Berkata Sayyidina
Robi’ah bin Ka’ab RA, aku pernah berhari-hari menginap di kediaman Rosuul SAW,
dan aku membawakan air wudhu’ untuk Beliau SAW dan hajat-hajat Beliau SAW, maka
Beliau SAW bersabda : Mintalah...|, maka aku berkata : aku minta padamu untuk
bisa menemanimu di surga!, maka Rosuul SAW bersabda: adakah permintaan yang lainnya?, aku berkata :
itu saja. Maka Rosuul SAW bersabda : Bantulah aku untuk dirimu sendiri dengan
memperbanyak sujud. [Shohih Muslim]
Jelas
sudah bahwa Rosuul SAW membolehkan minta pada makhluq, bahkan Rosuul SAW
menyuruh Robi’ah minta pada Beliau SAW, dan Robi’ah meminta dekat dengan Rosuul
SAW di surga pada Rosuul SAW, dan Rosuul SAW tidak menolaknya, namun Beliau SAW
meminta Robi’ah juga memperbanyak sujud, bukan melarang, apalagi mengatakan
musyrik.
Menikah
dengan Jin diperbolehkan dalam seluruh madzhab, berteman dengan Jin telah
dijelaskan bahwa Jin itu tidak semuanya musyrik, ada yang sholih dan ada yang
fasiq, silahkan merujuk pada surat Al Jin, dan yang dilarang adalah menyembah
Jin itu, atau memperbudaknya.
Meminta
pertolongan pada selain ALLOOH SWT boleh saja selama tak melanggar syariah
Rosuul SAW. Jelas bahwa larangan ALLOOH SWT menyembah pada selain ALLOOH SWT,
bukan melarang tawassul atau meminta bantuan pada makhluq.
Bukankah
anak-anak Nabi Ya’qub AS (kakak dari Nabi Yusuf AS) meminta pada ayahnya agar
ayahnya beristighfar untuk mereka?, “ Wahai ayah kami tolong mintakan
pengampunan pada ALLOOH SWT untuk kami, sungguh kami telah berbuat salah, maka
ia (Nabi Ya’qub AS) berkata : Aku akan memohonkan pengampunan pada ALLOOH SWT
untuk kalian, sungguh Tuhanku Maha Pengampun dan Berkasih Sayang.” [QS. Yusu:97-98]
Apakah
Nabi Ya’qub AS ini membenarkan kemusyrikan anak-anaknya? Kenapa mereka meminta
untuk diistighfarkan oleh ayahnya? Kenapa berperantara pada ayahnya? Kenapa tidak
langsung saja beristighfar kepada ALLOOH? Kenapa ALLOOH menyebut ayat ini dala
Al-Qur’an?
Bukankah
perbuatan ini ditiru oleh para sahabat RA lalu ALLOOH SWT memuji mereka? “Ketika
mereka telah berbuat dzholim atas diri mereka sendiri lalu mereka datang padamu
(Wahai Muchammad), lalu mereka beristighfar pada ALLOOH di depanmu, lalu Rosuul
SAW beristighfar untuk mereka, maka mereka akan dapati ALLOOH Yang Maha Menerima
taubat mereka dan Maha Berkasih sayang.” [QS. An Nisa’: 64]
Al
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil syarah ayat ini diriwayatkan oleh Imam
Al Uthby bahwa ia sedang duduk di makam Rosuul SAW, lalu datang seseorang dan
berkata : “Salam sejahtera wahai Rosuulullooh, aku dengan firman ALLOOH SWT
yang berbunyi : “Ketika mereka telah berbuat dzholim atas diri mereka sendiri
lalu mereka datang padamu (wahai Muchammad), lalu merekaa beristighfar untuk
mereka, maka mereka akan dapati ALLOOH Maha Menerima taubat mereka dan berkasih
sayang.” Dan kini aku datang padamu wahai Nabi, beristighfar di hadapaanmu atas
dosa-dosaku, dan minta syafa’at padamu kepada Tuhanku.”
Lalu
pria itu pergi dan aku (Al Uthby) tertidur, dan aku bermimpi Rosuul SAW dan berkata
: “Wahai Uthby, kejar orang itu,katakan padanya bahwa ALLOOH SWT sudah
mengampuninya.” (Tafsir Imam Ibnu Katsir QS. An-Nisa : 64]
Sebagaimana kita
ketahui bahwa Imam Ibnu Katsir adalah murid Ibnu Taimiyah, dan fatwa Imam Ibnu
Katsir sangat dipakai oleh para kalangan anti maulid, namun lihat sendiri bahwa
Imam Ibnu Katsir sangat dipakai oleh para kalangan anti maulid, namun dapat dilihat
sendiri bahwa Imam Ibnu Katsir ini memperbolehkan meminta kepada ahli kubur,
demikian pula Al Imam Nawawi, dan sama sekali tak menyebutkan bahwa perbuatan
itu syirik.
WALLOOHU A'LAM BISH SHOWAAB
0 comments:
Post a Comment