Thursday, February 18, 2016

KENIKMATAN DAN UJIAN

Manusia itu terbagi menjadi dua : ada manusia yang diberi kenikmatan dan ada pula manusia yang diberi cobaan dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh ALLOOH SWT. Orang yang diberi kenikmatan terkadang tidak terbebas dari kemaksiatan dan kotoran yang terkandung dalam sesuatu yang dianugerahkan kepadanya. Dalam kenikmatan yang diperolehnya tiba-tiba taqdir mendatanginya dengan membawa berbagai ujian yang menyusahkannya seperti penyakit dan musibah yang menimpa dirinya, harta, istri dan anak-anaknya. Lalu ia berubah menjadi orang yang seakan-akan belum diberi kenikmatan tersebut beserta kelezatannya.

Jika seseorang mengukur kekayaan dengan berdasarkan harta dan rasa aman dari musuh sehingga dalam keadaan mendapatkan kenikmatan ia merasa seakan-akan ujian itu tidak ada.

Hal ini disebabkan oleh ketidaktahuannya tentang ALLOOH SWT dan tentang dunia. Seandainya ia tahu bahwa Tuhannya “Maha Kuasa” berbuat apa yang dikehendaki-NYA [QS. Al Buruj 11: 107]. Di mana DIA-lah yang bisa membuat manis atau pahit, membuat kaya atau miskin, mengangkat derajat atau menurunkannya, memuliakan atau menghinakan, menghidupkan atau mematikan. Tapi mengapa ia merasa tenang dengan kenikmatan yang diperolehnya dan tertipu olehnya. Dan mengapa manusia merasa putus asa dari kelapangan dan saat tertimpa musibah?

Karena ketidaktahuannya pula tentang dunia, manusia merasa nyaman dengan dunia dan meminta kesucian yang tidak bisa rusak oleh kekeruhan dengannya. Manusia kadang terlena jika dunia adalah tempatnya ujian dan gangguan, serta menjadi sumber beban dan kesulitan. Akar dunia adalah ujian, sedangkan bagian ujungnya adalah kenikmatan. Dunia itu seperti pohon kesabaran yang buah pertamanya pahit dan buah terakhirnya terasa manis, di mana seseorang tidak bisa merasakan buah yang manis sampai ia mengunyah terlebih dahulu buah yang pahit. Ia tidak akan mendapatkan rasa manis kecuali menahan rasa pahit. Barangsiapa yang dapat bersabar dalam menghadapi ujian dunia, maka dirinya akan dihiasi kenikmatannya.

Jika seseorang hamba bersabar dalam menunaikan semua perintah ALLOOH SWT dan menjauhi larangan-NYA, menerima apa yang ditakdirkan, meneguk berbagai kepahitan dan memikul beban beratnya, menentang hawa nafsu dan meningkatkan keimanannya, maka ALLOOH SWT akan memberikan hidup, ketenangan, kenyamanan dan kemuliaan di akhir usianya. Maka dari itu seyogyanya seorang hamba yang diberi kenikmatan tidak merasa aman dari tipu daya dunia. Janganlah tertipu oleh kenikmatan yang dapat menyebabkan kenikmatan yang langgeng terputus darinya, lupa mensyukurinya, merasa nyaman dengan kenikmatan dan lupa mensyukurinya. Sabda Rosuulullooh SAW,”Kenikmatan itu laksana binatang buas, maka ikatlah ia dengan syukur.”

Cara mensyukuri kenikmatan harta adalah dengan mengakui kenikmatan tersebut dari Sang Pemberi Nikmat yakni ALLOOH SWT, dengan melihat keutamaan dan karunia-NYA, tidak melampaui ketentuan-NYA, dan tidak meninggalkan perintah-NYA. Itulah cara mengikat kenikmatan supaya tidak hilang. Rosuulullooh SAW bersabda,”Barangsiapa diberi sesuatu lalu berterima kasih, diberi cobaan lalu bersabar, didzholimi lalu mengampuni dan berbuat aniaya lalu memohon ampun. Kemudian beliau diam.”
Shohabat berkata,”Kenapa diam Yaa Rosuulullooh?”
Rosuulullooh SAW menjawab,”Mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mengikuti petunjuk.”

Asal dari rasa syukur adalah pengetahuan hamba bahwa kenikmatan yang dirasakannya pada lahir batinnya berasal dari ALLOOH SWT sebagai karunia dan kebaikan-NYA. Termasuk rasa syukur adalah memperbanyak puji syukur kepada ALLOOH Ta’ala dengan lisan . Nabi Muchammad SAW bersabda,”Andaikata seseorang dari umatku diberi dunia seluruhnya, kemudian dia mengucapkan Alchamdulillaah, maka ucapan Alchamdulillaah-nya itu lebih baik dari semua itu.

Termasuk rasa syukur adalah melakukan ketaatan kepada ALLOOH SWT dan menggunakan nikmat-nikmat ALLOOH SWT untuk menaati-NYA dan meletakkan nikmat-nikmat ALLOOH SWT ditempat-tempatnya yang disukai ALLOOH SWT dan itu adalah puncak rasa syukur.

Adapun orang yang diberi cobaan terkadang ia dicoba sebagai bentuk hukuman dan ganti atas kejahatan serta kemaksiatan yang telah dilakukannya. Adakalanya cobaan itu datang untuk menebus dan membersihkan diri dari dosa seorang hamba. Terkadang pula cobaan itu datang guna mengangkat derajat dan mengantarkan ke tempat yang tinggi sehingga ia bisa bergabung dengan para ulama’ yang telah terlebih dahulu mendapatkan perlindungan dari ALLOOH, Tuhan semua makhluq dan alam.

Adapun tanda-tanda cobaan yang merupakan bentuk hukuman dan ganti atas kemaksiatan yang dilakukan adalah orang yang yang mendapatkan cobaan ini tidak bisa bersabar, merasa gelisah, dan mengeluh kepada ALLOOH SWT. Tanda-tanda cobaan yang berfungsi untuk menebus dan menghapus kesalahan adalah orang yang menerima cobaan ini dapat bersabar dengan baik tanpa mengeluh, tidak menampakkan kegelisahan kepada sanak saudaranya, teman dan tetangga, dan tidak merasa bosan menjalankan perintah dan ketaatan. Sedangkan tanda-tanda cobaan berfungsi untuk mengangkat derajat seseorang adalah orang tersebut ridho dan menerimanya dengan lapang dada, tetap tenang sampai cobaan itu hilang seiring dengan berjalannya waktu.


WALLOOHU A’LAM BISH SHOWAAB

0 comments:

Post a Comment