Monday, November 23, 2015

Tentang Bulan Shofar

Sekarang ini kita telah memasuki bulan Shofar, bulan kedua dari penanggalan Hijriah.
Oleh sebagian ulama, bulan Shofar ini diberi julukan Shofarul Khoir, artinya Shofar yang penuh kebaikan.
Kenapa dinamakan demikian?
Karena umumnya orang awam menyangka bahwa shofar adalah bulan sial  atau penuh dengan bala (bencana). Sehingga unutk membulat rasa optimis umat islam maka dinamakan SHofatul Khoir. Sehingga bulan Shofat tidak terkesan menakutkan apalagi dipercaya sebagai bulan kesialan.
Padahal setiap bulan-bulan Islam memiliki kekhususan dan keistimewaan sendiri-sendiri, demikian pula bulan Shafar.
Pada dasarnya hari dan bulan dalam satu tahun adalah sama. Tidak ada hari atau bulan tertentu yang membahayakan atau membawa kesialan. Keselamatan dan kesialan pada hakikatnya hanya kembali kepada ketentuan Allah.
Pada masa jahiliyah, orang arab bernggapan bahwa bulan Shofar merupakan bulan yang tidak baik. Bulan yang banyak bencana dan musibah, sehingga orang arab pada masa itu menunda segala aktivitas pada bulan Shofar karena takut tertimpa bencana.
Begitu juga dalam tradisi kejawen, banyaj hitungan-hitungan yang digunakan untuk menentukan hari baik dan hari tidak baik, hari keberuntungan dan hari kesialan.
Lalu bagaimana menurut syariah Islam?
Dalam hadist riwayat BukhariMuslim, RosuluLLooh SAW meluruskan dan menjelaskan hal – hal  yang merupakan penyimpangan aqidah itu. RosuluLLooh bersabda:
“Tidak ada penularan penyakit, tidak diperbolehkan meramalkan adanya hal-hal buruk, tidak boleh berprasangka buruk, dan tidak ada keburkan dalam Shofar”
Kemudian seeorang A’roby (penduduk pedesaan Arab), bertanya kepada RasuluLLoh: “Wahai RasuluLLoh, lalu bagaiman dengan onta yang semula sehat kemudian berkumpul dengan onta yang kudisan kulitnya, sehingga onta tersebut menjadi kudisan pula? “
Kemudian RasuluLLoh menjawab dengan sebuah pertanyaan?
“Lalus siapa yang menularkan (kudis)pada onta yang pertama”
Ungkapan hadist Ilaa “adwaa’ atau tidak ada penularan penyakit itu , bermaksude meluruskan  keyakinan kaum jahiliyah. Pada saat itu mereka berkeyakinan bahwa penyakit itu dapat menular dengan sendirinya tanpa bersandar pada ketentuan dari takdir ilayhiyah.
Oleh sebab itu , untuk meluruskan keyakinan mereka, RasuluLLoh perntanyaan mereka dengan pertanyaan pula. Jika penyakit kudis onta yang sehat berasal dari onta  yang sudah kudisan, onta yang kudisan dari orang lain, kemudian siapa yang menularkan kudis  pada onta yang pertama kali terkena penyakit kudis?
Sakit atau sehat, musbah atau selamat, semua kembali kepada kehandak ALLoh SWT. Penularan hanyalah senuah saran  berjalannnya takdir ALLoh. Namun walaupun kesmuanya kembalu kepada ALLoh, bukan semata – mata sebaba penularan, manusia tetap diwahibkan untuk ikhtiar adan berusaha agar terhindar dari sagala musibah.Dalam kesempatan yang lain RosuluLLoh bersabda:
“Janganlah onta yang sakit didatangkan pada onta yang sehat”. Dalam hadist yang lain disebutkan:
“Larilah dari orang yang sakit lepra, seperti kamu dari singa.”
Maksud hadist laa thiyaarota atau tidak diperboleh meramal adanya hal-hal buruk adalah bahwa sandaran tawakal manusia itu hanya kepada makhluk atau ramalan. Karena hanyalah ALLoh yang menentukan baik dan buruk, selamat dan sial, kaya atau miskin.
Pada masa peradaban Jahiliyyah, mereka menggantungkan nasib baik dab buruk pada kepakan sayap seekor burung. Jika mereka akan berpergian atau aktivitas lain, mereka melepaskan seekor burung. Apabila burung terbang kea rah kanan atau belok kanan atau belok kearah kanan, maka pertanda nasib baik dan mereka meneruskan perjanannya. Begitu sebaliknya, jika burung pergi keaarah kiri atau belok kiri, maka pertanda nasib buruk dan merek akan engurungkan niat pernjalannya., karena merka meyakini bahwa hal itu pertanda.
Dalam hadist riwayat Imam Thobroni, RosuluLLoh SAW bersabda “Tidak mendapat derajat tinggi orang yang pegi ke dukun, orang bersumpah untuk kepentingan pribadi atau orang yang kembali  atau tidak bepergian karena ramalan.
Maksude hadist waal hammata adalah tidak baik dalam berprasangka buruk akan datangnya bencana atau musibah. Ketika itu orang Arab mempercayai, ”Jika dimalam hari ada burung hantu terbang diatas rumahnya, maka itu menandakan aka ada yang meninggal dunia.
Mereka juga mempercayai, jika adanya pebunuhan yang belum terbalaskan, kemudian malam harinya ada burung hantu terbang diatas rumahnya, itu menandakan ruh dari orang yang dibunuh masih belum bisa tenang, masih melayang –layang menurut pebalasan. Pemahaman dan kepercayaan semacam ini amat sangat keliru, sehingga RosuluLLoh meluruskan dengan hadist diatas.
Walaa Shafara atau tidak ada keburukan pada bulan Shofar. Hadist tersebut untuk mematahkan keyakinan yang keliru dikalangan Jahiliyah. Mereka menganggap bahwa bulan Shofar merupakan bulan yang kurang baik, yang banyak musibah dan bencana, sehingga mereka menilai dan berprasangka buruk terhadap bulan Shofar.
Menurut Islam, Semua bulan dan hari itu baik, masing-masing mempunyai sejarah, keistimewaan dan peristiwa sendiri-sendiri. Jika bulan tertentu mempunyai sisi nilai keutamaan yang lebih, bukan berarti bulan yang lain merupakan bulan buruk. Misalnya, dalam bulan Romadlon ada peristiwa Nuzul Al Qur’an dan Lailat al Qodar, dalam bulan Rajab ada Isro’ Mi’roj dan dalam bulan Robi’ul Awal ada peristiwa Maulid atau kelahiran RosuluLLoh SAW dan lain-lain.
Jikalau ada kejadian tragis atau peristiwa yang memilukan dalam sebuah bulan, itu bukan berarti bulan tersebut merupakan bulan musibah atau bulan yang penuh kesialan. Namun kita harus pandai-pandai mencari hikmah dibalik peristiwa itu, dan amaliyah apa yang harus dilakukan sehingga terhindar dan selamat dari berbagai musibah.

                                                                                                            WaLLoohu A’lam

0 comments:

Post a Comment