintah ALLOOH SWT dan menjauhi
larangan-NYA, menerima apa yang ditakdirkan, meneguk berbagai kepahitan dan
memikul beban beratnya, menentang hawa nafsu dan meningkatkan keimanannya, maka
ALLOOH SWT akan memberikan hidup, ketenangan, kenyamanan dan kemuliaan di akhir
usianya. Maka dari itu seyogyanya seorang hamba yang diberi kenikmatan tidak
merasa aman dari tipu daya dunia. Janganlah tertipu oleh kenikmatan yang dapat
menyebabkan kenikmatan yang langgeng terputus darinya, lupa mensyukurinya,
merasa nyaman dengan kenikmatan dan lupa mensyukurinya. Sabda Rosuulullooh SAW,”Kenikmatan
itu laksana binatang buas, maka ikatlah ia dengan syukur.”
Cara mensyukuri kenikmatan harta adalah dengan
mengakui kenikmatan tersebut dari Sang Pemberi Nikmat yakni ALLOOH SWT, dengan
melihat keutamaan dan karunia-NYA, tidak melampaui ketentuan-NYA, dan tidak
meninggalkan perintah-NYA. Itulah cara mengikat kenikmatan supaya tidak hilang.
Rosuulullooh SAW bersabda,”Barangsiapa diberi sesuatu lalu berterima kasih,
diberi cobaan lalu bersabar, didzholimi lalu mengampuni dan berbuat aniaya lalu
memohon ampun. Kemudian beliau diam.”
Shohabat berkata,”Kenapa diam Yaa Rosuulullooh?”
Rosuulullooh SAW menjawab,”Mereka itulah
orang-orang yang mendapat keamanan dan mengikuti petunjuk.”
Asal dari rasa syukur adalah pengetahuan hamba
bahwa kenikmatan yang dirasakannya pada lahir batinnya berasal dari ALLOOH SWT
sebagai karunia dan kebaikan-NYA. Termasuk rasa syukur adalah memperbanyak puji
syukur kepada ALLOOH Ta’ala dengan lisan . Nabi Muchammad SAW bersabda,”Andaikata
seseorang dari umatku diberi dunia seluruhnya, kemudian dia mengucapkan
Alchamdulillaah, maka ucapan Alchamdulillaah-nya itu lebih baik dari semua itu.
Termasuk rasa syukur adalah melakukan ketaatan
kepada ALLOOH SWT dan menggunakan nikmat-nikmat ALLOOH SWT untuk menaati-NYA
dan meletakkan nikmat-nikmat ALLOOH SWT ditempat-tempatnya yang disukai ALLOOH
SWT dan itu adalah puncak rasa syukur.
Adapun orang yang diberi cobaan terkadang ia dicoba
sebagai bentuk hukuman dan ganti atas kejahatan serta kemaksiatan yang telah
dilakukannya. Adakalanya cobaan itu datang untuk menebus dan membersihkan diri
dari dosa seorang hamba. Terkadang pula cobaan itu datang guna mengangkat
derajat dan mengantarkan ke tempat yang tinggi sehingga ia bisa bergabung
dengan para ulama’ yang telah terlebih dahulu mendapatkan perlindungan dari
ALLOOH, Tuhan semua makhluq dan alam.
Adapun tanda-tanda cobaan yang merupakan bentuk
hukuman dan ganti atas kemaksiatan yang dilakukan adalah orang yang yang
mendapatkan cobaan ini tidak bisa bersabar, merasa gelisah, dan mengeluh kepada
ALLOOH SWT. Tanda-tanda cobaan yang berfungsi untuk menebus dan menghapus
kesalahan adalah orang yang menerima cobaan ini dapat bersabar dengan baik
tanpa mengeluh, tidak menampakkan kegelisahan kepada sanak saudaranya, teman
dan tetangga, dan tidak merasa bosan menjalankan perintah dan ketaatan. Sedangkan
tanda-tanda cobaan berfungsi untuk mengangkat derajat seseorang adalah orang
tersebut ridho dan menerimanya dengan lapang dada, tetap tenang sampai cobaan
itu hilang seiring dengan berjalannya waktu.
WALLOOHU A’LAM BISH SHOWAAB
0 comments:
Post a Comment