“Niat saleh” adalah kecenderungan dan
keinginan hati untuk berbuat baik. Suara hati merupakan sumber dan penyebab
pertama timbulnya niat. Niat adalah ruhnya amal, seperti ruh bagi jasad, dan
hujan bagi bumi.
Barang
siapa yang niat dan tujuannya untuk ALLOOH dan Rosul-NYA, maka ia memiliki niat
yang saleh. Karena itulah beliau RA berkata, “carilah selalu niat-niat saleh!”
Niat
ada yang saleh dan ada yang buruk. Dalam suatu amal kadang kala diperoleh niat
yang banyak. Rosuulullooh SAW bersabda, “Sesungguhnya
amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya seseorang itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan
niatnya.”
Niat
yang baik akan membuahkan amal yang baik, sedangkan niat yang buruk akan
mengakibatkan amal yang buruk.
ALLOOH
berfirman : “Padahal mereka tidak
diperintahkan melainkan supaya menyembah ALLOOH dengan mengikhlaskan ibadah
kepada-NYA.” (QS Al Bayyinah, 98:5) Yakni,
dengan niat yang ikhlas untuk ALLOOH. Niat juga merupakan salah satu sebab
untuk memperoleh taufik: Jika kedua juru pendamai itu berniat mengadakan
perbaikan, niscaya ALLOOH member taufik kepada suami istri itu (untuk
berdamai). (QS An-Nisa’, 4:35)
Nabi
Shollalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Barang
siapa berniat melakukan kebajikan, namun ia tidak mengamalkannya, ALLOOH akan
mencatat kebajikan baginya.” Dan sabda beliau lagi : “Mereka kelak dikumpulkan berdasarkan niat mereka.”
` Imam
At-Tsauri berkata, “Dahulu mereka
mempelajari niat untuk beramal sebagaimana mereka mempelajari amal.”
Dan
diriwayatkan dalam kitab Taurot bahwa ALLOOH Ta’ala berfirman, “Segala sesuatu yang diniatkan untuk-KU, maka
sedikitnya adalah banyak. Dan segala sesuatu yang ditujukan kepada selain Aku,
maka banyaknya adalah sedikit.”
Bilal bin Sa’ad
berkata,”Sesungguhnya seorang hamba akan
mengucapkan ucapan seseorang mukmin, maka ALLOOH tidak akan membiarkannya
sebelum menyaksikan amalnya, jika ia mengamalkannya maka ALLOOH tidak akan
membiarkannya sebelum menyaksikan niatnya, jika niatnya baik maka ALLOOH akan
memperbaiki kelemahan amalnya.”
Niat adalah
tiangnya amal, oleh karena itu amal sangat membutuhkan niat. Nabi SAW bersabda:
“Niat seorang mukmin lebih baik daripada
amalnya.” Hati adalah pengawas yang ditaati dan niat adalah amal hati.
Amal
tanpa niat yang saleh, tidak akan bermanfaat, dan amal dengan niat yang buruk,
akan mencelakakan.
Banyaknya
niat tergantung pada banyaknya usaha untuk berbuat kebaikan, keluasan ilmu dan
ketekunan dalam menghimpun berbagai niat yang baik. Dan banyaknya niat dapat
menyucikan dan melipat-gandakan amal. Namun maksiat akan tetap maksiat, karena
niat baik tidak akan dapat merubahnya.
Berbagai
amal yang mubah, dengan niat yang benar dari seorang yang sidq, dapat menjadi
sebaik-baik pendekatan diri kepada ALLOOH. Mereka yang selalu disibukkan dengan
urusan keduniaan, niat-niat saleh tersebut tidak akan terlintas dalam benak
mereka. Jika mereka mengaku memiliki suatu niat baik, ketahuilah, sesungguhnya
itu hanyalah bisikan hati, bukan niat.
Saat
melaksanakan atau meninggalkan suatu amal harus disertai dengan niat yang baik,
karena meninggalkan suatu amal adalah amal juga. Oleh karena itu, jangan sampai
hawa nafsu yang tersembunyi menjadi penggerak suatu amal. Karena alas an inilah
beberapa sufi urung melaksanakan suatu ketaatan, karena gagal menetapkan niat
yang baik.
Niat
adalah fath dari ALLOOH yang pada dasarnya tidak bisa diusahakan. Niat yang
baik ini oleh ALLOOH Ta’ala dianugerahkan kepada orang-orang yang berhati suci, memiliki ilmu yang luas dan
selalu disibukkan dengan ajaran ALLOOH, bukan orang-orang seperti kita. Kita ini
tidak mudah untuk berniat baik walaupun dalam melaksanakan yang wajib, kecuali
setelah berusaha dengan susah payah. WALLOOHU A’LAM.
0 comments:
Post a Comment