Friday, February 12, 2016

Istighotsah

Istighotsah ialah memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya. Untuk sebagian kelompok muslimin, hali ini langsung divonis syirik. Namun vonis syirik mereka hanyalah karena kedangkalan pemahamannya terhadap syariah Islam.
Pada hakikatnya memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya adalah hal yang diperbolehkan selama ia seorang muslim, mu’min, sholih dan diyakini mempunyai manzilah di sisi ALLOOH SWT. Tak pula terikat ia masih hidup atau telah wafat, karena bila seseorang mengatakan ada perbedaan dalam kehidupan dan kematian atas manfaat dan mudhorot maka justru dirisaukan ia dalam kemusyrikan yang nyata. Karena seluruh manfaat dan mudhorot datangnya dari ALLOOH SWT.
Maka kehidupan dan kematian tak bisa membuat batas dari manfaat dan mudhorot tersebut kecuali dengan izin ALLOOH SWT. Ketika seseorang berkata bahwa orang mati tak bisa memberi manfaat dan orang hidup bisa memberi manfaat, maka ia dirisaukan telah jatuh dalam kekufuran karena menganggap kehidupan adalah sumber manfaat dan kematian adalah mustahilnya manfaat. Padahal manfaat dan mudhorot itu dari ALLOOH SWT, dan kekuasaan ALLOOH SWT tidak bisa dibatasi dengan kehidupan atau kematian.
Sama saja ketika seorang berkata bahwa hanya dokterlah yang bisa menyembuhkan dan tak mungkin kesembuhan datang dari selain dokter, maka ia telah membatasi Qodrat ALLOOH SWT. Untuk memberikan kesembuhan, yang bisa saja lewat dokter, namun tak mustahil dari petani atau sembuh dengan sendirinya.
Terkadang kita tak menyadari bahwa kita lebih banyak mengambil manfaat dalam kehidupan ini dari mereka yang telah mati daripada yang masih hidup, sungguh peradaban manusia, tuntunan ibadah, tuntunan kehidupan, modernisasi dan lain sebagainya. Kesemua para pelopornya telah wafat, dan kita masih terus mengambil manfaat dari mereka, muslim dan non-muslim, seperti teori Einstein dan teori-teori lainnya. Kita masih mengambil manfaat dari yang mati hingga kini, dari ilmu mereka, dari kekuatan mereka, dari jabatan mereka, ataupun dari perjuangan mereka. Cuma bedanya kalau mereka ini kita ambil manfaatnya berupa ilmunya, namun para sholichin, para wali dan muqorrobin kita mengambil manfaat dari imannya dan amal sholichnya serta ketaatannya kepada ALLOOH SWT.
Rosuul SAW memperbolehkan istighotsah, sebagaimana hadits beliau SAW: “Sungguh matahari mendekat di hari kiamat nanti hingga keringat sampai setengah telinga, dan sementara mereka yang dalam keadaan itu mereka beristighotsah (memanggil nama untuk meminta tolong) kepada Nabi Adam AS. Lalu mereka beristighotsah kepada Nabi Musa AS, Nabi Isa AS, dan kesemuanya tak mampu berbuat apa-apa, lalu mereka beristighotsah kepada Nabi Muchammad SAW.” [Shohih Bukhori hadits no.1405]
Masih banyak hadits serupa pada shohih Muslim, yakni hadits no. 194, shohih bukhori hadits no. 3162, 3182, 4435, dan banyak lagi hadits-hadits shohih yang Rosuul SAW menunjukkan ummat manusia beristighotsah ummat manusia beristighotsah pada para Nabi dan Rosuul.
Bahkan riwayat Shohih Bukhori dijelaskan bahwa mereka berkata pada Nabi Adam AS,” Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah dari semua manusia.. dst.. dst.. dan nabi Adam AS berkata: “Diriku.. diriku.., pergilah pada selainku.., hingga akhirnya mereka beristighotsah memanggil-memanggil Nabi Muchammad SAW, dan Nabi SAW sendiri menceritakan ini, dan menunjukkan bahwa beliau tidak mengharomkan istighotsah.
Maka hadits di atas jelas-jelas merupakan rujukan bagi istighotsah, bahwa Rosuul SAW menceritakan orang-orang beristighotsah kepada manusia, dan Rosuul SAW tidak mengatakannya syirik, namun jelaslah istighotsah di hari kiamat ternyata hanya untuk Sayyidina Muchammad SAW. Demikian pula diriwayatkan bahwa di hadapan Sayyidina Ibnu Abbas RA ada seorang yang keram kakinya, lalu berkata Sayyidina Ibnu Abbas RA: “Sebut nama orang yang paling kau cintai..!” Maka berkata orang itu dengan suara keras: “Muchammad..!” Maka dalam sekejap hilanglah sakit keramnya (diriwayatkan oleh Imam Hakim, Ibnu Sunniy, dan diriwayatkan oleh Imam Thobaroni dengan sanad hasan) dan riwayat ini pun diriwayatkan oleh Imam Nawawi pada Al Adzkar.
Jelaslah sudah bahwa riwayat ini justru bukan mengatakan musyrik pada orang yang memanggil nama seseorang saat dalam keadaan tersulitkan, justru Ibnu Abbas RA yang mengajari hal ini.
Kita bisa melihat kejadian Tsunami di Aceh beberapa tahun silam, bagaimana air laut yang setinggi 30 meter dengan kecepatan 300km dan kekuatannya ratusan juta ton, mereka tak menyentuh masjid tua dan makam-makam sholichin, hingga mereka yang lari ke makam sholichin selamat.
Inilah bukti bahwa istighotsah dikehendaki ALLOOH SWT, karena kalau tidak, mengapa ALLOOH SWT jadikan di makam-makam sholih itu terdapat benteng yang tak terlihat membentengi air bah itu, yang itu sebagai isyarat Illahi bahwa demikianlah ALLOOH SWT memuliakan tubuh mereka yang taat kepada-NYA. Tubuh-tubuh tak bernyawa itu ALLOOH jadikan benteng untuk mereka yang hidup. Tubuh yang tak bernyawa itu ALLOOH jadikan sumber Rochmat dan Perlindungan-NYA kepada siapa saja yang berlindung dan lari ke makam mereka.

KESIMPULAN:
Mereka yang lari berlindung pada hamba-hamba ALLOOH SWT yang sholih, mereka selamat. Mereka yang lari ke masjid-masjid tua yang bekas tempat sujudnya orang sholih maka mereka selamat, mereka yang lari dengan mobilnya tidak selamat, mereka yang lari mencari tim SAR tidak selamat. Pertanyaanya adalah : Kenapa ALLOOH jadikan makam sebagai perantara perlindungan-NYA? Kenapa bukan orang yang hidup? kenapa bukan gunung? Kenapa bukan perumahan? Jawabannya ialah bahwa ALLOOH SWT mengajari penduduk bumi ini beristighotsah kepada shoolichin. Walillaahitaufiq
Bukankah anak-anak Nabi Ya’qub AS (kakak-kak Nabi Yusuf AS) meminta pada ayahnya agar ayahnya beristighfar untuk mereka? “Wahai ayah kami tolong mintakan pengampunan kepada ALLOOH untuk kami, sungguh kami telah berbuat salah, maka ia (Nabi Ya’qub AS) berkata: Aku akan memohonkan pengampunan kepada ALLOOH untuk kalian, sungguh Tuhanku Maha Pengampun dan Berkasih Sayang.” [QS. Yusuf : 97-98] Apakah Nabi Yaqub AS ini membenarkan kemusyrikan kepada anak-anaknya?


0 comments:

Post a Comment