Friday, January 1, 2016

Jauhilah Perayaan Malam Tahun Baru Masehi

Perayaan tahun baru Masehi memiliki sejarah panjang. Banyak di antara orang – orang yang ikut merayakan hari itu tidak mengetahui kapan pertama jaku acara tersebut diadakan dan latar belakang mengapa hari itu dirakan. Kegiatan ini merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi.
Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan hari yang istimewa itu untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, anda Beeginnings. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap kedepan dan satu nya lagi menatap kebelakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya pergantian tahun. (G Capdeville “Les epithets cultuels de Janus” in Melages de I’ecole francaise de Rome (Antiquite), hal 399-400.
Fakta ini menyimpulkan  bahwa perayaan tahun baru sama sekali tidak berasal dari budaya kaum muslimin. Pesta tahun baru masehi, pertama kali dirayakan oleh orang Romawi. Acara ini terus dirayakan oleh masyarakat modern dewasa ini, walaupun mereka mengetahui spirit ibadah pagan adalah latar belakang diadakan acara ini.
Mereka menyemarakkan hari itu dengab berbagai permainan, menikmati indahnya lagit degna semarak cahaya kembang api, dsb. Larangan Mengikuti Perayaan Tahun Baru Masehi/ Turut merayakan tahun baru statusnya sama dengan merayakan hari raya orang non muslim. Dan ini hukumnya terlarang. Nabi ShallaLLoohu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk meniru kebiasaan orang non muslim. Beliau bersabda,
“Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka  dia termasuk bagian dari kaum tersebut” (Hadist shahih riwayat Abu Daud)
“Saudara-saudaraku jauhilah perayaaan tahun baru, malam 1 Januari adalah mala paling banyak maksiat umat Muhammad SAW di muka bumi dalam setahun penuh, malam itu boleh kita namakan : “Malam kegelapan dosa dimuka bumi”
Dimana panggung-panggung kemaksiatan ditegakkan, lalu ribuan manusia berjingkrak-jingkrak ria dan mabuk-mabukan, berjooget diatas Bumi ALLooh disaksikan oleh seluruh jutaan bintang dilangit, disaksikan oleh jutaan sel tubuhnya yang ikut terlibat dalam gemilang dosa, dan disaksikan oleh Maha Raja Yang Maha Melihat, Yang Maha Menghamparkan Bumi untuk bersujud kepadaNya.
Merayakan hari ummat yang telah memfitnah  Nya mempunyai putra, barangkali arwah ayah ibu mereka menangis, menjerit -jerit karena disiksa di alam kubur sebab perbuatan mereka, sedang anak -anaknya berjingkrak-jingkrak joget diatas bumi ALLooh SWT dalam kemaksiatan.
Fenomena perayaan tahun baru Mesehi oleh umat muslim merupakan pertanda bahwa umat islam sudah tidak kenal dengan islamnya.
Setiap pergantian tahun baru Masehi (1 Januari) saudara-saudara muslimin ikut berhura-hura merayakan tahun baru orang lain. Mereka lebih mengenal lambing-lambang kebesaran agama diluar islam. Inilah gejala mulai terindukasi nilai-nilai keislaman dari umat islam itu sendiri.
Tahun baru identik sebagai rangkaian dari perayaan Natal. Merayakan tahun baru berarti sama dengan merayakan Natal, dan itu hukumnya Haram. Beberapa alasan yang mengukuhkan, antara lain:
Pertama, melakukan (merayakannya) berarti membesarkan syiar kaum Nasrani. Kedua, ada unsur tasyabuh (meniru atau menyerupai). Ketiga, ada unsur untuk memperbanyak anggota suatu kaum (diluar Islam). Hal ini bertentangan dengan hadist Nabi SAW yang artinya:
“Orang yang memperbanyak komunitas suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari kaum itu”. Juga termasuk hadist lain: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum berarti bagian dari kaum tsb.”
Yang perlu diwaspadai dan juga sudah sangat memprihatinkan, perayaan tahun baru rawan dengan berbagai kemungkaran, diantaranya pesta minuman keras, berhura-hura, dan sebagainya.
Tahun baru Masehi bukanlah tahun baru umat Islam, jadi kita tidak perlu ikut-ikutan untuk merayakannya. Bahkan para ulama’ sepakat Haram merayakannya. Umat Islam diwajibkan menjauhi dan menghindari segala bentuk perayaan Tahun Baru Masehi. Kita disarankan dan dianjurkan untuk merayakan Tahun Baru Islam/ Hijriyah dengan berbagai amal ibadah yang disunnahkan, baik HablumminaLLooh maupun Hablum Minannaas. Jangan sampai kita terperosok dalam tasyabah (menyerupai) bahkan menjadi bagian dari golongan mereka,
Na’udzubillaah min dzalik.
Semoga ALLooh SAW memberikan hidayah dan kemudahan kepada kita dalam beramal sholih, . Amiin ya rabbal ‘alamin.

0 comments:

Post a Comment